Keramika 2018

Jurus Industriawan Keramik Nasional Hadapi Gempuran Impor

Rizkie Fauzian 01 Maret 2018 16:02 WIB
pameran keramikaindustri keramikkeramik
Jurus Industriawan Keramik Nasional Hadapi Gempuran Impor
Seorang pekerja industri kemarik rumahan di Kiaracondong, Bandung, sedang beraktifitas, file/Antara Foto/Agung Rajasa
Jakarta: Industri keramik lokal beberapa tahun terakhir terpukul karena gempuran keramik murah meriah made in China dan Vietnam. Padahal produsen dari negara-negara lain juga serius ingin memasukkan keramiknya ke pasar Indonesia yang menggiurkan.  

Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) pun mengingat pemerintah agar tidak melupakan dukungan kepada pengusaha dalam negeri di tengah era pasar bebas.  Pada saat bersamaan mendorong industriawan keramik nasional menjaga kualitas produksi dan menjajagi pasar ekspor yang baru.


Ajang tahunan Keramika 2018 diharapkan bisa digunakan sebagai penjajakan pasar global. Masyarakat juga dapat mengetahui inovasi dan desain terkini produk keramik dalam negeri. Pameran yang berlangsung pada 15-18 Maret 2018 ini akan digelar di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta.

"Tahun ini ada enam manufaktur yang ikut pameran, bahkan sanitary tidak," ujar Ketua Umum Asaki, Elisa Sinaga, kepada wartawan di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (28/2/2018).

Menurutnya saat ini kondisi memang berat bagi pelaku industri keramik sehingga mereka  memutuskan tidak berpartisipasi dahulu dalam Keramika 2018. Serbuan keramik murmer dari Tiongkok dan Vietnam, menyebabkan permintaan pasar melemah dan produksi pun menurun.



Namun demikian Elisa optimis peluang bagi produk dalam negeri untuk bersaing di pasar dalam negeri masih sangat terbuka. Pertumbuhan ekonomi yang stabil dan munculnya perumahan-perumahan baru di berbagai daerah merupakan peluang setidaknya bagi produk kemarik untuk lantai, sanitary dan atap.
 
Melalui ajang Keramika 2018 diharapkan bisa menghasilkan peluang bisnis di industri keramik. Pameran ini juga merupakan wujud nyata komitmen dari Asaki untuk terus menggiatkan dan memperkenalkan industri keramik Indonesia ke pasar dunia.

"Kita juga harus bangga dengan keramik produksi dalam negeri. Jangan kasih kesempatan asing masuk ke dalam negeri. Mungkin suatu saat kita bisa membukanya kembali setelah kondisi produsen dalam negerinya siap," sambungnya.

 



(LHE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id