Hunian tetap yang dibangun Kementerian PUPR untuk korban bencana. Foto: Kementerian PUPR
Hunian tetap yang dibangun Kementerian PUPR untuk korban bencana. Foto: Kementerian PUPR

712 Hunian Korban Bencana di Sulteng Pakai Teknologi Tahan Gempa

Antara • 30 September 2022 10:59
Palu: Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan (BP2P) Sulawesi II menggunakan teknologi tahan gempa saat membangun 712 unit hunian tetap (Huntap). Rumah tersebut diperuntukkan bagi warga di Kota Palu dan Kabupaten Donggala yang rumahnya rusak berat karena terdampak gempa, tsunami dan likuefaksi pada 2018.
 
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Huntap BP2P Sulawesi II Zulfahmi mengatakan bahwa penggunaan teknologi tahan gempa pada hunian tetap permanen untuk warga yang rumahnya rusak berat terdampak gempa, tsunami dan likuefaksi, bentuk komitmen Kementerian PUPR melalui BP2P Sulawesi II dalam memastikan keamanan bangunan.
 
"Kami ingin memastikan sekaligus menjawab kerisauan warga terkait dengan ketahanan dan keamanan hunian. Oleh karena itu, kami menggunakan teknologi tahan gempa dalam pembangunan 712 unit hunian tetap," ucap Zulfahmi di Palu dikutip dari Antara, Jumat, 30 September 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Zulfahmi mengatakan pembangunan 712 unit hunian tetap menggunakan teknologi rumah instan sederhana sehat (Risha). Menurutnya, teknologi Risha adalah perwujudan sebuah rumah dengan desain modular.
 
Desain modular yakni konsep yang membagi sistem menjadi bagian-bagian kecil (modul) dengan ukuran yang efisien agar dapat dirakit menjadi sejumlah besar produk yang berbeda-beda. Desain bangunan rumah dengan sistem modular ini dapat diubah-ubah atau dikembangkan sesuai dengan keinginan atau kebutuhan penghuninya.
 
Produk Risha tersebut dibuat di Palu oleh kontraktor pemenang tender pembangunan huntap, sehingga memudahkan BP2P Sulawesi II mengontrol langsung.
 
Baca juga: 712 Huntap Tahap II di Sulteng Bisa Digunakan Tahun Depan

"Kami selalu mengecek langsung ke lapangan, terkait spesifikasi dan kualitas dari teknologi Risha yang digunakan. Di lapangan, kami temukan ada beberapa produk yang kami larang untuk digunakan, karena tidak sesuai dengan spesifikasi dan standar mutu yang kami terapkan," ujarnya.
 
"Kami mengawal langsung, mulai dari perakitan, pembesian, pembuatan panel dan seterusnya, semuanya kami kawal untuk memastikan kualitas mutu yang kami inginkan," sebutnya.
 
Berdasarkan data BP2P Sulawesi II, pembangunan 712 unit huntap tersebut, merupakan pembangunan tahap dua A dengan anggaran sebesar Rp120 miliar lebih.
 
Proyek pembangunan hunian tetap itu membutuhkan waktu 365 hari, dengan kontraktor pelaksana pekerjaan PT Wijaya Karya Beton dan PT Murni Konstruksi Indonesia, sementara teknikal manajemen konsultan adalah PT Indah Karya dan PT Widya Graha Asana.
 
Huntap tahap dua A tersebut, untuk Kabupaten Donggala dibangun di Desa Lende, Tompe, Wani, Lende Ntovea, Tanjung Padang, Ganti, Lompio, dan Loli Dondo. Sedangkan di Kota Palu, hunian yang dibangun adalah hunian mandiri atau lahan pembangunannya disiapkan oleh warga calon penerima manfaat.
 
Zulfahmi mengatakan pihaknya berupaya agar pembangunan huntap tersebut dapat selesai lebih cepat dari target yang ditentukan.
 
"Dalam kontrak kerja pembangunan selesai pada Juli 2023. Tetapi, kami berupaya agar 712 unit huntap tersebut dapat selesai pada Desember 2022," ucapnya.
 
Ia menambahkan saat ini pembangunan 712 unit huntap tersebut telah dimulai, dimana kontrak pelaksana mulai membangun konstruksi dengan menggunakan teknologi Risha.
 
(KIE)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif