Tingkat pengajuan KPR masih rendah. Foto: Shutterstock
Tingkat pengajuan KPR masih rendah. Foto: Shutterstock

Banyak Pengajuan KPR Ditolak, Bukti Edukasi Finansial Masih Kurang

Rizkie Fauzian • 14 April 2022 11:26
Jakarta: Tingkat pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang disetujui perbankan masih berkisar pada rata-rata 19,80 persen dalam periode Januari-Maret 2022. Hal ini menunjukan bahwa pelaku sektor properti masih memiliki peran penting dalam mengedukasi para calon pembeli dengan literasi finansial memadai terutama sebelum melakukan proses pengajuan KPR pada bank.
 
Hal ini terjadi di tengah gencarnya pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang telah mengalokasikan dana Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sebesar Rp23 triliun untuk membantu masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) untuk mensubsidi pembelian rumah melalui penyaluran KPR ke beberapa bank.
 
Ini menandakan bahwa selain pentingnya sinergi pemerintah dengan pengembang Indonesia dalam menyediakan alternatif perumahan dengan harga terjangkau, developer, agen properti, dan bank memiliki peran penting dalam mengedukasi masyarakat dengan literasi finansial memadai agar mereka lebih paham mengenai kondisi finansial mereka masing-masing.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Disini pemegang kepentingan sektor properti harus lebih mempertimbangkan penyampaian informasi mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan secara finansial sebelum pengajuan KPR lewat bank kepada seluruh calon pembeli properti. Ini menunjukan bahwa pengembang dan agen properti harus lebih siap memainkan peran proaktif dalam bagian edukasi publik,” kata CEO Lamudi.co.id Mart Polman dalam keterangan tertulis, Kamis, 14 April 2022.
 
Literasi finansial yang dimaksud antara lain berupa penentuan budget mengenai rumah yang ingin dibeli, pengetahuan mengenai uang muka minimal dan tenor KPR, pelunasan terhadap semua cicilan kredit yang masih tertunggak, pengetahuan tentang manajemen keuangan dan pengetahuan mengenai pentingnya asuransi properti. 
 
“Ini semua harus berhasil dikomunikasikan melalui jasa konsultasi tepercaya, disini pengembang dan agen harus beradaptasi dengan tuntutan pasar baru dimana ketersediaan informasi memadai memiliki korelasi langsung terhadap pemasaran properti,” jelasnya.
 
Generasi milenial dan generasi Z merupakan klasifikasi demografi  pencari properti utama dalam platform Lamudi.co.id atau 53,2 persen. Generasi milenial dan generasi Z inilah merupakan pencari properti pertama yang semakin menuntut mudahnya akses informasi terhadap pencarian properti terutama dalam segi pembiayaan rumah. Generasi ini juga memiliki tingkat penghasilan yang beragam.
 
Menurut data dari Kementerian Keuangan, pembangunan rumah harga terjangkau untuk MBR masih berada pada tahap 56,75 persen dari 70 persen yang ditargetkan pada tahun 2024 yang setara dengan 11 juta rumah tangga.
 
“Ini merupakan kesempatan bagi kami, pelaku sektor properti untuk mencari solusi jangka panjang dalam meningkatkan akses terhadap kepemilikan properti terutama dalam segi edukasi. Kami memastikan bahwa jaringan agen yang bekerja dengan kami dibekali dengan kemampuan konsultasi properti yang menggabungkan pengetahuan pasar properti dan strategi pemasaran digital. Ini dilatarbelakangi oleh keinginan kami untuk mempermudah pengalaman pencarian properti semua orang melalui layanan satu atap,” ungkap Mart.
 
Lamudi.co.id kini telah bermitra dengan lebih dari 15 ribu jaringan agen properti yang dilengkapi dengan kemampuan konsultasi finansial untuk mendukung literasi keuangan para calon pembeli properti. Dalam mempermudah perjalanan pencarian properti bagi semua, tenaga agen Lamudi.co.id telah dibekali dengan literasi digital memadai dalam utilisasi data online.
 
(KIE)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif