Percepat Realisasi Sejuta Rumah, Risha & Rika Dikerahkan
Proyek pembangunan perumahan murah bagi nelayan di Jepara, Jawa Tengah, juga menggunakan teknologi Risha. Antara Foto/Yusuf Nugroho
Jakarta: Pemerintah telah menerapkan penggunaan teknologi terbaru di bidang perumahan untuk mendorong capaian Program Satu Juta Rumah untuk masyarakat Indonesia. Di antaranya adalah Risha dan Rika yang juga diperuntukkan bagi pembangunan kembali rumah warga korban gempa Lombok dan Palu.

"Pemanfaatan teknologi di bidang perumahan perlu untuk meningkatkan kualitas perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah," ujar Direktur Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR Khalawi Abdul Hamid di Bogor.


Beberapa teknologi yang telah diterapkan untuk pembangunan perumahan bagi masyarakat antara lain, Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA), industrialisasi prefabrikasi, dan penggunaan precast.

Sub-reservoir

Teknologi sub-reservoir merupakan konsep pengembangan zero run off, dimana air hujan dari atap rumah ataupun bangunan dapat tertahan hingga 100 persen. Air yang diserap dan ditampung kemudian diolah menjadi air baku yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari.

Teknologi ini telah diimplementasikan pada Gedung Graha Wiksa Praniti sebagai pilot project percontohan teknologi terapan yang dirancang dengan konsep green building, pengolahan air limbah dan pengolahan IPAL terpadu untuk mendukung upaya pemerintah dalam ketahanan air, yakni simpan, hemat dan daur ulang air.

Risha

Risha menggunakan teknologi konstruksi yang dinamakan knock down. Dengan teknologi tersebut maka rumah bisa dibangunan dengan lebih cepat. Risha ini dibangun pada dua tempat yaitu industri komponen dan installing di site.

Prefabrikasi merupakan industrialisasi metode konstruksi di mana komponen-komponennya diproduksi secara massal dirakit dalam bangunan dengan bantuan crane dan alat-alat pengangkat.

Teknologi ini dibuat dari beton melalui precast units atau precast numbers atau precast elements (unit cetakan) tergantung pada alternatif penggunaannya.

Pada struktur Risha digunakan beton bertulang. Alasannya, meski proses pembangunan Risha sangat cepat namun kualitas bangunan tetap sesuai dengan standar yang ditentukan.

Sementara precast atau beton pracetak adalah sebuah produk yang terbuat dari material beton yang proses pembuatannya dilakukan di pabrik. Ketiga teknologi tersebut digunakan untuk mempercepat pembangunan sebuah hunian.

Penggunaan ketiga teknologi tersebut biasanya digunakan untuk membangun hunian di kawasan yang terdampak bencana alam. Misalnya tsunami di Aceh jumlah yang terbangun lebih dari 10 ribu unit. Saat ini, konstruksi dengan teknologi tersebut sedang diterapkan untuk memenuhi kebutuhan hunian masyarakat di Lombok, NTB.


Kegiatan pembuatan beton pra-cetak untuk Risha bagi warga korban gempa Lombok. Penggunaan beton pra-cetak membuat proses pembangunan rumah lebih cepat dan murah. Antara Foto/Ahmad Subaidi

Rika

Selain Risha, Kementerian PUPR juga mengembangkan Rumah Kayu Instan (Rika) yang berbahan dasar dari kayu kelas rendah cepat tumbuh seperti sengon, karet dan akasia mangium. Kayu tersebut kemudian diolah sehingga kekuatannya setara dengan kayu kualitas pertama.

Prosesnya diperkuat dengan sistem laminated veneer lumber (LVL), semacam proses perekatan pada kayu lapis sehingga kayu biasa memiliki kekuatan yang sangat keras. Proses LVL juga menghilangkan semua kelemahan kayu seperti lapuk, rawan rayap, kuat tekan, dan sebagainya.

Berbeda dengan Risha, rumah kayu ini memiliki berat yang lebih ringan. Risha menggunakan beton sehingga beratnya mencapai 2,4 ton per m3, sedangkan Rika hanya 0,5 ton per m3.

Untuk harganya, rata-rata Risha dibandrol Rp50 juta untuk rumah tipe 36 m2 sedangkan Rika tergantung kayunya, namun untuk rangkanya saja rata-rata Rp26 juta untuk tipe 36 meter persegi.

Rumah instan tersebut diterapkan di daerah rawan yaitu Sumatera Barat, Yogyakarta dan Jawa Timur. Selain itu digunakan dalam rehabilitasi gempa Lombok.

"Kami berharap inovasi serta teknologi baru di sektor perumahan yang diutamakan dapat menghasilkan bahan bangunan yang lebih murah, berkualitas, dan cepat, namun tetap melalui serangkaian pengujian sehingga hasilnya benar-benar berkualitas," ungkap Khalawi.



 



(LHE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id