Demi menarik pengunjung, pengelola Pondok Indah Mall menyulap lantai dasar atriumnya menjadi arena ice skating pada Natal 2018 silam. Antara Foto/Dede Rizky Permana
Demi menarik pengunjung, pengelola Pondok Indah Mall menyulap lantai dasar atriumnya menjadi arena ice skating pada Natal 2018 silam. Antara Foto/Dede Rizky Permana

Mengenal Podium Ritel dan Evolusinya

Properti
Rizkie Fauzian • 16 Januari 2019 15:16
Jakarta: Beberapa dekade terakhir pusat perbelanjaan di Jakarta telah berkembang pesat. Namun perkembangan teknologi informasi dan inovasi mengubah lanskap pusat berbelanjaan retail yang mengancam bisnis tersebut.
 
Menurut laporan Savills World Research berjudul "Market Trends. Jakarta Retail Evolution", masuknya pasar e-commerce ditambah dengan pergeseran gaya hidup urban. Ini menuntut pengembang harus lebih kreatif mencari konsep pusat perbelanjaan yang tidak cuma menarik pengunjung berdatangan, tapi juga berbelanja.
 
Belakangan muncul istilah podium ritel, yaitu sebutan untuk pusat perbelanjaan yang lokasinya berada di antara hunian, perkantoran, hingga hotel. Podium ritel ini umumnya ditemukan di kota-kota besar dengan harga lahan tinggi.

Evolusi pusat perbelanjaan Jakarta


Munculnya pusatnya perbelanjaan modern di Jakarta ditandai dengan pembukaan Sarinah pada 1966 di Jl Thamrin, Jakarta Pusat. Tidak lama diikuti munculnya gedung-gedung perbelanjaan lain di sekitarnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Proyek perintis ini menawarkan konsep model dasar. Penyewa utama tunggal (biasanya departemen store) mengambil sebagian besar (atau bahkan semua) ruang. Kemudian muncul podium ritel di Jakarta pada 1980-an. Contohnya adalah Ratu Plaza dan Gajah Mada Plaza dengan konsep dan desain yang masih sederhana.
 
Perkembangan properti mixeduse yang mencakup pusat perbelanjaan mulai berkembang menjadi lebih populer pada 1999-an. Kombinasi pusat perbelanjaan dan hotel juga diperkenalkan pada era ini.
 
Seperti Plaza Indonesia, pusat perbelanjaan kelas atas pertama yang berada di Jakarta. Desain dan konsep menjadi elemen penting dari pusat perbelanjaan yang satu ini. Bahkan mal yang satu dirancang oleh arsitek Amerika, HOK.
 

Artis Tessa Kaunang yang tercatat sebagai calon anggota legislatif 2019-2024 dari Partai NasDem, membagi-bagikan bunga kepada para ibu pengunjung sebuah pusat perbelanjaan di Surabaya pada Hari Ibu 2018. Pusat perbelanjaan kini tidak sekedar tempat berbelanja. Antara Foto/Didik Suhartono.
 
Plaza Indonesia dianggap sebagai cikal bakal pusat perbelanjaan saat ini yang terintegrasi dengan perkantoran dan hotel. Meski sudah beroperasi cukup lama, mal yang satu ini masih favorit pengunjung dari kelompok ekonomi menengah ke atas.
 
Kemudian ada Ciputra Mall dan Mall Taman Anggrek. Ciputra juga dirancang oleh arsitek Amerika, membuktikan bahwa konsep dan desain memang sudah sangat penting. Ketiga mal tersebut merupakan contoh sukses yang masih bertahan hingga kini. Setelah krisis moneter melanda Asia pada akhir dekade 1990-an hingga awal 2000-an, konsep podium ritel terus mendapatkan popularitas.
 
Proyek berskala besar seperti yang terlihat sebelum krisis (seperti Mall Taman Anggrek) berkembang di Indonesia pada 2000-an, khususnya di segmen kelas atas. Mengikuti tren yang dikembangkan pada 2000-an, lebih banyak mal berkualitas dihasilkan di pasar.
 
Selama periode ini juga, pengembang tampaknya tertarik untuk membangun podium ritel kelas atas terutama karena stok lahan terbatas. Pondok Indah Mall, Mall Puri Indah Plaza Senayan dan Senayan City adalah contohnya, lokasinya diapit kawasan pemukiman kelas atas dan perkantoran.
 

 

 

(LHE)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi