Alasan Populer Tak Beli Rumah: Masih Bujang
Maket rumah mewah dalam sebuah pameran di Jakarta. ilustrasi/MI/Ramdani
Jakarta:Selain masalah tabungan uang muka, ada dua hal lain yang membuat seseorang menunda beli rumah. Yakni belum menikah dan masih bisa tinggal bersama orang tua.

Demikian hasil survei Rumah.com Property Affordability Sentiment Index baru-baru ini. Sebanyak 51 persen di antara mengaku belum membeli rumah dan karenanya masih tinggal di rumah orang tua.


Respondennya adalah 1000 orang berusia 22-35 tahun. Mayoritas di antaranya adalah profesional yang punya kemampuan finansial untuk hidup mandiri.

Banyak generasi muda memilih melajang dan tetap tinggal di rumah orang tua. Padahal mereka sudah punya kemampuan finansial untuk hidup mandiri bahkan sangat mampu untuk berkeluarga.

Alasan yang responden kemukakan sebenarnya tidak keliru dan bahkan sesuai dengan kultur Timur. Tapi di sisi lain justru ketika masih lajang dan tinggal bersama orang tua maka peluang mereka untuk membeli rumah jauh lebih besar.

"Selepas menikah beban finansial semakin besar. Fenomenanya kebutuhan membeli rumah dipinggirkan dan sebuah keluarga mengandalkan tinggal di rumah orang tua," papar Head of Marketing Rumah.com, Ike Hamdan.

Pos pengeluaran besar sudah menghadang sejak tahap persiapan penyelengaraan pesta pernikahan yang membutuhkan biaya tidak kecil. Bahkan ada juga pasangan yang mengajukan KTA atau menaikkan plafon kartu kreditnya untuk biaya pernikahan.

"Semasa lajang atau belum punya anak, sebenarnya beban pengeluaran tidak terlalu besar. Ada baiknya mulai mencicil membeli rumah, dibanding gaya hidup. Meski bisa tinggal gratis di rumah orang tua, akan tetap lebih baik jika memiliki rumah sendiri," imbuh Ike.

Hasil survey juga menunjukkan 87 persen responden yang masih tinggal di rumah orang tua mengaku merancang strategi untuk membeli rumah. Sebanyak 65 persen di antaranya menyatakan menabung bulanan sebagai cara mengumpulkan uang muka.

"Ketimbang menabung di rekening reguler, ada baiknya melakukan investasi. Instrumen investasi seperti deposito dan reksadana menawarkan bunga yang lebih tinggi dibanding rekening reguler dengan tingkat risiko yang rendah," jelas Ike.



(LHE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id