Pemerintah anggarkan Rp2,49 triliun untuk bedah rumah. Foto: Kementerian PUPR
Pemerintah anggarkan Rp2,49 triliun untuk bedah rumah. Foto: Kementerian PUPR

Bedah 137 Ribu Rumah, Pemerintah Telan Rp2,49 Triliun

Properti Virus Korona bedah rumah Berita Kementerian PUPR
Rizkie Fauzian • 06 April 2020 11:37
Jakarta: Pemerintah terus mempercepat realisasi Program Padat Karya Tunai (PKT) 2020 di tengah penyebaran virus korona. Salah satunya adalah program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) atau bedah rumah.
 
Tahun ini, Kementerian PUPR akan menyalurkan dana BSPS untuk lebih dari 137 ribu unit rumah di seluruh Indonesia. Adapun anggaran Rp2,49 triliun tersebut untuk bahan bangunan dan upah tukang.
 
Program tersebut telah menjangkau 4.745 lokasi, meliputi 317 kabupaten, 1.681 kecamatan, dan 4.745 desa di 33 provinsi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Meski kegiatan BSPS tetap dilaksanakan, namun Kementerian PUPR mengimbau adanya koordinasi dengan pihak-pihak otorisasi wilayah untuk memastikan persyaratan, kesiapan, dan kesediaan terlebih dahulu dari pemerintah daerah.
 
Direktur Jenderal Perumahan Khalawi Abdul Hamid menyampaikan perlu adanya pernyataan dari bupati/wali kota untuk mengawal kegiatan ini dengan tetap mengikuti SOP koridor covid-19. Salah satunya adalah tidak melakukan pertemuan-pertemuan atau kumpul-kumpul dengan melibatkan banyak orang.
 
"Kegiatan BSPS cukup signifikan mendorong perputaran uang di daerah melalui pengadaan bahan bangunan dari toko-toko material setempat, penyaluran upah tenaga kerja. Dengan demikian toko-toko bahan bangunan, tukang dan penerima bantuan mendapatkan penghasilan tambahan yang cukup berarti dari pelaksanaan BSPS," katanya dalam keterangan tertulis, Senin, 6 April 2020.
 
BSPS merupakan bantuan pemerintah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) untuk mendorong dan meningkatkan keswadayaan dalam peningkatan kualitas rumah dan pembangunan baru rumah.
 
BSPS termasuk program padat karya tunai yang melibatkan banyak tenaga kerja, antara lain Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL), Koordinator Fasilitator (Korfas), dan tenaga tukang yang diambil dari penduduk setempat.
 
Khalawi mengarahkan kepada para TFL di seluruh Indonesia agar turut membantu pemerintah menyampaikan bahwa perlunya taat dan patuh pada imbauan dengan menjaga social distancing dan physical distancing dengan jarak sesuai SOP dalam menghindari menjalarnya covid-19.
 
"Apabila masih harus ada pertemuan, maksimal hanya empat orang dalam satu ruangan dan jarak minimal adalah dua meter masing-masing dan hanya maksimal satu jam, pakai masker dan fasilitas lainnya guna mencegah covid-19," jelasnya.
 
BSPS dilaksanakan oleh masyarakat penerima bantuan secara swadaya yang membentuk kelompok penerima bantuan-tanggung renteng, gotong royong, dan berkelanjutan dengan anggaran untuk Peningkatan Kualitas (PK) Rp17,5 juta (bahan bangunan Rp15 juta dan upah tukang Rp2,5 juta) dan Pembangunan Baru (PB) Rp35 juta (bahan bangunan Rp30 juta dan upah tukang Rp5 juta).
 
Dalam pembangunan fisik rumah masyarakat penerima bantuan didampingi oleh Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL), dengan satu TFL bertanggungjawab untuk mendampingi 30 penerima bantuan.
 
"Kegiatan BSPS cukup signifikan mendorong perputaran uang di daerah melalui pengadaan bahan bangunan dari toko-toko material setempat, penyaluran upah tenaga kerja. Dengan demikian toko-toko bahan bangunan, tukang dan penerima bantuan mendapatkan penghasilan tambahan yang cukup berarti dari pelaksanaan BSPS," katanya dalam keterangan tertulis, Senin, 6 April 2020.
 
BSPS merupakan bantuan pemerintah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) untuk mendorong dan meningkatkan keswadayaan dalam peningkatan kualitas rumah dan pembangunan baru rumah.
 
BSPS termasuk program padat karya tunai yang melibatkan banyak tenaga kerja, antara lain Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL), Koordinator Fasilitator (KORFAS), dan tenaga tukang yang diambil dari penduduk setempat.
 
Khalawi mengarahkan kepada para TFL di seluruh Indonesia agar turut membantu pemerintah menyampaikan bahwa perlunya taat dan patuh pada imbauan dengan menjaga social distancing dan physical distancing dengan jarak sesuai SOP dalam menghindari menjalarnya covid-19.
 
"Apabila masih harus ada pertemuan, maksimal hanya empat orang dalam satu ruangan dan jarak minimal adalah dua meter masing-masing dan hanya maksimal satu jam, pakai masker dan fasilitas lainnya guna mencegah covid-19," jelasnya.
 
BSPS dilaksanakan oleh masyarakat penerima bantuan secara swadaya yang membentuk kelompok penerima bantuan-tanggung renteng, gotong royong, dan berkelanjutan dengan anggaran untuk Peningkatan Kualitas (PK) Rp17,5 juta (bahan bangunan Rp15 juta dan upah tukang Rp2,5 juta) dan Pembangunan Baru (PB) Rp35 juta (bahan bangunan Rp30 juta dan upah tukang Rp5 juta).
 
Dalam pembangunan fisik rumah masyarakat penerima bantuan didampingi oleh Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL), dengan satu TFL bertanggungjawab untuk mendampingi 30 penerima bantuan.
 

(KIE)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif