Rumah Instan Sederhana Sehat (Risha) yang dibangun di lokasi bekas bencana NTT. Foto: Kementerian PUPR
Rumah Instan Sederhana Sehat (Risha) yang dibangun di lokasi bekas bencana NTT. Foto: Kementerian PUPR

Rumah Tahan Gempa Bisa Diadopsi Pengembang Properti

Properti Rumah tahan gempa Bisnis Properti Kementerian PUPR desain rumah
Rizkie Fauzian • 13 Mei 2022 17:13
Jakarta: Rumah Instan Sederhana Sehat (Risha) merupakan hunian yang dirancang oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Risha dibangun dengan desain modular dan tahan gempa.
 
Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat menilai konsep rumah tahan gempa Risha dapat diadopsi oleh pengembang properti dalam mengembangkan kawasan hunian di wilayah dengan risiko bencana gempa bumi.
 
"Value material, struktur dan desain tahan gempa dari konsep Risha ini dapat dijadikan sebagai poin adaptasi yang dapat adopsi oleh para pelaku properti dalam mengembangkan kawasan hunian di wilayah dengan risiko gempa bumi," ujarnya kepada Antara di Jakarta, Jumat, 13 Mei 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut dia, inovasi sangat dibutuhkan untuk memastikan bahwa hunian tidak hanya menjadi shelter atau tempat perlindungan bagi penghuninya dari hujan dan panas matahari, tetapi juga dari bencana alam, seperti gempa.
 
Risha adalah salah satu model bangunan yang dikenalkan oleh Kementerian PUPR sebagai bangunan/rumah tahan gempa, dengan teknologi knock down dengan berkerangka baja ringan.
 
Secara geografis, Indonesia berada di antara tiga lempeng benua (Australia, Eurasia dan Pasifik) di wilayah rekahan dunia ini tersambung dengan jalur cincin api dunia, terutama dibagian Barat Pulau Sumatera dan Selatan Pulau Jawa, serta sebagian Pulau Sulawesi dan Maluku.
 
Jalur cincin api adalah jalur gempa dunia. Dengan demikian, gempa bumi menjadi salah satu fenomena alam yang perlu dikenali dan diantisipasi dalam pembangunan di Indonesia, terutama di jalur berisiko gempa (jalur cincin api).
 
"Industri properti yang berkembang tidak terlepas dari tantangan fisik wilayah Indonesia, di antaranya keterbatasan wilayah yang berisiko gempa. Menurut Badan Geologi Kementerian ESDM terjadi sebanyak 26 destructive earthquake (gempa bumi yang merusak) sepanjang  2021, angka tersebut merupakan jumlah tertinggi sepanjang 20 tahun belakangan," jelasnya.
 
Dia menjelaskan bahwa adaptasi bencana dari sektor properti dapat diwujudkan di antaranya melalui upaya pengembangan bangunan di wilayah dengan risiko bencana sedang-rendah perlu mengikuti rambu yang ada, di antaranya mengikuti prosedur bangunan tahan bencana melalui sertifikat bangunan tahan bencana.
 
Selain itu, sebagai upaya pengurangan risiko bencana, juga perlu disiapkan instrumen asuransi bangunan dari risiko bencana.
 
"Konsepsi bangunan tahan gempa, adalah salah satu rambu yang perlu dikenali oleh pengembang dalam membangun kawasan hunian. Dengan mengenali fisik wilayah yang akan dikembangkan, umumnya pengembang akan menggali keterbatasan fisik wilayah dan mengantisipasinya dalam wujud inovasi desain hunian dan infrastruktur lingkungan," ungkapnya.
 
Syarifah menambahkan bahwa pada dasarnya menjadikan bangunan tahan gempa dikenali dan diminati oleh masyarakat, menjadi tanggung jawab bersama dari seluruh pemangku kepentingan dalam sektor properti.
 
Pemangku kepentingan memiliki tanggung jawab dalam proses edukasi masyarakat untuk beradaptasi terhadap bencana, dalam hal ini khususnya memahami karakter bangunan yang dibutuhkan di kawasan dengan risiko bencana/gempa.
 
(KIE)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif