Kecantikan klasik SUGBK tampak menonjol di antara gedung-gedung modern sekitarnya. (foto: M. Tuflichun Alfath)
Kecantikan klasik SUGBK tampak menonjol di antara gedung-gedung modern sekitarnya. (foto: M. Tuflichun Alfath)

Ternyata SUGBK Bisa 'Bergoyang' lho

Properti gbk
Rizkie Fauzian • 19 Januari 2018 07:13
Jakarta: Banyak yang kaget melihat hasil renovasi Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta. Stadion tua itu bagai berubah wujud sehingga tidak lagi kalah gengsi dibandingkan stadion-stadion terkemuka dunia.
 
Sebelum proyek renovasi dimulai dua tahun lalu, tim survey menemukan rahasia yang membuat mereka kaget. Rahasia yang lebih setengah abad terpendam jauh di dalam bangunan berbentuk oval itu.
 
"Ternyata dibuat lentur, kalau pengunjung penuh bangunannya bisa goyang. Saya juga baru tahu itu," ungkap kagum Dirut Pusat Pengelolaan Kompleks Gelora Bung Karno, Winarto, kepada medcom.id.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bangunan dengan konstruksi lentur merupakan bagian standart keamanan anti gempa bagi pencakar langit dan gedung modern. Sebut saja Taipei 101 dengan konstruksi terinsiprasi lenturnya batang bambu dan Burj al Khalifa yang bisa 'meliuk' mengikuti arah hembusan angin gurun berkecepatan lebih dari 300 kilometer per jam.
 
Hanya saja SUGBK dibangun pada 1962 dan ketika itu Jakarta belum layak disebut kosmopolitan kelas dunia. Arsitek desainer yang ditunjuk Presiden Soekarno adalah Frederich Silaban yang pendidikan formal terakhirnya hanya setingkat STM.
 
Ternyata SUGBK Bisa 'Bergoyang' lho
 
"Informasi dari lapangan memang desain awalnya seperti itu," ungkap Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pelaksanaan Penataan Bangunan Strategis 2 Ditjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kusworo Darpito.
 
Berkat konstruksi lenturnya tersebut SUGBK bisa 'bergoyang' mengimbangi gemuruh seratusan ribu orang yang berjingkrak-jingkak di tribun dan lapangannya. Kemampuan 'bergoyang' itu juga membuat SUGBK mampu bertahan dari dampak gempa bumi yang berkali-kali menggoncang Jakarta.
 
"Di titik-titik tertentu ada dilatasi (sambungan atau pemisahan bagian struktur yang membagi pusat massa bangunan) yang memungkinkan bangunan bergerak dalam batasan tertentu," jelas Kusworo.
 
Prinsipal aritek SUGBK Gregorius Supie Yolodi menjelaskan, secara umum struktur bangunan harus memiliki kelenturan untuk merespons beban dan gempa. Setiap bahan struktur memiliki kelenturan yang berbeda.
 
"Struktur tribun atas stadion ini kantilever, melayang menjorok tanpa penopang di ujungnya dan saling mengikat secara oval. Hal itu tentunya akan lebih lentur, namun masih dalam batasan aman. Sturktur engineer yang me-review-nya menyatakan masih aman," papar Supie.
 

Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jskarta, bermandi cahaya aneka warna yang membuatnya makin cantik. Tata cahaya merupakan daya tarik baru pada malam hari setelah dilakukannya renovasi. Sebagai cagar budaya, fasad bangunan yang dibangun pada 1962 tersebut dilarang diubah. Maka agar memenuhi standar dunia maka renovasi yang dilakukan berkonsentrasi kepada penguatan struktur, melengkapi fasilitas dan modernasasi fitur termasuk pencahayaannya. Kini SUGBK memiliki sistem tata cahaya high definition berkekuatan 3500 lux yang merupakan terbaik ke empat di dunia. Bila dibanding pencahayaan sebelumnya, sistem baru yang mengandalkan LED ini tiga kali lebih kuat dan 50 persen lebih hemat konsumsi listriknya. Antara Foto/Wahyu A Putro #gbk #gbksenayan #jagagbk #inipunyakita #asiangames2018 #senayan #led #hdlightingsystem

A post shared by Metrotv Indonesia (@metrotv) on



 


 

(LHE)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif