Stadion Utama Gelora Bung Karno

Temu Gelang, antara Moskow & Meksiko

Rizkie Fauzian 13 Januari 2018 22:04 WIB
gbk
Temu Gelang, antara Moskow & Meksiko
Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. medcom.id/Dimas P.
Jakarta: Baru 14 tahun merdeka, Indonesia memberanikan diri menjadi tuan rumah Asian Games IV 1962. Salah satu persyaratan wajib dipenuhi adalah memiliki kompleks olahraga berkelas dunia.

Sebuah fasilitas yang bahkan tidak terpikirkan kebanyakan pemimpin negara berkembang karena lebih memprioritaskan pembangunan ekonomi. Tapi waktu itu Presiden Republik Indonesia adalah Soekarno, seorang pejuang dengan visi jauh melampaui jamannya.     


Tantangan dari Federasi Asian Games itu disambar Soekarno. Presiden dengan latar belakang pendidikan arsitektur dari teknik sipik Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB) itu menggandeng arsitek kepercayaannya, Frederick Silaban, sebagai desainernya. Desain rancangan Frederick Silaban berdasar visi Soekarno adalah Temu Gelang yang berupa bagunan oval dengan atap bergelombang. Ada dua versi mengenai sumber inspirasi Soekarno, kunjungannya ke Stadion Luzhniki, Moskow dan air mancur di halaman Museo Antropologia de Mexico di Mexico.

Boleh jadi malah dua versi tersebut saling melengkapi, baik dari sisi keindahan dan kemegahan stadion yang langsung dibangun dengan daya tampung 110 ribu penonton tersebut. Anggaran untuk membangunnya adalah pinjaman lunak sebesar USD 12,5 juta dari Uni Soviet yang pada waktu itu agresif dalam menjalin hubungan dengan Indonesia.



Senayan dipilih karena lokasinya yang -pada saat itu- berada di pinggiran Jakarta tapi tidak terlalu jauh dari pusat kota tempat fasilitas akomodasi berada. Warga perkampungan Betawi yang sebagian besar adalah peternak sapi perah, sebagian besar pindah ke Tebet.

Setelah 56 tahun, Indonesia kembali jadi tuan rumah Asian Games untuk gelaran ke XVIII. Jakarta dengan Senatan dan Palembang dengan Jakabaring menjadi lokasi penyelenggarannya. Seluruh fasilitas olahraga yang ada di sana, termasuk Jakabaring yang relatif masih baru, dipugar demi memenuhi standar dari International Association of Athletics Federations (IAAF).

Khusus di Jakarta, ada 15 venue yang dipugar. Di antaranya stadion renang, Istana Olahraga (Istora), Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), training facility, arena tenis indoor dan outdoor, Stadion Madya, softball, gedung basket, lapangan baseball, lapangan hoki dan sepakbola ABC. Beberapa telah diresmikan pada 2 Desember 2017.

Seluruh prosesnya ditangani Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang mengerahkan sumber daya terbaik mereka. Teknologi paling mutakhir hingga penggunaan bahan-bahan yang terbaik diberikan untuk menyempurnakan SUGBK sehingga sejajar dengan stadion lain terbaik dunia.

Peresmian penggunaannya akan Presiden Joko Widodo lakukan pada Sabtu (14/1/2018) sore. Pertandingan persahabatan antara kesebelasan Timnas Indonesia vs Timnas Islandia yang akan bertanding dalam Piala Dunia 2018 Rusia menjadi pemuncaknya.
 


 



(LHE)