FITNESS & HEALTH

Jarang Disadari Orang Tua, Ini 4 Beban Kognisi Senyap pada Anak

Aulia Putriningtias
Jumat 24 Juli 2026 / 19:27
Ringkasnya gini..
  • Pemerintah Indonesia saat ini tengah menggalakkan Generasi Emas 2045.
  • Namun, hal ini menjadi tantangan sebab hadirnya beban kognisi senyap terhadap anak-anak.
  • Menuju Generasi Emas 2045, beban kognisi senyap anak harus diwaspadai.
Jakarta: Pemerintah Indonesia saat ini tengah menggalakkan Generasi Emas 2045. Namun, hal ini menjadi tantangan sebab hadirnya beban kognisi senyap terhadap anak-anak.

Pada momen Hari Anak Nasional (HAN) kemarin yang jatuh pada 23 Juli, Indonesia Health Development Center (IHDC) berbagi studi mereka terhadap beban kognisi senyap yang kerap terjadi pada anak-anak.

Bukan sekadar senyap dan bisa dibiarkan, melainkan dampaknya akan panjang terhadap masa depan si kecil. Sayangnya, tak semua orang menyadari kehadiran ini di tengah penerimaan informasi yang cepat.
 
"Kajian yang kami lakukan mengidentifikasi empat determinan kesehatan yang memiliki hubungan ilmiah kuat terhadap perkembangan kapasitas kognitif anak usia sekolah," jelas dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, saat menjelaskan studi IHDC di Jakarta, Kamis, 23 Juli 2026.

Kajian dilakukan melalui rapid review berbagai penelitian internasional. Kemudian, divalidasi melalui Expert Validation Meeting yang melibatkan pakar kedokteran komunitas, kesehatan masyarakat, pediatri, neurologi, oftalmologi, nutrisi, psikologi, pendidikan, hingga kebijakan publik.

"Kajian IHDC ini mengusulkan model Community Framework yang menjelaskan bahwa perkembangan kapasitas kognitif merupakan hasil interaksi antara faktor biologis, kualitas sensorik, fungsi neurokognitif, perilaku, dan lingkungan sosial, dan sebaiknya mulai diukur sejak usia anak, " jelas dr. Ray.
 

Ini empat beban kognisi senyap pada anak-anak




(Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH .Foto: Dok. Medcom.id/Aulia Putriningtias)


Masalah kognisi ini terdiri atas empat determinan. Keempat determinan ini bukan semata-mata keturunan, melainkan hadir karena pola asuh keluarga dan lingkungan. Adapun daftarnya:
 

1. Gangguan refraksi tidak terkoreksi


Sayangnya, diperkirakan lebih dari 8 juta anak Indonesia mengalami gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi yang belum dikoreksi. Anak yang kesulitan melihat papan tulis atau membaca berisiko mengalami hambatan belajar.
 

2. Defisiensi zat besi


Kamu perlu tahu bahwa defisiensi zat besi bukan hanya soal risiko anemia yang meningkat. Namun, fungsi otak pada anak juga bisa berpengaruh, seperti konsentrasi dan daya ingat. Diperkirakan lebih dari 7 juta balita mengalami defisiensi zat besi.
 

3. Defisiensi protein


Asupan protein yang tidak mencukupi akan membuat perkembangan otak dan saraf terganggu. Sehingga, ini akan berdampak terhadap proses belajar anak. Sayangnya, sekitar 58 persen anak usia sekolah dan remaja di Indonesia belum memenuhi rekomendasi minimum asupan protein harian.
 

4. Gangguan perilaku


Masalah perilaku anak, seperti kecemasan, juga berpotensi menghambat kemampuan anak dalam berkonsentrasi, bersosialisasi, dan juga terhadap proses pembelajaran di sekolah.
   

Sampai kapan harus diperhatikan pertumbuhan anak?


Tak sedikit orang tua merasa ketika anak sudah memiliki kartu identitas pribadi (KTP) atau sudah masuk ke dalam jenjang sekolah lebih tinggi seperti SMP, menandakan sudah dewasa.

Padahal, perkembangan anak harus terus didampingi. Hal ini dikarenakan setiap tingkatan saja, perkembangan anak sudah akan sangat berbeda dari sebelumnya.

Didampingi bukan untuk mengatur secara menekan, melainkan membersamai di setiap proses bertumbuhnya seorang anak. Pendampingan ini baiknya dimulai sejak kecil, untuk menciptakan pola asuh dan komunikasi yang baik antara orang tua dan anak.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)

MOST SEARCH