Bangunan kayu tertinggi di dunia. (Foto: Dezeen/Moelven)
Bangunan kayu tertinggi di dunia. (Foto: Dezeen/Moelven)

Mjøstårnet, Bangunan Kayu Tertinggi di Dunia

Properti Arsitektur Unik
Anggi Tondi Martaon • 25 Maret 2019 11:30
Jakarta: Predikat bangunan kayu tertinggi di dunia kini tak lagi disandang oleh Brock Commons Tallwood House. Gedung setinggi 53 meter itu tumbang oleh keperkasaan Mjøstårnet, bangunan di Norwegia.
 
Data The Council on Tall Buildings and Urban Habitat (CTBUH) mencatat Mjøstårnet
dengan ketinggian 85,4 meter sebagai bangunan berbahan kayu tertinggi. Bangunan 18 lantai itu meliputi apartemen, hotel, perkantoran, kolam renang, hingga restoran.
 
Bangunan tertinggi ketiga di Norwegia itu dirancang oleh Norwegia Voll Arkitekter untuk AB Invest. Keseluruhan struktur bangunan terbuat dari kayu laminasi silang (cross-laminated timber/CLT) yang dirancang oleh Moelven Limitre, spesialis perkayuan itu bahkan menerapkan kayu pada poros elevat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mjøstårnet, Bangunan Kayu Tertinggi di Dunia
(Foto: Dezeen/Moelven)
 
Selain menggunakan CLT, pembangunan Mjøstårnet juga terdiri atas bahan yang disebut Glulamm, yaitu kayu yang diratakan kemudian direkatkan. Glulam dapat digunakan sebagai pengganti elemen beton atau baja. Penggunaan dua jenis kayu itu cukup tepat. Sebab, CLT dan glulam cukup kuat untuk mendukung beban besar.
 
Perubahan Pedoman Penggunaan Kayu
 
CTBUH baru-baru ini merevisi pedoman penggunaan kayu sebagai bahan struktural. Alasannya karena pembangunan gedung tinggi berbahan kayu cukup meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
 
Penggunaan kayu rekayasa sebagai bahan bangunan dianggap lebih berkelanjutan dan lebih mudah dipadamkan jika terjadi kebakaran. Tak heran kini beberapa firma arsitek berencana membangun gedung berbahan kayu.
 
Penda, misalnya, merancang konsep menara tempat tinggal dan hibrida pertanian vertikal. Kemudian, Anders Berensson Architects berencana membangun 31 gedung pencakar langit kayu di Stockholm.
 
Sementara di Inggris, para arsitek meminta pemerintah untuk mencabut aturan pelarangan penggunaan CLT. Sebab, CLT dianggap lebih ramah lingkungan dari baja dan mudah dipadamkan jika terbakar.
 
Berubahnya kebijakan penggunaan kayu sebagai material utama pembangunan gedung tentunya didukung oleh kualitas. Seperti kayu laminasi silang (cross-laminated timber/CLT), yang disebut lebih ramah lingkungan, memperlambat laju api jika terjadi kebakaran dan diklaim bisa padam sendiri tanpa menggunakan alat pemadam.
 
Selain itu, ada pula kayu laminasi terpaku (glulam). Glulam dibuat dari kayu yang diratakan kemudian direkatkan bersama untuk membentuk kolom atau balok. Glulam biasanya digunakan sebagai pengganti elemen beton atau baja.
 

(KIE)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif