Nuansa merah mendominasi warna dinding pada kelenteng. Ini yang menjadi salah satu pembeda arsitektur bangunan kelenteng dengan wihara, Medcom.id - Rizkie Fauzian
Nuansa merah mendominasi warna dinding pada kelenteng. Ini yang menjadi salah satu pembeda arsitektur bangunan kelenteng dengan wihara, Medcom.id - Rizkie Fauzian

Tahukah Anda, Kelenteng Lebih Merah dari Wihara

Properti Rupa Bangunan
Rizkie Fauzian • 05 Februari 2019 12:16
Jakarta: Kelenteng dan wihara menjadi tempat ibadah yang kerap didatangi warga Tionghoa saat perayaan Tahun Baru China atau Imlek 2570. Tapi, tahukah Anda dua bangunan ibadah itu ternyata berbeda?
 
Medcom.id mendatangi sebuah kelenteng di kawasan Tamansari, Glodok, Jakarta Barat. Keramaian tampak di area luar dan dalam kelenteng.
 
Beberapa orang berdatangan ke dalam kelenteng. Di sudut lain tampak beberapa orang berbincang-bincang sambil menunggu waktu beribadah. Ada pula yang tengak khusyuk berdoa di depan altar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tahukah Anda, Kelenteng Lebih Merah dari Wihara
(Warga beribadah di altar kelenteng di Glodok, Jakarta, Medcom.id - Rizkie Fauzian)
 
Sementara di bagian depan, beberapa kios menjual pernak-pernik khas Imlek. Misalnya, lampion, amplop, dan berbagai ornamen penghias rumah. Semuanya bernuansa merah.
 
"Sebetulnya acara Imlek ini tradisi masyarakat Konghucu. Konghucu merupakan tradisi dan agama asli orang China. Karena ini tradisi jadi beribadah ke sini. Selain Konghucu, yang beribadah ke kelenteng adalah orang Budha," ungkap Gunawan, Ketua Yayasan Dharma Bhakti saat berbincang dengan Medcom.id.
 
Gunawan merupakan pengurus Kelenteng Kim Tek Ie yang berlokasi di Jalan Kemenangan III Petak Sembilan, Tamansari. Gunawan menjelaskan soal dua rumah ibadah yang menjadi tujuan warga Tionghoa.
 
Kelenteng dan vihara, ujar Gunawan, merupakan dua bangunan berbeda. Mulai dari arsitektur, umat, hingga fungsinya berbeda.
 
Tahukah Anda, Kelenteng Lebih Merah dari Wihara
(Vihara Eka Dharma Manggala di Samarinda, dok: wikipedia)
 
Wihara merupakan tempat kebaktian umat Budha. Biasanya, umat mendatangi wihara setiap Minggu.
 
Perbedaan kelenteng dan wihara muncul di orde baru. Saat itu, pemerintah Orde Baru melarang kebudayaan dan kepercayaan Tionghoa.
 
Pemerintah mengancam menutup paksa kelenteng. Sehingga banyak pengurus kelenteng yang mengadopsi nama bahasa Sanskerta atau Pali. Beberapa kelenteng kemudian menjelma menjadi wihara demi kelangsungan peribadatan dan kepemilikan.
 
"Di zaman orde baru tidak boleh ada agama kelenteng, jadi harus berafiliasi masuk ke agama Budha. Makanya disebut wihara, karena tempat kebaktian orang Budha disebut vihara, padahal harusnya kelenteng," jelas Gunawan.
 
Perbedaan lain, banyak patung atau rupang ditempatkan di kelenteng. Sementara di wihara, hanya ada patung Budha atau Dewi Kwan Im.
 
Tahukah Anda, Kelenteng Lebih Merah dari Wihara
(Bangunan Kelenteng Boen Tek Bio Banyumas, Jawa Tengah, MI - Liliek Dharmawan)
 
Hanya ada satu patung Budha di altar wihara. Itu merupakan bagian dari aliran Threavada. Masyarakat Tionghoa juga menyebut patung tersebut dengan rupang. Bila ada tiga rupang di altar, wihara itu menganut aliran Mahayana. Adapula wihara yang menempatkan rupang Budha.
 
"Tapi di kelenteng, ada 81 rupang dan 18 arahat, di antaranya ada dewa rezeki, pengobatan, kesehatan, kebahagian, hingga dewa judi. Sementara di wihara biasanya hanya ada satu patung Budha," ungkap Gunawan.
 
Warna pun menjadi pembeda antara kelenteng dengan wihara. Warna merah mendominasi bangunan kelenteng. Dalam kepercayaan Tionghoa, merah melambangkan keberuntungan. Sementara wihara bernuansakan putih atau krem.
 
"Jadi kalau di wihara, tidak akan ketemu warna merah. Kalau klenteng pasti merah. Selain itu, bangunan kelenteng biasanya selalu ada naga, sedangkan vihara tidak ada," lanjut Gunawan.
 

(RRN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif