Kain tersebut dikenal dengan nama Kiswah. Aroma wangi dari kain sutra hitam ini sering menjadi kenangan tersendiri bagi jemaah yang pernah berkunjung ke Masjid al-Haram di Makkah, Saudi Arabia.
Kiswah menjadi simbol penghormatan umat Islam terhadap Ka’bah sekaligus bagian penting dari tradisi ibadah haji yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Apa itu Kiswah?

Kiswah disebut juga Gilaf yang berarti jubah atau penutup. Foto: Metrotvnews.com
Secara bahasa, Kiswah yang juga disebut Ghilaf berarti jubah atau penutup. Di Masjidil Haram, Kiswah adalah kain besar yang menutupi seluruh permukaan Ka’bah.
Kain ini diganti setiap tahun pada tanggal 9 Dzulhijjah, tepat saat para jemaah haji melaksanakan wukuf di Padang Arafah.
Sebelum Kiswah baru dipasang, Ka’bah biasanya terlebih dahulu ditutupi dengan kain putih. Kain tersebut melambangkan pakaian ihram yang dikenakan para jemaah haji.
Kiswah dibuat dari kombinasi kain katun dan sutra murni yang dihiasi kaligrafi ayat-ayat Al-Qur’an. Kaligrafi tersebut disulam menggunakan benang emas dan perak sehingga menambah kesan megah pada kain penutup Ka’bah.
Setelah Kiswah baru terpasang dan diikat menggunakan cincin tembaga pada bagian dasar marmer Ka’bah, kain lama akan dipotong menjadi bagian-bagian kecil. Potongan tersebut kemudian diberikan sebagai hadiah kehormatan kepada tokoh agama maupun pejabat negara dari berbagai negara.
Biaya pembuatan Kiswah

Proses pembuatan Kiswah memerlukan biaya hingga puluhan miliar. Foto: Metrotvnews.com
Proses pembuatan Kiswah memerlukan biaya yang tidak sedikit. Total biaya produksinya diperkirakan mencapai sekitar 17 juta riyal Saudi atau sekitar Rp75 miliar.
Biaya tersebut mencakup berbagai bahan utama, antara lain sekitar 670 kilogram sutra mentah yang diwarnai hitam untuk menutupi kain seluas sekitar 658 meter persegi, 120 kilogram benang emas untuk menyulam kaligrafi ayat suci Al-Qur’an, dan 100 kilogram benang perak untuk memperindah detail ornamen.
Pengerjaan Kiswah dilakukan oleh para pengrajin, kaligrafer, dan seniman Muslim yang memastikan setiap ayat Al-Qur’an tersulam dengan presisi di atas kain sutra tersebut.
Perubahan Kiswah sepanjang sejarah

Proses pembuatan Kiswah memerlukan biaya hingga puluhan miliar. Foto: Metrotvnews.com
Dalam sejarahnya, penyediaan Kiswah dahulu menjadi tanggung jawab para penguasa Makkah. Pada masa pemerintahan Al-Ma'mun dari Dinasti Abbasiyah, Ka’bah bahkan pernah menggunakan tiga jenis kain penutup berbeda dalam setahun.
Saat itu, Ka’bah ditutupi brokat merah pada 8 Dzulhijjah, kain putih pada awal bulan Rajab, dan brokat putih pada 27 Ramadan.
Kemudian pada masa khalifah Al-Nasir, warna Kiswah sempat diubah menjadi hijau sebelum akhirnya ditetapkan menjadi hitam.
Sejak sekitar abad ke-13 hingga saat ini, warna hitam tetap dipertahankan sebagai identitas Kiswah yang menutupi Ka’bah.
Selain penguasa, beberapa tokoh kaya dalam sejarah juga tercatat pernah menyumbangkan kain untuk Kiswah. Salah satunya adalah Ramisht, seorang saudagar dari Siraf pada abad ke-12 yang menyumbangkan tekstil dari Tiongkok untuk menutupi Ka’bah. (Syarifah Komalasari)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News