Oregon: Mahasiswa arsitektur di Universitas Portland, Amerika Serikat, menggunakan peti kayu bekas sebagai material panggung di Festival Musik Pickathon. Dibutuhkan 160 peti kayu bekas apel untuk instalasi.

(Foto: PSU School of Architecture)
Material utama tersebut dipasok dari produsen apel Pacific Northwest. Peti kayu bekas digunakan untuk membangun beberapa stage, yaitu panggung pertunjukan, tempat duduk, dan menara multifungsi.

(Foto: PSU School of Architecture)
Salah satu bangunan yang menarik perhatian adalah menara. Bangunan vertikal itu dibuat dari 15-30 peti kayu disusun menyerupai bentuk bunga pentagonal.

(Foto: PSU School of Architecture)
Pada siang hari, bayangan menara peti kayu itu menciptakan serangkaian bayangan artistik. Saat malam hari, tampilan menara lebih berwarna-warni karena dipasangi lampu LED.

(Foto: PSU School of Architecture)
Usai pertunjukan, seluruh peti kayu dikembalikan kepada pendonor untuk digunakan sebagai wadah memanen apel. Dengan begitu, tidak ada satu pun material yang tersisa.
(KIE)

(Foto: PSU School of Architecture)
Material utama tersebut dipasok dari produsen apel Pacific Northwest. Peti kayu bekas digunakan untuk membangun beberapa stage, yaitu panggung pertunjukan, tempat duduk, dan menara multifungsi.

(Foto: PSU School of Architecture)
Salah satu bangunan yang menarik perhatian adalah menara. Bangunan vertikal itu dibuat dari 15-30 peti kayu disusun menyerupai bentuk bunga pentagonal.

(Foto: PSU School of Architecture)
Pada siang hari, bayangan menara peti kayu itu menciptakan serangkaian bayangan artistik. Saat malam hari, tampilan menara lebih berwarna-warni karena dipasangi lampu LED.

(Foto: PSU School of Architecture)
Usai pertunjukan, seluruh peti kayu dikembalikan kepada pendonor untuk digunakan sebagai wadah memanen apel. Dengan begitu, tidak ada satu pun material yang tersisa.
(KIE)