medcom.id, Jakarta: Jangka waktu satu bulan terakhir tren pemberitaan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta nomor urut 2 Ahok-Djarot begitu mendominasi, baik di media sosial maupun media nasional. Sayangnya, tren pemberitaan tidak membuat Ahok-Djarot meraih suara tinggi.
Direktur Komunikasi Indonesia Indicator Rustika Herlambang menyebut, tren pemberitaan Ahok-Djarot dipatahkan oleh sentimen positif lawan. Hal inilah yang kemudian membuat paslon nomor urut tiga itu unggul sementara dalam kontestasi pilgub DKI Jakarta.
"Sentimen berperan penting dalam pemenangan, karena sentimen itu terkait persepsi publik. Kalau seseorang sentimen negatifnya atau framing negatifnya banyak ada kemungkinan dia kalah," ungkap Rustika, dalam
Special Event, Rabu 19 April 2017.
Rustika menyebut sentimen negatif Anies-Sandi tergolong rendah dengan prosentase 26 persen, sementara paslon Ahok-Djarot cukup tinggi dengan perolehan 32 persen. Selama sebulan terakhir, kata Rustika, sentimen negatif Ahok tinggi dan sangat memengaruhi suara pemilih.
Selain sentimen, yang membuat suara Anies melejit adalah tren pemberitaanm. Tren pemberitaan Ahok-Djarot masih didominasi oleh faktor eksternal, misalnya tentang pemberitaan sidang kasus penodaan agama. Hal ini menjadi keuntungan yang bisa diambil pihak lawan untuk merebut suara para pemilih.
"Faktor ini membuat Anies-Sandi menang lagi," jelas Rustika.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id((MEL))