Iwan Jaconiah: Tahun ini perayaan 221 tahun kelahiran penyair agung Rusia, Alexander Pushkin, sangat berbeda. Tak ada pembacaan puisi oleh para penyair, seperti tahun-tahun sebelumnya, akibat Covid-19.
Iwan Jaconiah: Tahun ini perayaan 221 tahun kelahiran penyair agung Rusia, Alexander Pushkin, sangat berbeda. Tak ada pembacaan puisi oleh para penyair, seperti tahun-tahun sebelumnya, akibat Covid-19. (Iwan Jaconiah)

Iwan Jaconiah

Penyair, esais, kandidat PhD Culturology di Universitas Negeri Sosial Rusia.

Pushkin dan Negeri Timur

Pilar Alexander Pushkin
Iwan Jaconiah • 25 Juni 2020 08:00
PUISI seakan tak pernah senyap di Moskow. Pun kota ini tanpa puisi seakan kiamat. Ungkapan tersebut saya rasakan betul.
 
Puisi dan masyarakat Rusia begitu lekat. Ibarat pohon cendana dan tatanan masyarakat tradisional Timor. Harumnya bisa dirasakan meski sudah punah.
 
Pada Sabtu, 6 Juni 2020 lalu, langit tampak biru. Udara awal musim panas di kisaran 20 derajat Celcius. Pepohonan di pinggir trotoar daunnya sudah lebat menghijau dan bunga-bunga bermekar ria. Di Pushkin Square, Moskow, Rusia, insan sastra berkumpul, sore itu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Namun, tahun ini perayaan 221 tahun kelahiran penyair agung Rusia, Alexander Pushkin, sangat berbeda. Kegiatan pembacaan puisi oleh para penyair, seperti digelar tahun-tahun sebelumnya, ditiadakan akibat pandemik Covid-19.


Meski demikian, satu-dua orang tetap berkunjung ke patung peringatan Pushkin. Mereka menziarahi dan meletakkan bunga sebagai tanda mengenang sang 'Bapak Bahasa Rusia' itu.


Pushkin adalah pusaran labirin. Ia mengabdikan kejeniusannya untuk menjadikan bahasa dan sastra Rusia sebagai bahasa yang dikenal sekarang. Maklum, pengaruh bahasa dan budaya Prancis kala itu begitu kuat, baik dalam tatanan kehidupan sosial masyarakat maupun lingkungan tsar (kaisar). Sebagai tokoh pada masa keemasan sastra Rusia modern, Pushkin memang dipuja layaknya seorang ‘dewa’. Mengapa? Sebab dialah tokoh yang banyak menulis puisi, hikayat, dan cerita. Bahkan, saking produktif semasa hidup, dia pun mendapatkan sokongan dari Tsar Nikolai I.
 
Perayaan 221 tahun Pushkin tahun ini sangat sepi dan hampir senyap. Tidak ada kegiatan pembacaan puisi di jalanan. Berbagai kalangan masyarakat seperti budayawan, cendekiawan, dan sastrawan setempat, lebih memilih berselancar dan bertemu di dunia maya, lewat zoom atau instagram.
 
Hari Bahasa Rusia
 
Sejak 2011, tanggal kelahiran Pushkin itu telah dipatenkan PBB sebagai Hari Bahasa Rusia. Tak heran jika perayaan pun berlangsung di seantero negeri ini meski tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Kita semua tahu kondisi dunia akibat pandemik.
 
Saya dan beberapa rekan penyair setempat berkunjung ke Pushkin Square yang berada di Jl Tverskaya. Kebetulan tidak jauh dari tempat sewa apartemen saya di Moskow ini.
 
Di bawah patung Pushkin, satu per satu hadir meletakkan bunga, membacakan puisi di dalam hati, dan langsung pulang. Maklum, pada 6 Juni, situasi kota masih mencekam dalam masa karantina rumah. Pelonggaran baru diberlakukan tiga hari kemudian, tepatnya pada Selasa, 9 Juni.
 
Tak dinyana, Pushkin adalah matahari puisi Rusia. Saya pikir, siapapun yang bersentuhan dengan karya sastra Rusia pasti mengetahui namanya. Pushkin menjadi tokoh penting berkat jasa-jasa Fyodor Dostoyevsky (1821-1881). Semasa hidup, Dostoyevsky berjuang mati-matian mengajukan nama Pushkin sebagai 'Bapak Bahasa Rusia'.


Salah satu puisi lawas karya Pushkin yang banyak dibaca dan sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa, yaitu Aku Mencintaimu: Mungkin Masih Cinta, (Alexander Pushkin: Poetry, Tales, and Poems, Penerbit Eksmo, Moskow, 2015, hlm 168).


Ini puisi sederhana dan mudah dipahami siapapun. Saya mencoba menafsirkan dan menerjemahkan teks aslinya dari bahasa Rusia ke bahasa Indonesia. Judul puisi dalam bahasa aslinya; Ya Vas Lyubil: Lyubov Eshhe, Byt Mozhet. Penerjemahan ini tanpa saya menghilangkan simbol, makna, dan pesan. Berikut petikannya;
 
Aku mencintaimu: mungkin masih sayang,
dalam lengkung jiwaku, tak semua sirna;
tapi jangan biarkan cinta membuatmu gamang;
apapun jua, aku tak ingin kau bersedih.
Aku mengasihimu dalam lubuk hati, tanpa berharap,
ada rasa was-was, menakar cemburu.
Sungguh aku menyayangimu, begitu kerap,
seperti Tuhan mengaruniai kamu tuk dicintai secara lembut
.
 
Puisi penuh gairah
 
Pushkin menulis puisi tersebut pada tahun 1829. Namun, hingga kini masih ada perdebatan di antara para kritikus sastra Rusia perihal untuk siapa puisi itu didedikasikan sang penyair.
 
Ada dua versi utama. Pertama, puisi itu ditulis untuk putri Polandia, K. Sabanska. Kedua, yaitu untuk A. A. Olenina.
 
Pushkin sesungguhnya merasakan ketertarikan yang begitu kuat pada kedua wanita itu. Namun, tidak satupun dari mereka menanggapi cintanya.
 
Pada tahun itu pula, sang penyair mengajukan lamaran kepada seorang gadis bermata biru, Natalia Goncharova, yang kemudian dinikahinya. Barangkali puisi itulah yang Pushkin alamatkan bagi si belahan jiwa. Secara dialektika, itu adalah puisi monolog yang penuh gairah dan liris.
 
Pushkin menuangkan tentang gelora jiwanya yang paling rahasia. Mengulangi frasa “Aku mencintaimu” menggarisbawahi hati yang sembilu dan harapan yang hampir kandas.

Sering menggunakan kata ganti "Aku" membuat karya itu sangat intim. Seakan mengungkapkan jati diri penyair kepada pembaca.


Saya pikir, Pushkin sengaja tidak menyebut kebajikan fisik atau moral apapun dari orang yang ia cintai. Di hadapan kita, sosok tersebut hanyalah gambaran halus. Tidak dapat diakses oleh persepsi manusia awam. Si penyair memuja paras wanita dan tidak mengizinkan siapapun mampu mengungkapkan misteri melalui bebait puisi Aku Mencintaimu: Mungkin Masih Cinta, itu.
 
Hingga hari ini, masyarakat Rusia selalu membaca, mendengar, dan meresapi puisi-puisi. Mereka tidak hanya membaca karya klasik seperti Pushkin, Dmitry Tsertelev, dan Osip Mandelstam yang notabene karya abad ke-19.Namun juga karya penyair era sekarang.
 
Sekadar menyebut dua nama penyair, yaitu Vadim Teryokhim atau Nina Popova. Karya-karya kedua penyair kontemporer ini sangat membumi di Rusia.
 
Puisi telah menjadi peradaban literasi bagi masyarakat Rusia. Ada tiga hal penting yang dapat ditelaah, yaitu; masyarakat menghargai karya sastra sebagai bagian dari gaya hidup, menghormati penyair sebagai bagian dalam sejarah bangsa, dan menjunjung tinggi bahasa sebagai bagian jati diri.
 
Episentrum puisi Rusia
 
Perayaan 221 tahun Pushkin membuktikan bahwa ia adalah episentrum puisi Rusia. Tak ketinggalan Prof Victor Pogadaev, seorang pakar bahasa Indonesia dan Melayu ternama di Rusia, telah berhasil merampungkan sebuah buku dalam Bahasa Indonesia. Buku itu berjudul Alexander Pushkin: Penyair Agung Rusia Pushkin & Dunia Timur (2019).
 
Buku tersebut mengupas tentang pandangan para penyair dari berbagai negeri di timur, termasuk Indonesia dan Malaysia, perihal karya-karya Pushkin. Beberapa puisi saya tentang Pushkin juga termaktub dalam buku anyar itu. Ada sebuah pembacaan kembali atas karya Pushkin yang mendunia.
 
Tidak menutup kemungkinan bahwa Pogadaev ingin melihat lewat kacamata berbeda tentang pengaruh Pushkin bagi dunia timur. Dalam hal ini, yaitu para penulis dan penyair dari negara-negara di Asia Tenggara yang populasi terbesar penutur bahasa Indonesia dan Melayu dilibatkannya.
 
Karya-karya Pushkin kian dikenal, termasuk di Nusantara. Setidaknya lewat puisi-puisi, ada pengikat hubungan erat antara Rusia dengan negara-negara di Asia Tenggara.
 
Segala segregasi dan perbedaan dapat diminimalkan lewat pendekatan kultural. Menjadikan puisi sebagai bahasa universal dan persaudaraan. Sebab ada selembar doa dan setangkai pengharapan dalam puisi.[]
 
*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id.
 


 
TERKAIT

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif