Suasana pengunjung di Galeri Tretyakov, Moskwa/Iwan Jaconiah
Suasana pengunjung di Galeri Tretyakov, Moskwa/Iwan Jaconiah (Iwan Jaconiah)

Iwan Jaconiah

Penyair, esais, kandidat PhD Culturology di Universitas Negeri Sosial Rusia.

Contemporary Art Fair Dunia di Lorong Pandemi

Pilar Pameran kesenian Virus Korona Karya Seni pandemi covid-19
Iwan Jaconiah • 26 Agustus 2021 11:12

DAMPAKperadaban pandemi Covid-19 di jagad seni rupa, telah mengakibatkan geliatcontemporaryart fairdi berbagai kota besar dunia terperosok. Tak terkecuali, Moskwa, Innsbruck, dan Jakarta.
 
Pemberlakuan pemerintah di negara-negara untuk membatasi kerumunan telah memengaruhi sendi-sendi pesta seni rupa. Ya, tentu saja menggeser perubahan gaya, orientasi, dan metode.
 
Forum acara virtual menjadi pilihan utama. Itu menjangkau pelbagai komunitas seni. Melintasi negara dan benua. Galeri Tretyakov, Moskwa, misalnya, resmi menggelar kembali pameran seusailockdowndi ibukota Rusia sejak Juni 2020 hingga Agustus 2021 ini.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Kini, suasana sudah sedikit berbeda. Tidak seperti rasa was-was yang berlebihan sebelumnya di kota-kota besar dunia seperti Moskwa dan Vienna. Sampai pertengahan 2021 ini, ada berbagaiart fairdunia sudah bangkit kembali. Sejumlah helatan pasar seni telah dilangsungkan di daratan Amerika dan Eropa. Di Amerika, yaitu Affordable Art Fair New York City di Metropolitan Pavilion, New York, Amerika, pada 20-23 Mei lalu.
 
Sedang di daratan Eropa, yaitu Vienna Biennale for Change 2021:planet love, climate care in the digital agesedang berlangsung sejak 28 Mei hingga 3 Oktober mendatang, dan International Contemporary Art Fair di Innsbruck, Austria, yang baru saja dilangsungkan pada 8-11 Juli.
 
Geliat ajang seni rupa bergengsi tersebut menjadi perlu. Ada dialog antar-galeri, diskusi kritis perkembangan seni kontemporer, jalinan jaringan peneliti seni, dan perdagangan lukisan.
 
Pesta seni di Innsbruck, misalnya, telah memasuki tahun penyelenggaraan ke-25. Bahkan, galeri-galeri ternama di Eropa melebarkan jejaring kerja sama antar-komunitas.
 
Sedangkan Affordable Art Fair New York City juga demikian. New York merupakan salah satu dari 10 kota dunia yang menyelenggarakanart fairsecara estafet. Termasuk, London, Hong Kong, Hamburg, Amsterdam, Brussels, Singapura, Stockholm, Melbourne, dan Sydney.
 
Edisi perdana Affordable Art Fair sebenarnya diawali pertama kali di Battersea Park, London, Inggris, pada 1999 silam. Ribuan pengunjung saat itu hadir untuk melihat geliat seni kontemporer nan heboh.
 
Dalam jaringanart fairdunia, masih minim bagi seniman Indonesia untuk ambil bagian. Salah satu faktor, yaitu mahalnya pendanaan untuk mengikuti ajang pameran berkelas dunia.
 
Untuk kualitas karya, saya pikir seniman Indonesia tak kalah kelas dibandingkan seniman Eropa. Sebut saja, Djoko Pekik, Nyoman Nuarta, Nasirun, dan Heri Dono. Mereka telah diakui dalam panggung seni rupa dunia.
 
Contemporary Art Fair Dunia di Lorong Pandemi
Suasana pengunjung di Museum Seni Modern Moskwa/Iwan Jaconiah
 
Innsbruck bangkit
 
Bila kita jeli membaca situasi, maka helatan Contemporary Art Fair di Innsbruck, misalnya, menjadi barometer kebangkitan kembaliart fairEropa. Setahun lalu, sempat ditunda. Lantaran, kebijakan negara-negara dalam menghadapi tingginya kasus penderita Covid-19.
 
Pihak penyelenggara pesta seni di Innsbruck memberlakukan seorang peserta untuk membayar 1000 euro (setara Rp17 juta) untuk biaya kepesertaan. Ini resmi, baik via penyelenggara maupun jaringan galeri resmi.
 
Pembiayaan memang lumrah dalam pesta seni. Namun, itu bisa dicarikan solusi. Salah satu pelukis kaliber Austria, Hermann Nitsch sebagai contoh. Dia terlibat pada pada 8th Moscow Biennale, 31 Oktober 2019 - 22 Januari 2020. Nyata memang, penjualan satu karyanya saja dapat menutupi biaya kepesertaan dan promosi global.
 
Mau tak mau, dunia lukisan memiliki dua mata belati. Di satu sisi idealisme seniman, sebaliknya komersialisme galeri. Rata-rata pelukis yang mengais pemasukan dari penjualan lukisan memang ada.
 
Sebut saja, Nikas Safronov, 64, pelukis Rusia yang namanya begitu tersohor seantero Eropa. Bahkan, oleh sebagian kritikus seni, Safronov disebut “Salvador Dali dari Eropa Timur”.
 
Hubungan Dali (1904-1989) dengan seniman Rusia memang begitu dekat. Dia sering mengunjungi Moskwa semasa hidupnya. Dali bahkan memilih istri keduanya seorang janda Rusia, Elena Diakonova atau lebih dikenal Gala Dali.
 
Dali pernah menulis memoar dan dibukukan. Judulnya,The Diary of a Genius (Prancis: Journal d'un Génie). Diterbitkan pertama kali pada 1964 di Paris. Mereka menikah pada 1934.
 
Gala sebelumnya bersuami seorang penyair terkenal Prancis, Paul Eluard. Mereka memulai hidup bersama pada 1917. Namun, memutuskan untuk berpisah baik-baik pada 1929.
 
Tak heran, nama Safronov menjadi perbincangan hangat di kalangan kritikus seni, kurator dan politikus. Dia piawai melukis potret Dali yang kemudian disandingkan dengan dirinya dalam karya-karya bercorakself portrait. Itu membuat nama Safronov lekat dengan Dali.
 
Safronov hidup mewah di apartemennya. Tidak jauh dari kawasan Kremlin. Karya-karyanya terbilang mahal dan banyak permintaan. Terutama, oleh tokoh-tokoh politik dunia yang kerap berkunjung ke Moskwa.
 
Terlepas dari sosok di atas, perhelatan ajang Contemporary Art Fair di Innsbruck telah jadi barometer penting di tengah pandemi. Bahkan Van Gogh Gallery, sebuah galeri seni kontemporer berbasis di Madrid, Spanyol, mengundang sejumlah kurator independen untuk ikut program kolaborasi.
 
Daiana Fernandez, seorang rekan kurator dari Van Gogh Gallery, sempat mengirimkan saya sebuah undangan agar turut bekerja sama lewat program tersebut. Fernandez memintai nama-nama seniman Indonesia untuk dipertimbangkan masuk dalam program kolaborasi.
 
Pelukis kontemporer, Sugiri Willim, misalnya, salah satu sosok yang saya kabarkan tentang ajang pesta seni di Innsbruck, itu. Dia mengaminiart fairmenjadi wadah menarik. Namun, dalam kondisi pandemi terasa sulit.
 
Saya sependapat dengan Sugiri. Terpaan pandemi memang dahsyat menyulitkan seniman. Mobilisasi antar-negara diperketat. Di samping itu, untuk berpartisipasi pada ajang internasional, perlu dipersiapkan karya sejauh-jauhnya. Minimal enam bulan sebelumnya.
 
Pameran virtual
 
Seniman di era kontemporer wajib memiliki patron, jaringan kerja, dan relasi untuk bisa mendunia. Patut berkaca pada perhelatan sepertiArt Russia: Contemporary Art Fairdi Gostiny Dvor, Moskwa, Februari lalu.
 
Saya melihat seniman muda dan tua berkolaborasi secara sinergis. Mereka menghadirkan karya berkelas dunia diArt Russiaitu. Namun, rata-rata mereka mewakili galeri-galeri bonafide.
 
Tak diayal, kondisi ini hari membuat sejumlah ajang seni rupa berubah. Banyak pameran seni digelar secara virtual. Semua peserta hanya mengikuti pameran dari rumah masing-masing.
 
Penundaan sejumlahart fairpada tahun 2020 mengikuti kebijakan politik akibat situasi darurat di negara-negara yang terdampak Covid-19. Sebut saja Selandia Baru, yang terpaksa menundaart fair2020 dan akan dilangsungkan pada tahun ini. Yaitu,Virtual Auckland Art Fair,pada November 2021.
 
Saya pikir peradaban pandemi telah merubah cara pandang, orientasi, dan strategi pelaku seni rupa. Meski begitu, bukan berarti ruang gerak seni rupa ikut mati. Malah, kian menjadi tantangan pihak penyelenggara untuk berpikir lebih keras.
 
Pelaksanaan sejumlahart fairdi Innsbruck Moskwa, dan Auckland menjadi penting. Penikmat seni bisa melihat secara dekat perkembangan seni rupa kontemporer dunia.
 
Program kolaborasi jadi simbol bahwa seniman tanpa galeri ibarat pohon tanpa daun. Sebaliknya, galeri tanpa seniman ibarat payung tanpa gagang. Seni selalu mengikuti zaman. Usai pandemi, erapost-contemporarysiap menyambut kita.


 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif