Dewan Redaksi Media Group Abdul Kohar. MI/Ebet
Dewan Redaksi Media Group Abdul Kohar. MI/Ebet (Abdul Kohar)

Abdul Kohar

Dewan Redaksi Media Group

Antusiasme kian Meredup

Pilar minyak goreng Kementerian Perdagangan Podium
Abdul Kohar • 19 Maret 2022 05:00
‘JANGAN putus asa jika otak tumpul dan akal kurang cerdas. Kadang seseorang yang tumpul otak, tapi tidak putus asa lebih berhasil daripada seorang yang cerdas, tetapi pemalas’.
 
Kalimat bijak dari Buya Hamka itu merupakan satu dari banyak deretan kata-kata penyemangat dan pengingat agar kita tidak putus asa. Menyerah bukan pilihan, lebih-lebih bagi penentu kebijakan. Kalau penentu kebijakan menyerah, rakyat akan makin goyah.
 
Apalagi bila sang penentu kebijakan itu berotak encer dengan akal cerdas. Tentu, jurus 'lempar handuk' mestinya tidak ada dalam kamus kehidupannya. Dengan bekal otak encer, kecerdasan di atas rata-rata, plus sikap pantang menyerah, kemenangan tinggal menghitung hari.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Dalam pertempuran, juga peperangan, keyakinan itu separuh napas dan beberapa jengkal menuju kemenangan. Sebaliknya, pasrah pada keadaan ialah tanda paling benderang menuju kekalahan. Begitulah keyakinan yang digenggam para ahli perang. Keyakinan itu terbukti benar. Winston Churchill, ahli militer dan mantan PM Britania Raya, pernah berujar bahwa kemenangan pasukan Inggris dalam pertempuran tidak pernah didapatkan secara mudah. Kepada semua orang ia pun berkata, "Sukses ialah berjalan dari satu kegagalan ke kegagalan lain tanpa kehilangan antusiasme."
 
Maka, ketika menyaksikan Rapat Kerja Menteri Perdagangan dengan Komisi VI, tengah pekan ini, saya tengah menyaksikan meredupnya antusiasme itu. Licinnya minyak goreng membuat Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi seperti setengah pasrah. Bahkan, sejumlah media online melukiskannya dengan kata 'menyerah'.
 
Awalnya, secara terbuka Pak Menteri mengendus ada mafia-mafia di balik kosongnya minyak goreng di pasaran. Endusan itu berbasiskan data. Ia menyebut, dari data yang tersedia di mejanya, jutaan liter minyak goreng telah digelontorkan. Harusnya minyak melimpah. Namun, fakta di lapangan sebaliknya. Minyak goreng tidak sampai ke tangan masyarakat.
 
Berdasarkan data yang dimiliki, tiga wilayah yang distribusi minyak gorengnya berlimpah, seperti Jawa Timur, Sumatra Utara, dan Jakarta, justru minyak goreng susah ditemukan. Artinya, ada yang tidak beres di sini. "Medan mendapatkan 25 juta liter minyak goreng. Rakyat Medan, menurut BPS (Badan Pusat Statistik), jumlahnya 2,5 juta orang. Jadi, menurut hitungan, satu orang itu 10 liter. Saya pergi ke pasar dan supermarket Kota Medan, tidak ada minyak goreng," papar Mendag.
 
Di Jawa Timur, pemerintah mendistribusikan 91 juta liter minyak goreng. Di Jakarta, yang penduduknya 11 juta orang, pemerintah mengguyur 85 juta liter minyak goreng. Namun, masalahnya sama, minyak goreng hilang. Anehnya, selang beberapa jam setelah pemerintah mencabut harga eceran tertinggi (HET), minyak goreng langsung tersedia di rak-rak supermarket dan minimarket.
 
Dari data tersebut, Mendag Lutfi beserta jajarannya beranggapan bahwa ada tangan-tangan nakal yang bekerja. Sampai di sini, saya mengapresiasi kejujuran Pak Menteri. Meskipun kisah para mafia di dunia perdagangan ini cerita lama, keterbukaan Mendag menyampaikan hasil endusan itu tetap patut dihargai.
 
Namun, saat Pak Menteri menyebutkan tangan Kementerian Perdagangan tidak bisa menyentuh para mafia karena tidak cukup memiliki kewenangan, saya mulai mencium aroma meredupnya antusiasme tersebut. Apalagi ketika ia secara terbuka memohon maaf karena tidak sanggup melawan tangan-tangan yang rakus nan jahat itu sendirian, saya malah kian bertanya-tanya.
 
Di kepala saya menumpuk tanda tanya apakah memang ia dan jajarannya tengah bertempur sendirian? Ke mana tim Satgas Pangan yang pernah punya kisah gemilang menekuk para mafia itu? Jika benar dugaan maraknya tangan-tangan tersembunyi itu terus bekerja, bukankah perkara mudah bagi negara untuk memborgolnya? Negara punya aturan, memiliki tim, ada senjata, mengapa harus pasrah?
 
Pada situasi seperti saat ini, merawat antusiasme, memelihara optimisme, memupuk harapan amat dibutuhkan rakyat. Saya berbaik sangka bahwa pernyataan pasrah dari Mendag merupakan strategi, semacam wake up call agar kita punya sudut pandang yang sama soal siapa musuh kita sesungguhnya. Kalau sudut pandang sudah sebangun, harapannya semua bergerak bersama-sama melawan musuh itu.
 
Semoga kacamata pandang saya masih cukup benderang untuk membaca makna di balik kata-kata Pak Menteri. Semoga saya tidak terjebak pada apa yang pernah dikatakan Coco Chanel, perancang mode revolusioner dan pembuat parfum terkemuka di dunia. Kata Chanel, jangan habiskan waktumu memukuli dinding dan berharap bisa mengubahnya menjadi pintu.
 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif