Ilustrasi korona. Medcom.id
Ilustrasi korona. Medcom.id (Paul Polman, Cherie Nursalim)

Paul Polman

Chairman International Chamber of Commerce

Pragmatisme di Tengah Pandemi: Belajar dari Cara Singapura Melawan Korona

Pilar Virus Korona
Paul Polman, Cherie Nursalim • 21 Maret 2020 16:59
Oleh: Paul Polman* & Cherie Nursalim**
 
BADAN Kesehatan Dunia, WHO, diundang untuk menjelaskan situasi terakhir terkait pandemi virus korona dalam pertemuan dewan Kamar Dagang Internasional (ICC) yang dilakukan secara online. ICC adalah organisasi bisnis terbesar di dunia yang mewakili lebih dari 45 juta perusahaan. Organisasi ini juga merupakan suara dunia bisnis paling berpengaruh di organisasi-organisasi dunia seperti PBB, WTO dan G20.
 
ICC meminta para pemimpin G20 segera bersatu dalam pendekatan komprehensif dalam mengatasi Covid-19 untuk melengkapi upaya luar biasa WHO. Pendekatan itu berkisar dari mengurangi tarif-tarif impor pasokan dan alat kesehatan, imbauan terkait jaring pengaman sosial untuk sektor-sektor informal, stimulus bagi UMKM dan meningkatkan bantuan finansial untuk pelayanan kesehatan di negara-negara termiskin.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Sigap Sebagai Wakil Ketua ICC yang berbasis di Singapura, Cherie Nursalim menjelaskan pendekatan pragmatis dan efektif yang dilakukan negara itu agar dunia usaha dan sekolah tetap berfungsi meski dilanda masalah Covid-19 sejak Januari. Bagaimana negara yang paling padat dan tersibuk secara bisnis ini bisa menekan kurva mengantisipasi dan membatasi penderita positif sehingga tidak ada korban yang meninggal dan pembelajaran apa yang bisa diambil dari pengalaman ini?
 
Begitu banyak artikel yang menggambarkan tindakan yang dilakukan di tingkat tinggi pemerintah. Kami merasa terdorong untuk berbagi aksi ini dan meski situasi di setiap negara berbeda-beda, ada beberapa pembelajaran yang bisa diterapkan.

Kami menduga yang terpenting adalah 'mindset' (pola pikir). Satu pola pikir kewaspadaan di tingkat "luar biasa besar" untuk melawan virus yang tidak terlihat ini.


 
Ini adalah perang, perang biologi. Singapura sebagai pemerintah, kementerian kesehatan, tim medis, bahkan unsur-unsur keamanan bersatu dan terlibat dalam setiap kasus terkonfirmasi.
 
Mereka menyebut warga yang terjangkit sebagai kasus# untuk melindungi privasi dan identitas pasien.
 
Kami menganalogikannya: kasus # diperlakukan sebagai korban tidak tahu apa-apa yang badannya dililit senjata biologi. Mereka diperlakukan dengan hati-hati dan penuh hormat, dan dengan mengingat besarnya nasib yang akan dihadapi negara itu.
 
Ketika alarm merah tanda positif berbunyi, tim medis merawat kasus #, sementara unsur lain bergerak untuk mengidentifikasi orang-orang yang pernah melakukan kontak dengan pasien ini.
 
Setiap kasus positif Covid19 yang teridentifikasi dites di laboratorium akan diikuti dengan "case tracer" (penyisir kasus), yang tugasnya adalah secara digital mewawancara dan melacak serta mencari tahu orang-orang yang terpapar dengan kasus #. Langkah Singapura ini melebihi imbauan WHO yang hanya melacak jejak rekam kasus # selama 14 hari ke belakang dalam dua hari.
 
Dalam dua jam mereka mengirim laporan ke Kementerian Kesehatan yang berisi nama-nama anggota keluarga, orang yang pernah duduk atau berbicara di sekolah, tempat kerja, lingkungan rumah, pasar, tempat ibadah. Dan juga kapan interaksi itu terjadi.
 
Setelah kontak intim (dekat) teridentifikasi, satu proses lagi dilakukan yaitu memberi tahu badan-badan terkait untuk mengosongkan dan membersihkan tempat-tempat, memberi tahu dan melindungi orang yang diduga (suspect) dengan melakukan tes kesehatan. Bahkan jika kasus# naik Grab selama enam menit atau makan di tempat cepat saji, pengendara dan pramusajinya akan dilacak, dicek dan sebagian besar dikarantina di rumah selama 14 hari.
 
Setiap orang yang diidentifikasi berpotensi memiliki virus ini didukung dan dimonitor. Syarat-syarat isolasi dan karantina dijelaskan kepada mereka dan dengan tegas diterapkan serta diawasi antara lain pengecekan melalui telpon dadakan, kunjungan tanpa pemberitahuan. Ini dilakukan untuk memastikan warga mentaati aturan itu. Hal ini didukung oleh aturan hukum yang tegas bagi individu yang menolak mengikuti perintah keselamatan selama dikarantina.
 

Dukungan kesejahteraan
 
Bersamaan dengan tindakan tangan besi ini ada juga kebijakan kesejahteraan seperti subsidi finansial dan akomodasi aman bagi mereka yang tidak mampu. Selain itu ada juga pengawasan imigrasi seperti di Wuhan dan berbagi data intelijen seperti persekutuan jemaat keagamaan dengan 500 kasus positif di negara tetangga yang mendorong Singapura melakukan langkah-langkah mitigasi.
 
Direktur Jenderal WHO Dr Tedros meminta negara-negara di dunia untuk "tidak memerangi kebakaran dengan mata tertutup" dan "memutus rantai penularan" melalui pemeriksaan, tracing dan isolasi secara luas. Begitu banyak penelitian yang mengkonfirmasi kemanjuran langkah itu dalam mengendalikan penyebaran dan meratakan kurva sehingga fasilitas-fasilitas medis tidak menjadi kewalahan.
 
Singapura sejak lama berinvestasi untuk membina ahli-ahli bio-teknologi dan juga membangun fasilitas laboratorium. Mereka bisa mengembangkan alat tes sendiri secara cepat dan menyumbangkannya ke negara-negara lain dalam langkah yang disebut oleh Menteri Luar Negeri Dr Vivian Balakrishnan sebagai diplomasi alat tes.
 
Sejarah SARS bisa jadi mengakar pada "pola pikir" negara ini. Berfungsi seperti biasa di saat tidak biasa jarang terjadi. Singapura bisa menjadi opsi bagi keberlangsungan bisnis dan pragmatisme dalam menghadapi pandemi global.
 
Keputusan China menutup (lockdown) Wuhan dan mengendalikan wabah ini juga efektif dalam melawan Covid 19, dengan tidak ada kasus baru di negara itu. China pun mulai mengirim para ahli dan memasok alat medis ke negara lain mulai dari Amerika Serikat, Eropa dan ASEAN.
 
Tentu saja pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dan banyak sektor-sektor lain yang mulai ikut membantu untuk ikut membantu melindungi warga miskin dan komunitas pada umumnya. Cerita-cerita tentang solidaritas bisa ditemukan di berbagai belahan dunia, gotong royong di Amerika, bernyanyi di Italia dan Spanyol, para pemimpin tri sector United in Diversity dan Youths Collab4Health di Indonesia, kegiatan berbasis kesadaran bersama GAIA (Global Activities of Intention and Action) dan World Economic Forum Young Global Leaders bersatu dalam COVID Action Platform.
 
Ketika roda ekonomi berada dalam situasi sulit dengan kontraksi terkait nyawa manusia dan kegiatan ekonomi di seluruh dunia, mungkin sudah saatnya untuk bersatu dalam jalinan "kemanusiaan yang saling terkait". Mungkin ini adalah satu lingkaran keseimbangan (balancing loop) dari "planet kita" agar tercipta satu keseimbangan.
 
Ini bisa jadi virus "micron", namun hal ini menjadi pembelajaran "besar" bagi kemanusiaan.
 

* Ketua IMAGINE/Chairman International Chamber of Commerce
**Vice Chairman GT Group/Vice Chairman International Chambers of Commerce

 

*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id
 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif