Ilustrasi: Medcom.id
Ilustrasi: Medcom.id (Charles Meikiansyah)

Charles Meikiansyah

Anggota DPR RI 2019-2024

Solidaritas Nasional Melawan Covid-19

Pilar virus corona
Charles Meikiansyah • 28 Maret 2020 20:00
DI TENGAH kebijakan Work from Home (WfH), saya mencoba mengamati media sosial. Isinya perdebatan tentang bagaimana harusnya kita merespon covid-19. Bising memang, tapi saya senang karena semua ternyata mencintai republik ini. Perhataian, kritik, masukan memang selayaknya mereka sampaikan agar jalannya republik sesuai cita-cita.
 
Dari seluruh perdebatan, ada yang lebih membahagiakan, yaitu menyuarakan kepedulian. Ada juga yang mengirimkan do’a agar seluruh tenaga medis selamat, membelikan makanan untuk ojek online, sampai penggalangan dana melalui online untuk membeli ADP (alat pelindung diri), atau masker. Banyak juga anak muda yang peduli untuk meringankan beban masyarakat yang rentan terhadap covid-19.
 
Ketika awal Covid-19 menyerang Indonesia, kita hanya bergerak atas inistatif individu maupun kelompok. Belum menjadi gelombang besar. Tapi sejak dua minggu setelah pasien pertama diindentifikasi sebagai suspect covid-19, gelombang solidaritas terus membesar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Bergerak sukarela Itu juga yang dikerjakan NasDem. Di awal covid-19 ditemukan, kita sebagai kader maupun kelompok hanya bergerak secara sukarela yang jangkauanya terbatas seperti pembagian masker, hand sanitizer oleh beberapa kader maupun DPRT (Dewan Pimpinan Ranting) NasDem yang ada di level RT.


Gerakan yang dimulai secara sukarela itu terus membesar, tidak hanya kebijakan partai yang mengarusutamakan pencegahan dan penganggulangan covid-19 melainkan juga menggerakkan seluruh elemen bangsa.


Maka ketika ketua umum Partai NasDem, Surya Paloh menghibahkan The Media Hotel and Tower, gelombang solidaritas di partai NasDem terus membesar. Gelombang tersebut membentuk swarm intelligence (kecerdasan kolektif) berlandaskan kepada collective behaviour (perilaku kolektif ). Hal itulah yang membuat NasDem hari ini menjadi partai yang solid dari tingkat atas sampai bawah memerangi covid-19.
 
Potong gaji DPR
 
Tentu gelombang kebaikan tidak boleh berhenti tatkala kita masih dirundung kesedihan karena data yang menjadi korban Covid-19 terus membesar dengan wilayah yang makin luas. Kita tidak boleh berhenti berbuat untuk negeri.
 
Partai NasDem bersama partai lain sudah memutuskan untuk memotong 50 persen gaji para legislatornya. Tujuanya agar kebaikan tidak berhenti dan terus menjadi inspirasi. Solidaritas nasional harus dihidupi agar kita bersatu melawan covid-19.
 
Maka ketika saya melihat gelombang besar para pemuda yang menggalang bantuan dan kekuatan, NasDem juga berada dalam satu resonansi dan satu energi. Kami sadar, solidaritas harus dihidupi agar kita bisa bahu-membahu melawan covid-19.
 
Tentu saja, berbagai aksi solidaritas dan pemotongan gaji anggota DPR juga harus sampai ke daerah (DPRD). Semangat tersebut harus melibatkan semua elemen bangsa, semua partai, para pejabat eksekutif di pusat maupun di daerah, dan para pengusaha. Semua bergerak hingga menjadi gelombang besar yang akan “menggulung” covid-19.
 
Saatnya bersatu
 
Inilah saatnya kita bersatu melupakan semua perbedaan (terutama di media sosial) dalam kurun waktu 2014 sampai 2019. Inilah waktu yang tepat mendobrak polarisasi yang tajam akibat Pilpres.
 
Kita harus mulai kembali duduk bersama demi kepentingan negara. Solidaritas nasional merupakan modal yang baik agar kita menjadi negara besar di masa mendatang.
 
Menyongsong satu abad kemerdekaan, kita dihadapkan pada rententan peristiwa yang terus menguji kita sebagai bangsa, juga sebagai negara. Kita mampu melewatinya dengan gotong royong dan solidaritas satu sama lainya. Dengan cara yang sama, kita pun akan mampu melawan pandemi covid-19.
 
Di tengah musibah selalu ada hikmah. Di tengah bencana, kita harus bekerjasama, melupakan semua perbedaan. Dalam situasi krisis seperti ini, kemanusiaan menjadi hal yang utama, ketika semua pihak melupakan berbagai perbedaan.
 
Saya jadi teringat ungkapan filsuf Italia, Lucius Annaeus Seneca (Seneca), yang mengatakan Siaomo onde dello stesso mare, foglie dello stesso albero, fiori dello stesso giardino (kita adalah ombak di laut yang sama, dedaunan di pohon yang sama, dan bunga di taman yang sama). Salam.
 
*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id
 

 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif