Ilustrasi medcom.id: Mahfud MD dan Luhut Binsar Panjaitan
Ilustrasi medcom.id: Mahfud MD dan Luhut Binsar Panjaitan (Saikhu Baghowi)

Saikhu Baghowi

Jurnalis Senior Metro TV

Legenda Newsmaker

Pilar The Legend of Newsmaker
Saikhu Baghowi • 30 Juni 2020 08:00
YANG DIMAKSUD legendanewsmaker dalam tulisan ini adalah, tokoh yang menjadi sumber berita lantaran masa karirnya di pemerintahan sekitar 20 tahun. Legendayang dimaksud dalah tokoh yang masih hidup hingga saat ini, dan tetap berkarir di pemerintahan.
 
Pemerintahan tidak selamanya diartikan di lembaga eksekutif, namun bisa juga di lembaga lain, dalam konteks penyelenggara negara, seperti DPR, MK, duta besar, ataupun badan lain bentukan pemerintah. Boleh jadi karena suatu alasan, sang tokoh akhirnya memilih jalan lain di luar pemerintahan dalam waktu 2-3 tahun. Namun nasib kembali membawanya kembali ke pemerintahan untuk mendedikasikan diri demi negara.
 
Newsmaker tidak lantas diartikan sepak terjangnya jauh dari kontroversi. Namun perbuatan dan pernyataannya senantiasa menjadi sumber berita di media, baik televisi, radio, media online maupun media cetak.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Namannya Mohammad Mahfud Mahmoeddin. Pria kelahiran Sampang Madura, 13 Mei 1957. Baru saja usianya menginjak 63 tahun. Kartu “hidup” Mahfud MD
 
Kita biasa menyebutnya Mahfud MD. Kalau melihat jejak karirnya di pemerintahan, bisa dibilang, orang ini tidak ada “matinya”. Kartu trufnya selalu hidup di jaman pemerintahan siapapun.
 
Sekarang Mahfud MD menjabat Menko Polhukam di Kabinet Indonesia Maju 2019-2024. Karena dia menteri strategis, sangat maklum bahwa pernyataan dan perbuatannya hampir selalu mewarnai pemberitaan di berbagai media.
 
Perjalanan karir Mahfud MD dimulai pada tahun 1999. Jabatan publiknya dimulai sebagai Plt Staf Ahli dan Deputi Menteri Negara Urusan HAM.
 
Publik mulai mengenalnya saat dia dipercaya menjadi Menteri Pertahanan pada era pemerintahan Abdurrahman Wahid (2000-2001). Setelah Abdurrahman Wahid lengser, Mahfud MD mampu mempertahankan jabatan publiknya sebagai wakil ketua Tanfid DPP PKB, hingga akhirnya mengantarkannya ke Senayan sebagai anggota DPR, hasil pemilu 2004.
 
Sebagai politikus DPR di Komisi III DPR (2004-2008) , komisi yang dianggap seksi di mata media, Mahfud MD kembali sering menjadi sumber berita. Ketika masa periode DPR hendak habis, Mahfud ikut seleksi pemilihan anggota Mahkamah Konstitusi (MK). Mahfud akhirnya malah terpilih sebagai Ketua MK periode 2008-2013.
 
Persidangan yang saat itu dipersepsikan publik kaku dan birokratis, mulai terkikis. MK bahkan menjadi media darling, lantaran ramah sebagai sumber mendapatkan berita.
 
Gebrakan Mahfud
 
Gebrakan yang dilakukan Mahfud juga mendapatkan dukungan publik. Salah satu gebrakan fenomenalnya, manakala MK pada November tahun 2009 menggelar persidangan rekayasa kriminalisasi dua pimpinan KPK saat itu, yakni Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah.
 
Dari rekaman dengan durasi 4,5 jam, publik bisa menerka bagaimana peran Anggodo Widjaya “bermain” dengan aparat. Istilah cicak vs buaya begitu melekat di publik, hingga “perang” antara KPK dan Polisi, di mata media diistilahkan cicak vs buaya jilid satu, dua, dan tiga.


Lepas dari jabatannya sebagai ketua MK pada tahun 2013, tidak memupuskan karir Mahfud MD. Mahfud kerap diundang media dalam kapasitasnya sebagai pakar hukum tata negara dan mantan Ketua MK, untuk dimintai perspektifnya atas kasus-kasus hukum ketatanegaraan.


Pada tahun 2014, saat pilpres, Mahfud MD didapuk sebagai ketua tim Nasional pemenangan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Saat itu sebagian publik mencibir sikap politik Mahfud MD. Namun ketika hasil Pilpres memenangkan Jokowi-JK, sedangkan Prabowo menggugat ke MK, Mahfud memilih mundur sebagai ketua tim kampanye.
 
Lagi-lagi, Mahfud mampu menghidupkan kariernya untuk terus bersinar. Presiden Jokowi, memberi kepercayaan kepada Mahfud untuk menjadi anggota Dewan Pengarah Unit Kerja Pembinaan Ideologi Pancasila, yang akhirnya melahirkan BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) pada tahun berikutnya. Fragmentasi agama dan politik, politik identitas yang bergolak lantaran Pilgub Jakarta 2017, Mahfud MD tetap menjadi rujukan media sebagai sumber berita.
 
Hingga akhirnya pada pengumuman Kabinet Indonesia Maju, Oktober 2019, Mahfud MD dipercaya Jokowi memangku jabatan Menko Polhukam.Selama rentang waktu yang lama, 21 tahun, sejak 1999, karir Mahfud MD di pemerintahan tak pernah padam. Bahkan dia hampir selalu menduduki jabatan puncak di institusinya: Menteri Pertahanan, Menteri Kehakiman, Ketua MK, sampai Menko Polhukam.
 
Saya menyebut Mahfud MD, legenda newsmaker. Tokoh yang senantiasa menjadi media darling, dan melewati enam masa pemerintahan: Gus Dur, Megawati, dua periode era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, hingga dua periode era pemerintahan Jokowi.
 
Karier Luhut
 
Adakah tokoh lain selain Mahfud MD? Tokoh lain yang layak mendapat predikat legenda newsmaker adalah Jenderal Purnawirawan Luhut Binsar Pandjaitan.
 
Saya tidak perlu menyebutkan karir militer Luhut. Sama halnya saya tidak mennyebutkan sepak terjang Mahfud MD sebagai akademisi. Yang saya soroti adalah perjalanan karirnya di pemerintahan.
 
Sama halnya dengan Mahfud, karir Luhut Binsar Pandjaitan di pemerintahan dimulai pada tahun 1999 saat menjabat sebagai Duta Besar RI Berkuasa Penuh untuk Singapura (1999-2000). Ketika itu, Presiden ketiga RI BJ Habibie ingin memulihkan hubungan RI dan SIngapura sebagai dampak dimulainya era reformasi.
 
Pemerintahan selanjutnya, Presiden Abdurrahman Wahid membutuhkan Luhut mengisi Kabinet Persatuan Nasional. Belum habis masa tugasnya sebagai Duta Besar RI berkuasa Penuh untuk SIngapura, Gus Dur mendaulatnya sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan.
 
Sayang, pemerintahan Gus Dur tidak berlangsung lama. Jabatan Luhut pun diembannya dalam waktu relatif singkat, sekitar setahun.

Pada era rezim Megawati, sebenarnya Luhut masih dibutuhkan di kabinet. Namun dengan alasan menghormati Gus Dur, Luhut memilih untuk membangun usaha. Nama Luhut pun tenggelam dalam pemberitaan semasa rentang waktu sekitar 3 tahun.


Era pemerintahan Jokowi periode pertama, membawa keberuntungan bagi Luhut Binsar Pandjaitan, lantaran jasanya pula mengantarkan kemenangan Jokowi pada Pilpres 2014. Tepatnya pada tanggal 31 Desember 2014, Luhut mengemban amanat sebagai Kepala Staf Kepresidenan.
 
Dekat dengan Jokowi
 
Tak berhenti sebagai Kepala Staf Kepresidenan, Jokowi bahkan memercayakan Luhut menjadi Menko Polhukam pada Agustus 2015 menggantikan Tedjo Edhy (2015-2016). Rangkap jabatan ini sempat menimbulkan kontroversi, kendati Luhut menepis bahwa rangkapan jabatan bukanlah masalah, selama dia mampu mengemban tugas kedua jababatannya.
 
Tak berapa, setelah Menko Maritim Rizal Ramli banyak mengundang kontroversi, Jokowi akhirnya kembali memercayakan Luhut menggantikan Rizal Ramli (2016-2019). Posisi Menko Polhukam akhirnya diisi oleh pensiunan jenderal Wiranto.
 
Kurang dari lima tahun, dalam masa pemerintahan yang sama, di kabinet yang sama, Luhut menduduki jabatan pemerintahan dari Kepala Staf Kepresidenan, Menko Polhukam, dan akhirnya Menko Kemaritiman. Luhut memang dikenal dekat dengan Jokowi.
 
Saat uji kelayakan menteri kabinet Jokowi jilid II, publik penasaran, kemana akhirnya Luhut. Dan terjawab, di menit-menit terakhir, Jokowi kembali mengundang Luhut. Luhut pun akhirnya dipercaya kembali menduduki Jabatan Menko Maritim dan Investasi (2019-2024).


Sama halnya dengan Mahfud MD, Luhut Binsar Pandjaitan, mampu mengisi ruang pemberitaan hampir 20 tahun lebih. Keduanya pun Layak mendapatkan predikat, the legend of news maker.


Kandidat lain yang masih mungkin menyandang predikat the legend of news maker adalah Sri Mulyani Indrawati. Namun, Sri Mulyani mulai menduduki jabatan di pemerintahan sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas pada tahun 2004. Artinya belum sampai 20 tahun karirnya di pemerintahan.
 
Kendati demikian, terlepas dari kontroversi yang menyertainya, sepak terjang ahli keuangan ini boleh jadi tetap dibutuhkan pada masa pemerintahan ke depan. Wallahu alam.[]
 
*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id.
 
TERKAIT

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif