Salah satu adegan dalam film Ready Player One/readyplayeronemovie.com
Salah satu adegan dalam film Ready Player One/readyplayeronemovie.com (Asep Setiawan)

Asep Setiawan

Kepala Media Research Center (MRC) Media Group

Dunia Maya Mungkin jadi Dunia Masa Depan

Oase internet
Asep Setiawan • 19 Februari 2018 14:15
Asep Setiawan
Head of Media Research Center (MRC)

 
SUTRADARA Stephen Spielberg akan meluncurkan film baru bulan Maret 2018 yang berkisah petualangan pemuda miskin di dunia maya dengan judul mirip bukunya Ready Player One. Buku karya Ernest Cline yang terbit 2011 ini merupakan imajinasi bagaimana kehidupan manusia masa depan. Sebagian teknologi itu sudah tersedia sekarang namun dengan kisah yang imajinatif dengan latar belakang tahun 2044, maka novel ini sungguh mengagumkan. Tidak heran kalau kemudian sutradara ternama Spielberg mengangkatnya ke layar lebar.
 
Coba kita bayangkan dulu kisah dalam buku ini dengan gaya penuturan menarik dan detil permainan game yang luar biasa. Tahun 2044 dikisahkan penduduk bumi dipenuhi dengan kota-kota kumuh karena ledakan penduduk, polusi, korupsi dan juga perubahan iklim. Bahkan karena tekanan hidup ini maka gaya kehidupan manusia berubah. Mereka mencari hiburan dan petualangan bahkan kehidupan di dunia maya yang digambarkan dalam buku in sebagai OASIS (Ontologically Anthropocentric Sensory Immersive Simulation).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Di dunia maya OASIS inilah hidup berubah, orang miskin tidak lagi harus memperlihatkan dirinya tidak punya apa-apa. Dia bisa hidup dengan mengubah avatar dirinya menjadi keren, namanya pun bisa tidak persis dengan jati dirinya. Bahkan digambarkan bekerja dan sekolah pun sampai dengan hiburan asyik di dunia maya. Untuk mengakses nya digunakan kaca mata virtual VCR yang sekarang bisa dijual dengan harga ratusan sampai jutaan rupiah. Bedanya dalam OASIS ini sentuhan tangan menggunakan sarung tangan virtual sehingga kita seperti hidup di dalamnya, seluruh sensor kehidupan direkam oleh mata dan sarung tangan itu layaknya dalam kehidupan sehari-hari. Nah kisah ini menariknya karena tokoh novel ini yang dilukiskan sebagai pemuda miskin Wade Watts, pengunjung setia OASIS yang digambarkan gratis untuk semua orang bertualang mencari harta karun yang jadi rebutan di dunia maya ini. Saking miskinnya pemuda Wade digambarkan hidup di rumah bibinya yang merupakan trailer barang dan dia sehari-hari tidur di atas mesin cuci. Dia seorang pelajar miskin namun dengan kemampuannya menguasai berbagai game dan pustaka yang kaya raya di OASIS ini, Wade dengan nama avatar Parzival berlomba menemukan peninggalan pemilik OASIS melalui berbagai game sehingga dia disebut sebagai “egg hunter”.
 
Pemilik OASES James Halliday yang meninggal dunia berwasiat bahwa dirinya meninggalkan Telur Paskah yang apabila ditemukan akan menjadi pemilik OASIS dan sekaligus mewarisi harta kekayaan Halliday yang digambarkan samnpai 500 milyar dollar. Namun kisah ini tentu tidak seru kalau tidak ada tokoh antagonis yang dimainkan oleh Innovative Online Industries (IOI), perusahaan raksasa di dunia maya dan nyata yang juga ingin menguasai OASIS. Niatnya adalah membuat pengakses OASIS di seluruh dunia harus membayar. Disinilah kemudian novel ini menjadi seru karena pertarungan mengejar telur emas ini dibumbui dengan aksi-aksi pertarungan, pertemanan dan romans melalui game bahkan pertarungan pasukan dunia maya.
 
Dunia Maya Mungkin jadi Dunia Masa Depan
Novel Ready Player One karya Ernest Cline yang dirilis 2011/Goodreads
 
Harta dunia maya
 
Novel yang akan dirilis dalam film akhir Maret 2018 ini berkhayal akan dunia yang virtual namun sesungguhnya dunia itu sudah hadir sekarang. Tengoklah berapa pengguna Facebook seluruh dunia yang menurut statisca.com mencapai 2,1 milyar orang dari sekitar 7,8 milyar penduduk. Interaksi terjadi meski masih sebatas teks, gambar, audio dan video namun bisa saja sebentar lagi menjadi dunia maya yang dapat diakses melalui kaca mata virtual sehingga menjadi kehidupan sosial yang normal.


Belum dihitung dengan media sosial seperti Instagram yang sekarang bernilai tinggi karena aspek bisnisnya bisa bernilai ratusan juta rupiah apabila pengikutnya banyak dan menjadi peng-endorse produk.


Dunia maya lainnya yang sudah bernilai bisnis nyata adalah situs e-commerce. Tumbuh bagai jamur beberapa tahun terahir adalah situs-situs penjaja barang online seperti Tokopedia, Bukalapak, Mataharimall, Blibli, Elevania dan lainnya yang masih menjual barang nyata melalui dunia maya. Transaksi totalnya pun sudah bukan hitungan puluhan ratusan juta bahkan milyaran rupiah per harinya.
 
Belum lagi bagaimana pelayanan digital melalui Go-jek, Grab serta Uber untuk transportasi yang kemudian menjadikan disruption bagi para ojeg dan bahkan pengusaha taksi seperti Bule Bird. Imajinasi dalam novel Ready Player One menggambarkan bagaimana kreasi di dunia virtual ternyata juga bisa dijual. Untuk avatar yang kita miliki bahkan kita bisa membeli mobil, baju, senjata dan perlengkapan lainnya. Bahkan untuk transportasi dari satu tempat ke tempat lainnya terdapat kendaraan virtual yang juga harus bayar dengan mata uang di dunia maya.
Dengan kata lain ada kecenderungan bahwa kehidupan manusia bahkan di dunia pendidikan sudah terjadi sekarang bagaimana dunia maya ini menjadi tempat potensial yang bernilai komersial tinggi. Di Barat sekarang berlomba bagaimana mesin dunia maya ini cerdas sehinga bisa bergerak sendiri. Coba tengok saja bagaimana bitcoin – mata uang maya- sekarang dapat digunakan di sejumlah negara dan sejumlah perusahaan. Ini menunjukkan bahwa dunia maya adalah hartu karun yang belum tergali bahkan oleh banga Indonesia sendiri.
 
Baca: [Medcom Files] Geger Uang Virtual
 
Kehidupan maya bangsa
 
Sebuah bangsa mau tidak mau perlu memersiapkan kehidupan di dunia maya ini karena untuk meningkatkan kesejahteraan sekaligus menjaga keamanan. Salah satu contoh bagaimana kehidupan maya zaman now ini memiliki ancaman keamanan dapat dilihat dari pengalaman bagaimana Negara Islam Iran Suriah yang disebut ISIS berkampanye secara digital dan mampu merekrut ribuan orang dari seluruh penjuru dunia untuk datang ke daerah mereka. Tidak hanya dengan kampanye maya mereka dapat menyebarkan ideologinya dan bahkan bersedia membela ideologi ISIS ini.
 
Poster https://readyplayeronemovie.com/Bangsa yang memiliki visi ke depan mau tidak mau perlu memikirkan dunia yang digambarkan dalam Ready Player One ini. Indonesia sendiri sudah memiliki pengakses dunia digital sampai 135 juta orang, sekitar separuh dari warga negara. Ini menunjukkan potensi adanya pengetahuan mengenai dunia maya ini. Hanya seperti sekarang jangan sampai dunia maya malah jadi sumber hoax dan permusuhan, bukannya menjadi sumber kekuatan. Di sinilah bedanya bangsa yang mampu memanfaatkan harta dunia maya dengan bangsa yang hanya pandai beretorika. Pengalaman dari bangsa Indonesia, bahkan harta karun dunia nyata seperti minyak, gas dan emas juga habis dikuras oleh lembaga bisnis internasional. Jadi jangan sampai di dunia maya pun Indonesia hanya menjadi konsumen, tidak menjadi pemain.
 
Bukan untuk promosi, tampaknya film itu bisa jadi hiburan sekaligus pelajaran bagaimana kehidupan ketika tumpang tindih antara maya dan nyata. Pertarungan di dunia maya dapat diakhiri dengan pertarungan di dunia nyata karena rahasia di dunia nyata terbongkar dan dirusak. Tentu harapannya, bangsa Indonesia bisa menjaga bangsanya sehingga mampu menjadikan dunia maya penambah kesejahteraannya, sekaligus mendapatkan telur emas-nya.[]
 

 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif