Karya lukis berjudul “Magic Box” hasil sapuan Sugiri. Foto-foto: Pameran 7 Mira[rt]cle
Karya lukis berjudul “Magic Box” hasil sapuan Sugiri. Foto-foto: Pameran 7 Mira[rt]cle (Iwan Jaconiah)

Iwan Jaconiah

Penyair, esais, kandidat PhD Culturology di Universitas Negeri Sosial Rusia.

Tujuh dan Mitologi

Pilar pameran lukisan Virus Korona Karya Seni
Iwan Jaconiah • 13 Mei 2021 08:00
MEMAHAMI mitologi berarti menafsir mata batin. Dalam mitologi Mesir kuno, angka tujuh dianggap sebagai simbol kesempurnaan dan efisiensi. Angka tujuh digunakan untuk menyiratkan tanda baik buruknya peristiwa.
 
Angka tujuh jadi simbol di berbagai kebudayaan tua dunia. Bahkan, sering sebagai keberuntungan dalam budaya timur, semisal di Jepang. Masyarakat di sana percaya ada tujuh dewa kebaikan dalam sosial kultural di Negeri Sakura.
 
Di Indonesia, angkat tujuh menjadi tafsiran tersendiri bagi sekelompok seniman yang sedang menggelar pameran bersama bertajuk7 Mira[rt]cledi Seminyak Village, Bali, pada Jumat, 7 Mei 2021, sampai Senin, 7 Juni 2021, mendatang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Mira[rt]cleterdiri atas penggabungan katamiracle(ajaib) danart(seni). Ada tujuh perupa yang terlibat, yaitu Sugiri Willim, Syahrizal Pahlevi, Hari Prast, Mahendra Mangku, Nyoman Sani, Satya Cipta, dan Wolfgang Widmoser. Masing-masing perupa menghadirkan karya yang bergaya dan bercorak beda. Mulai dari lukisanpop art, abstrak,drawing, dan karya patung trimatra. Semua menyatu lewat “keajaiban” di peradaban pandemi ini.
 
Sugiri, 56, seniman kontemporer asal Kalimantan Barat dan kini berkarya di Jakarta, mengirimkan sebuah rekaman video berdurasi 29 menit kepada saya. Isinya tentang karya-karya terbarunya yang ikut dipajang dalam pameran tersebut, pada Minggu, 9 Mei 2021.
 
Memang, sulit bagi saya untuk menganalisis karya-karya pada pameranMira[rt]cle. Sebab, diperlukan analisis dan kajian secara objektif. Latar belakang proses pembuatan karya, ide di balik karya, dan ideologi seniman. Tiga hal ini mutlak untuk menilai baik-buruknya suatu pameran.
 
Tertentu saja, itu unik untuk melihat dan merasakan pameran. Namun, untunglah Sugiri juga melampirkan sebuah katalog elektronik. Memuat karya-karya tujuh peserta yang sedang berpameran secara terperinci.
 
Barangkali, masih dalam situasi pandemi ini, memang lebih baik menyaksikan pameran seni melalui rekaman video,livevirtual, dan katalog elektronik. Ini penting untuk menghindari kerumunan di ruang publik sehingga ikut mendukung angka penurunan covid-19.
 
Dalam setahun terakhir, pameran seni rupa di berbagai negara sedang stagnan. Tidak hanya di Indonesia, melainkan juga di Rusia dan Jerman. Forum-forum virtual lebih diutamakan sebab menjangkau banyak penikmat seni lintas negara.
Mahendra Mangku - Menembus Ruang
KaryaMahendra Mangku berjudul Menembus Ruang #1
 
Pameran7 Mira[rt]clememang penting. Para seniman seakan menunjukkan kepada dunia tentang geliat seni rupa dari Pulau Dewata perlahan bangkit. Apalagi, selama ini, Bali menjadi barometer pariwisata bagi wisatawan mancanegara.

Bayi dalam seni kontemporer

Sugiri menghadirkan karya-karyapop artyang memiliki satu benang merah. Karya-karya terbarunya mengusung tema wajah balita. Sebut saja, karya lukis berjudul “Polkadot Baby Series” (50 cm x 50 cm, cat akrilik di atas kanvas, 2021).
 
Terdapat tiga obyek bayi bermata besar dan berambut warna-warni. Permainan simbol begitu kuat Sugiri hadirkan. Ada semacam tafsiran atas bayi-bayi ajaib yang terlahir dan tumbuh di tengah pandemi ini.
 
Karya lainnya, yaitu “Magic Box” (120 x120 cm, akrilik di atas kanvas, 2020),“Stay at Home Christina”(150 x 150 cm, akrilik di atas linen, 2020), dan “Jebakan Batman: New York”(50x50 cm, akrilik di atas kanvas, 2021).
 
Karya “Magic Box”,misalnya, memiliki obyek bayi dengan latar belakang garis asimetris dan diagonal. Sejenak, mengingatkan saya pada karya-karyaavand gardeyang sempat melejit di Moskwa dan Petersburg 1930-an.
 
Meski demikian, Sugiri mengaku tidak terpengaruh karyaavant gardeseperti yang diwakili oleh seniman kawakan Rusia Kazimir Malevich (1879-1935). Melainkan, terpengaruh atas analisis karya pelukis Belanda Piet Monderian (1872-1944).
 
Mengamati karya Sugiri memang perlu pendekatan sejarah seni rupa abad ke-20. Apalagi, dia mengusung dasarpop artyang digabungkan dengan penafsirannya atas karya-karya maestro dunia.
 
Ini memang lumrah bagi seniman untuk membaca kembali gerakan seni rupa abad silam. “Magic Box”,memang mencantumkan unsur diagonal ala Monderian. Namun, hanya di latar belakang obyek bayi.
 
Terlepas dari pengaruh tokoh maestro dunia, Sugiri masih main aman. Dia berfokus pada wajah anak-anak balita oriental, yaitu obyek berupa anaknya sendiri. Bayi dengan mata besar peranakan sebagai ciri khas dalam serial lukisannya. Bahkan, saking bereksperimen, dia juga terpengaruh karya pelukis Jepang, Yayoi Kusama.
 
Tak diayal, obyek bayi dalam dunia kontemporer menjadi perhatian serius. Seniwati asal Arab Saudi, Halla Bint Khalid, misalnya, sempat jadi perbincangan hangat para kritikus seni saat dia menghadrikan mesin bayi.
 
Karya-karya Halla berupa obyek bayi sempat dipamerkan di berbagai negara. Termasuk, pada helatan kedelapan Moscow International Biennale of Contemporary Art di Tretyakov Gallery, 2019. Saya hadir dan melihat langsung karya yang kuat akan pesan filosofisnya. Namun, berbeda dengan Sugiri tentunya.

Permainan simbol

Kini, melalui pameran7 Mira[rt]cle, Sugiri kian menunjukkan kualitasnya sebagai perupa kontemporer. Hal itu penting karena dia tidak hanya membaca situasi kekinian. Namun juga, berkaca pada sejarah seni rupa itu sendiri.
 
Karya lain yang saya kira penting dalam pameran itu adalah suguhan pelukis abstrak Mahendra Mangku, 49. Karya-karyanya terasa kuat pada permainan garis dan pesan yang dituangkan secara jeli.
Syahrizal Pahlevi - Guggenheim Series
Karya Syahrizal Pahlevi berjudul Guggenheim Series
 
Tengok saja karya berjudul “Menembus Ruang #1” (90 cm x 80 cm, akrilik di atas kanvas, 2021). Dua warna, hitam dan merah, bercampur dalam perpaduan absurditas. Garis-garis yang ada memberikan simbol mitologi. Mahendra menafsirkan kondisi pandemi. Ada harapan pada hari esok yang lebih baik.
 
Begitu pula karya pelukis Syahrizal Pahlevi, 56, berjudul “Guggenheim Series” (55 cm x 55 cm monotype,hand painted on paper2021). Ada enam seri lukisan dia gabungkan menjadi satu napas. Semacam ada deformasi abstrak. Memikat mata batin dan menggugah perasaan.
 
Secara garis besar lewat perspektif kultural, baik pendekatan sejarah seni rupa maupun filsafat, pameran7 Mira[rt]clebelum memiliki satu kesatuan simbol. Benang merah, yang diharapkan bermuara pada geliat seni kontemporer, masih kurang ditonjolkan.
 
Tema sebagai pengikat utama dalam menyatukan setiap karya belum begitu spesifik. Begitu pula asas ideologi masing-masing karya masih terpisah-pisah. Boleh dibilang, belum menyentuh kehidupan realitas masyarakat. Meski satu dua pelukis matang menghadirkan suspensi itu.
 
Terlepas dari itu semua, saya pikir tujuh seniman telah mampu bersatu menyampaikan kecemasan. Mereka menghadirkan pesan “keajaiban” lewat karya seni. Lihai membaca zaman pandemi secara bijak. Angka tujuh semacam simbol, ada kebaikan di peradaban pandemi.[]
 
*Iwan Jaconiah, penyair, esais,dankandidat PhD Culturology di Universitas Sosial Negeri Rusia
 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif