Plt Sekjen PSSI Yunus Nusi. Foto: Dok/Istimewa
Plt Sekjen PSSI Yunus Nusi. Foto: Dok/Istimewa (Misbahol Munir)

Wawancara Khusus Plt Sekjen PSSI Yunus Nusi

Menanti Akhir Drama Shin Tae-yong vs PSSI

Pilar pssi Shin Tae-yong
Misbahol Munir • 26 Juni 2020 13:15
Jakarta: Pelatih Tim Nasional Indonesia Shin Tae-yong (STY) membuat geger dunia sepak bola Tanah Air. Pelatih yang baru genap enam bulan menakhodai Tim Garuda itu menyuguhkan drama kontroversi layaknya drama Korea (Drakor) dari Negeri Ginseng.
 
Kepada media Korea, STY membuncahkan curahan hatinya mulai masalah gaji hingga tudingan dikhianati Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Termasuk, hubungan pribadi antara dia dengan Direktur Teknik PSSI Indra Sjafri.
 
Gayung bersambut. Satuan Tugas (Satgas) Timnas, Asosiasi Provinsi PSSI se-Indonesia, pun mengecam tindakan STY. Mereka menilai STY tak profesional.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Meski kaget, Pelaksana tugas (Plt) Sekretaris Jenderal PSSI Yunus Nusi menanggapi dingin pernyataan STY. Pasalnya, selama beberapa minggu terakhir saat rapat daring, hubungan federasi dengan STY baik-baik saja. “Beberapa hari terakhir berkomunikasi dengan STY dan beberapa stafnya, hampir tiap minggu kita virtual meeting dengan STY, tidak ada yang krusial dan ekstrem seperti dikutip media-media kita,” ujar Yunus Nusi saat berbincang dengan Direktur Pemberitaan Medcom.id Abdul Kohar dalam program Newsmaker baru-baru ini.
 
Yunus enggan mengklarifikasi pernyataan STY melalui media. Dia pun khawatir pernyataan tersebut bukan murni keluar dari STY pribadi.
 
“Kami tetap membangun komunikasi yang biasa dan baik dengan STY. Kita berharap ini lebih bagus kalau dibicarakan di Indonesia, di Jakarta saja,” kata Yunus.
 
Selama kurang lebih 30 menit berbincang dengan Medcom.id, Yunus banyak bercerita soal isi kontrak PSSI dengan STY. Tentang target pencapaian Timnas U-19 di Piala AFC Uzbekistan, U-23, dan Timnas senior di pra-kualifikasi Piala Dunia. Termasuk pula mengenai kelanjutan pertandingan Liga I dan Liga 2 yang harus terhenti karena pandemi virus korona (covid-19).
 
Berikut wawancara lengkap Medcom.id bersama Plt Sekjen PSSI Yunus Nusi:
 
Pola komunikasi antara PSSI dan Shin Tae-yong sebenarnya seperti apa?
 
Ketum dan federasi kaget dengan beberapa statement yang dikutip beberapa media Korsel, dan kemudian dikutip media-media di Indonesia. Sebegitu ekstremnya. Tetapi, bagi kami beberapa hari terakhir berkomunikasi dengan STY dan beberapa stafnya, hampir tiap minggu kita virtual meeting dengan STY, tidak ada yang krusial dan ekstrem seperti dikutip media-media kita. Makanya kita kaget dan kita tidak mengklarifikasi hal itu ke media karena dari kutipan ke kutipan. Sehingga kami tetap membangun komunikasi yang biasa dan baik saja dengan STY. Kita berharap ini lebih bagus kalau dibicarakan di Indonesia, di Jakarta saja.
 
Apakah STY sudah mengklarifikasi apa yang dikatakan ke media Korea?
 
Kita sudah minta ke STY melalui agensinya, setidaknya datang ke Jakarta dulu. Kemudian segala sesuatu apa yang dia sampaikan ke media Korea akan kita minta klarifikasi. Kalau ketemu langsung saja. Kalau via virtual tidak begitu bagus. Khawatir ini bukan pernyataan resmi dari STY. Karena kami melihat dan menganggap beberapa hari lalu STY dengan kami komunikasinya biasa-biasa saja. Kecuali tawar menawar soal STY meminta TC (Training Center)-nya di Korea.
 
Sementara, ketua umum (Mochamad Iriawan atau Iwan Bule) dan federasi minta TC-nya di Indonesia dengan beberapa macam asalan. Waktu itu STY sendiri yang mengajukan tiga opsi, pertama di Korea dan kedua di Indonesia. Kita ambil opsi kedua. Mengapa? karena STY ini dalam kontrak menangani tiga strata Timnas kita. Timnas senior, U-23 jelang AFF dan, U-19 untuk AFC Uzbekistan sekaligus untuk persiapan Piala Dunia 2021. Tiga strata ini yang ditangani STY.
 
Lalu kita minta TC-nya di Jakarta karena U-19 akan menghadapi persiapan AFC Uzbekistan itu Oktober. Sementara lanjutan pra-kualifikasi piala dunia senior juga di bulan Oktober. Maka, harapan kita TC-nya di Jakarta saja. Supaya dua-duanya Anda (STY) bisa menangani. Kalau TC U-19 di Korea lalu bagaimana dengan Timnas senior? Sesuai dengan kontrak Anda punya tanggung jawab dengan yang senior. Makanya kami berharap supaya STY datang ke Indonesia. Tapi yang penting bagi federasi untuk saat ini masih 44 nama untuk U-19, karena masih dalam seleksi.
 
Dalam teori kepelatihan bila masih 44 nama berarti belum bisa untuk TC, karena masih dalam seleksi, talent scout. Sebanyak 44 nama itu tidak mungkin juga dibawa ke Korea. Makanya harapan kita STY datang dulu ke Indonesia, pilihlah beberapa dari 44 nama ini, setelah itu bicarakan bersama-sama apakah Anda juga mau memboyong yang senior ke Korea? Atau lebih efektif TC-nya di Indonesia saja. Sambil mencari di mana daerah-daerah zona hijau yang pandemi covid-nya lebih aman. Kan bisa kita bicarakan di Indonesia.
 
Apabila bicara dari media ke media itu kurang bagus antara pelatih dan federasi tidak etis. Makanya harapan kita STY datang dulu ke Indonesia, mau sehari atau dua hari. Ayo kita bicarakan dalam satu meja. Supaya lebih enak. Program-program yang dia sampaikan silakan dipresentasikan. Sambil kita melihat mana yang lebih baik.
 
Kapan STY janji datang ke Indonesia?
 
Ini kita sudah kirim surat kemarin. Kita ajukan secara tertulis agar lebih organisatoris dan meyakinkan. Kita menunggu balasannya saja. Kapan kira-kira STY bisa datang ke Indonesia.
 
Jadi sementara ini belum ada respons dari STY?
 
Belum. Kita masih tunggu. Kemarin kita sampaikan surat itu. Mudah-mudahan STY bisa secepatnya datang, lalu semua bisa kita bahas bersama di Indonesia.
 
Kemarin ada respons dari Satgas Timnas Indonesia Syarif Bastaman mengatakan akan mengevaluasi STY. Berarti itu hanya reaksi sesaat?
 
Iya, itu kalau pakai istilah covid-19 baru reaktif.
 
Artinya belum swab test ya?
 
Tentu mereka juga melihat dan membaca kontrak. Kontraknya STY memegang tiga strata Timnas kita. Di hadapan kita, ada Timnas Senior, U-23, dan U-19 yang harus dibesut STY. Kemudian ada 44 pemain yang belum diputuskan nama-namanya untuk TC. Pasti itu juga membuat ketidaksenangan hati bagi teman-teman direktur teknik, makanya reaktif dan emosional. Tapi ketum belum pernah berpikir untuk mencari opsi lain. Bahkan mewacanakan untuk menggantikan STY pun tidak ada. Ketum masih berharap STY-lah yang akan membesut tiga strata Timnas kita.
 
Benarkah ada perubahan target dari federasi terkait tugas-tugas STY?
 
Kita serahkan kepada STY. Ketika presentasi di Kuala Lumpur beberapa bulan lalu, STY menjanjikan akan memberikan prestasi terbaik untuk Timnas Indonesia, baik untuk Piala Dunia U-20 maupun timnas senior di AFF khususnya. Kita serahkan ke STY biar dia yang membesut. Kami hanya menyiapkan fasilitas apa yang diminta STY, kita akan siapkan. Memang sekarang yang berubah adalah program. Di situlah yang kami sampaikan ke STY bahwa program yang dulu disampaikan pada tahun 2019 itu berubah. Penyebabnya apa? Karena ada wabah covid-19 yang melanda negara kita pada Maret. Termasuk di negara-negara lainnya.
 
Kemudian ada perubahan kualifikasi Piala Dunia di Oktober. Pasti semua program latihannya berubah. Kita dulu setuju sekali anak-anak ini dibawa ke Korea dan sudah kita siapkan semua. Tiba-tiba ada pandemi, maka kita minta STY ubah program-programnya karena memang ada situasi yang mendesak, pertama karena covid-19, kemudian pada Oktober ada jadwal terbaru kualifikasi Piala Dunia di bulan yang sama.
 
Makanya kita harapkan STY ke Indonesia saja. Kalau ke Korea, masak STY boyong dua tim ke Korea. Kedua, seleksi untuk tim U-19 baru 44 nama, bagaimana memboyongnya ke Korea. Itulah kita minta ke STY. Ayo kita bicarakan sama-sama di Indonesia. Kemudian STY bikin program yang baru karena situasi yang terjadi saat ini.
 
STY sempat menyinggung soal profesionalitas, gaji, dan sebagainya. Apakah selama ini ada masalah?
 
Kita juga heran, selama ini kita membayarkan gaji kepada STY biasa-biasa saja. Waktu itu kan karena lima hari saja tidak tepat. Dan waktu itu karena ada perubahan dari suatu rekening ke rekening lain. Kedua waktu itu kita negosiasi ke STY karena ada covid-19. Selama 2-3 bulan tidak melatih anak-anak, bagaimana bisa enggak kita bayar 50 persen? Dia juga memahami situasi akibat covid-19 yang melanda suluruh dunia.
 
Dia juga mengatakan beberapa negara juga melakukan hal yang sama, makanya kita sampaikan juga, federasi mengajukan kepada STY untuk dipotong 50 persen. Karena 2-3 bulan STY juga tidak melatih, dikatakan tidak masalah dipotong 50 persen. Dia tidak apa-apa, semua pelatih memahami hal itu karena memang ada pandemi dan memang tidak bekerja selama tiga bulan.
 
Bagi kami sudah biasa, kami sudah 10 tahun di federasi, media-media membombardir dengan berita-berita seperti ini. Bagi kami hal biasa. Tapi sangat luar biasa tidak baik bagi sepak bola kita. Karena dibombardir dengan berita subjektif bahkan diskriminatif. Kami sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Apa pun yang terjadi, yang terbaik kami lakukan.
 
Adakah target waktu sampai kapan STY ditunggu?
 
Kita harapkan minggu depan, tanggal 29 Juni sudah datang ke Indonesia.
 
STY datang ke Indonesia langsung melakukan serangkaian program atau bagaimana?
 
Jelas datang ke sini kita diskusi. Kita minta presentasi program dengan waktu ke depan, kemudian dengan jadwal AFC di Uzbekistan pada Oktober nanti. Lalu di bulan yang sama di Oktober lanjutan pra-kualifikasi piala dunia yang akan digelar ke Bangkok, Thailand. Kita minta kira-kira seperti apa program dia untuk dua tim ini dalam empat bulan kedepan.
 
Soal kompetisi Liga 1 dan Liga 2 pada 17 Juni kemarin diputuskan dilanjut. Kira-kira kapan start-nya yang paling visible?
 
Hari Rabu pekan kemarin, ketum PSSI menetapkan melalui rapat virtual dengan Exco mengenai dilanjutkannya kompetisi Liga 1 dan Liga 2. Bahkan kemarin dengan Asprov (Asosiasi Provinsi PSSI se-Indonesia) berharap juga Liga 3 dilanjutkan. PT LIB (Liga Indonesia Baru) juga sudah mempresentasikan kepada federasi mereka sudah siap untuk melaksanakan itu. Kami juga sudah melakukan dua kali pertemuan baik dengan Liga 1 dan Liga 2 termasuk dengan asosiasi pelatih, dan asosiasi pemain, serta semua pada dasarnya setuju kompetisi ini dilanjutkan.
 
Tawaran dari PT LIB di bulan September, tetapi juga saran dari klub Liga 1 baiknya di Oktober. Karena ini masih lama waktunya, masih 3-4 bulan ke depan kita serahkan ke PT LIB untuk mengkomunikasikan kepada klub-klub, baiknya di mana kick off-nya. Sambil kita melihat pandemi covid-19 ini, yang jelas insyaallah kompetisi Liga 1, Liga 2, kemungkinan juga Liga 3 akan dilanjutkan dan bergulir di 2020 ini.
 
Seumpama bergulir di Oktober sementara pada November kalau tidak ada perubahan ada AFF. Apa tidak terganggu hal-hal seperti ini?
 
Tidak. Tentu kita sudah membangun komitmen dengan teman-teman klub untuk memberikan pemainnya kepada federasi. Pertama yang TC Timnas, kemudian yang menentukan macth ke macth, pertandingan-pertandingan di AFF, dan itu biasa terjadi di federasi dan klub. Mudah-mudahanlah. Dipertemuan dengan Liga 1 dengan klub-klub waktu itu juga punya komitmen menyerahkan pemainnya kepada Timnas, kepada federasi.
 
Selama ini Timnas di AFF belum pernah juara, bolak-balik masuk final tapi tidak kunjung menghasilkan juara. Salah satu faktor karena padatnya kompetisi. Kalau ada yang mengkhawatirkan ini lagi bagaimana?
 
Harapan kita tidak seperti itu. Kita harapkan teman-teman klub ini memiliki tanggung jawab sebagai bangsa. Mereka berharap juga bahwa Tim Garuda bisa membawa Merah Putih harus berkibar. Harapan kita demikian. Melalui ketum disampaikan kepada kawan-kawan klub, semua berkomitmen untuk menyerahkan pemainnya apabila dibutuhkan dan diperlukan oleh federasi dalam rangka mengikuti TC maupun pertandingan-pertandingan. Termasuk pra-kualifikasi piala dunia dan piala AFF pada November.
 
Kami melihat insyaallah tahun ini kawan-kawan klub menyerahkan pemainnya di tengah kompetisi berjalan karena itu komitmen klub dengan ketum langsung. Harapan kami itu tetap berjalan. Dan kami yakin klub akan memberikan pemainnya.
 
Gugus Tugas Covid-19 mensyaratkan kalau kompetisi diputar, semua pemain, staf, dan semua keseluruhan harus melakukan PCR test. Sementara PCR test masih mahal. Bagaimana klub-klub menghadapi hal ini terlebih untuk klub-klub Liga 2 yang finasialnya tidak melimpah seperti Liga 1?
 
Itu bagian dari konsekuensi kita untuk melanjutkan kompetisi. Jangankan untuk tes PCR, membayarkan gaji yang puluhan juta per bulan pun sudah menjadi tanggung jawab klub itu sendiri. Kemudian memberi konsumsi klub liga 1 dan liga 2 itu sudah jadi tanggung jawab PT LIB dan federasi. Ini menjadi tanggung jawab bersama. Ayo dalam situasi seperti ini apa yang diarahkan Pak Presiden dan Pak Menteri, termasuk juga ketum menyampaikan, kita hidupkan aktivitas sepak bola di Republik ini.
 
Biar bagaimana pun ada ribuan juga yang sangat membutuhkan kehidupan di dunia sepak bola. Maaf, ada pemain dengan keluarganya, ada pelatih dengan keluarganya, ada beberapa stadion yang menggantungkan di sana. Itu harapan ketum. Kita hidupkan tentu dengan protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah. Kita harus taat itu. Lalu kita hidupkan sepak bola ini, bagaimana cara menghidupkannya, pelatih, pemain, klub, PT LIB termasuk PSSI semua harus berbesar hati, jangan berpikir kita untung, berpikir kita sukses.
 
Kita berpikir bahwa aktivitas sepak bola harus dilanjutkan karena banyak yang menggantungkan hidup di sepak bola ini. Itu arahan dan penyampaian ketum di manapun, kepada klub, pemain, pelatih dan mudah-mudahan semua bergandengan tangan untuk menghidupkan aktivitas sepak bola di Indonesia.
 
Seumpama mulai bergulir pada September akhir atau awal Oktober, konsekuensinya satu tanpa penonton dan kedua waktunya molor, ditargetkan atau bagaimana?
 
Pertama ini waktunya masih 3-4 bulan lagi. Kita berdoa semoga pandemi covid-19 landai bahkan mudah-mudahan cepat hijau. Kedua, PT LIB sudah menyusun jadwalnya, untuk Liga 1 harapannya di Februari udah selesai. Kemudian Liga 2 diharapkan Desember sudah selesai. PT LIB sudah menyusun dan kami lihat jadwalnya cukup bagus dan diterima oleh klub Liga 1 maupun Liga 2.
 
Skenarionya akan difull-kan di Jawa atau bagaimana?
 
Memang beberapa opsi dibahas dalam pertemuan khususnya dengan Liga 1, karena PSSI menganggap ada efisiensi. Kemudian ada minimalisasi dampak dari covid-19, maka ketum menawarkan bagaimana teman-teman klub yang lima di luar Jawa bisa enggak ke Jawa saja. Mengapa? Pertama klub-klub lainnya termasuk lima klub yang ada di luar Jawa tidak dibebani biaya transportasi pesawat yang begitu besar saat ini. Kedua agar tidak terkungkung dengan protokoler kesehatan yang tentu akan menimbulkan dampak psikologi yang kurang baik bagi pemain.
 
Bayangkan satu minggu mereka naik pesawat kemudian dengan segala macam protokoler kesehatan. Kalau di Jawa bisa naik bus, mau ke Malang, Surabaya, Bandung, dan ke Jakarta. Bahkan ketum saat ini berusaha mendapatkan hotel gratis di Yogyakarta. Home-nya di Yogyakarta. Minta teman-teman yang dari luar Jawa ini ke Yogyakarta mudah-mudahan mereka mendapatkan gratis. Sementara ini tengah diupayakan ketum. Kalau di Yogyakarta lima tim ini tinggal milih lapangan. Di sana banyak lapangannya. Silakan kalau mau di Jawa, itu baru opsi sekadar tawaran.
 
Tentu kita serahkan kepada klub yang ada, mereka yang punya kontrak dengan sponsor lokal, apakah itu di stadionnya maupun daerahnya. Kita sambil melihat pandemi covid-19 3-4 bulan ke depan. Mudah-mudahan dalam dua bulan ini sudah bisa kita tentukan di mana pertandingan khusus untuk lima tim luar Jawa.
 
Itu tawaran ketum. Dipersilakan kepada klub termasuk PT LIB untuk memformulasikan. Setuju atau tidak, kita tidak memaksakan tawaran itu. Yang jelas kompetisi tahun ini adalah yang memprihatinkan, mau tidak mau, suka atau tidak tetap harus kita lanjutkan aktivitas sepak bola. Tentu dengan konteks efisiensi. Kenapa efesiensi? Karena Ketum memahami hambatan dan kekuangan masing-masing klub saat ini.
 
Soal target selain kompetisi jalan, apakah target di ajang AFF masih tetap atau dikoreksi?
 
Target masih tetap. Seperti yang menjadi komitmen federasi dengan STY dan dia juga menjanjikan hal itu. Mudah-mudahan. Ini akan kita kawal dan jaga. Tentu kita harus melihat pandemi saat ini, dan ini bukan Indonesia saja, negara-negara lain juga mengalami hal yang sama. Mudah-mudahan. Federasi maupun pelatih termasuk STY cepat melakukan action, khususnya TC, setelah dia memilih sparing. Sparing ke mana? Mau ke Asia, Eropa, Amerika Latin, ketum menyarankan silakan. STY memilih untuk sparing dalam rangka menghadapi AFC Uzbekistan dan pra-kualifikasi piala dunia. Kemudian untuk AFF setelah TC mempersilakan kepada STY untuk memilih negara mana untuk dikunjungi dalam rangka untuk melakukan sparing dengan klub-klub atau negara-negara lainnya.
 
Termasuk target masuk semifinal untuk U-19 di Piala Dunia U-20 itu realistis enggak?
 
Iya realistis. Pertama kita tuan rumah kita juga dilatih oleh pelatih yang memiliki pengalaman yang bagus dan kita juga di-support presiden, menteri, federasi juga memberi kelonggaran yang begitu besar kepada Timnas kita. Mudah-mudahan, kita doakan semoga semua berjalan lancar dan STY bekerja dengan baik dan maksimal khusus untuk Timnas U-19 ini.
 
Pak Yunus ditunjuk menggatikan Ratu Tisha, apa yang akan dibawa untuk perubahan PSSI ke depan?
 
Title-nya kan sekretaris. Di mana-mana sekretaris itu menjadi jantung sebuah organisasi, baik itu perusahaan, termasuk organisasi. Nah, ini yang saya jalankan. Sekretaris itu fokusnya ke internal, fokus ke adminitrasi kesekjenan, dan lebih utama membantu kerja ketum. Itu yang sangat penting. Ketika ketum memerintahkan kita meladeni media, saya siap meladeni media. Tentu dengan arahan ketum beserta hasil-hasil yang diputuskan oleh Executive Committee (Exco), dan tentu lebih fokus ke adminitrasi internal serta staf kesekjenan yang saat ini hampir 100 orang. Itu yang menjadi fokus saya sebagai Plt Sekjen.
 
Bagaimana dengan kalender atau modul-modul?
 
Iya, di samping fokus internal tadi, juga bagaimana saya bisa melayani ketum, Exco, beserta member. Member itu klub Liga 1, Liga 2, dan Liga 3 termasuk Asosiasi Provinsi PSSI se-Indonesia. Itu tugas utama saya untuk memberikan dan melayani yang terbaik untuk mereka. Yang tak kalah penting adalah bagaimana arahan ketum, sekjen itu memberikan pelayanan maksimal terhadap fasilitas timnas. Itu sangat penting, mengapa? Karena dari apa yang saya kerjakan ini muaranya ke Timnas.
 
Apa pun yang saya kerjakan bila timnas tidak benar dan tidak baik serta berprestasi kita merasa sia-sia. Maka yang jadi prioritas utama arahan ketum bagaimana saya dan teman-teman di staf memberi pelayanan terbaik untuk timnas baik Timnas U-19, U-23 persiapan SEA Games, maupun Timnas Senior. Itu yang menjadi fokus kami. Apa pun yang mereka harapkan dan inginkan apakah itu masalah adminitasi, pelayanan, termasuk keuangan itu jadi prioritas kami. Itu arahan ketum. Maka ke depan ini yang akan jadi fokus utama saya. Maksimal bekerja untuk itu.
 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif