Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Halal Research Center membagikan teknik penyembelihan hewan kurban yang halal dengan tetap mematuhi protokol kesehatan covid-19.
Direktur Halal Research Center Fakultas Peternakan UGM sekaligus Nanung Danar Dono menyampaikan, terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi kerumunan saat penyembelihan hewan kurban. Pertama, membatasi atau mengurangi jumlah panitia kurban yang terlibat. Pengurus takmir masjid berwenang untuk menentukan jumlah panitia.
Kedua, membatasi atau mengurangi jumlah ternak yang disembelih di lokasi. Hewan kurban yang tidak dapat disembelih di masjid dapat dititipkan kepada lembaga AMIL yang amanah untuk dikirim ke daerah atau negara lain yang lebih membutuhkan.
Baca: 8 Kunci Agar Mahasiswa Lulus dengan Predikat Cum laude
Ketiga, membagi waktu penyembelihan menjadi 3-4 hari. Panitia dapat memanfaatkan kesempatan menyembelih di Hari Tasyrik. Keempat, membagi lokasi penyembelihan menjadi 3-4 tempat. Lokasi penyembelihan dapat dibagi per wilayah RT.
"Panitia kurban juga harus menyediakan air dan sabun dan atau hand sanitizer secara cukup. Anak-anak dan warga lanjut usia (di atas 50 tahun) serta warga yang sakit hendaknya tidak dilibatkan dalam penyembelihan hewan," papar Nanung mengutip siaran pers UGM, Rabu, 7 Juli 2021.
Dosen Fakultas Peternakan UGM itu mengatakan, seseorang yang berkurban tidak harus hadir di lokasi penyembelihan. Mereka dapat menyaksikan penyembelihan secara online, melalui layanan media daring.
"Jika lokasi penyembelihan termasuk zona merah atau hitam, pilihan terbaik adalah hewan disembelih di rumah potong hewan resmi milik pemerintah," ucapnya.
Sementara, dosen Fakultas Peternakan UGM Nurliyani menyampaikan terkait penanganan daging kurban. Setelah dilakukan penyembelihan, perlu diperhatikan agar terjaga kebersihan daging kurbannya.
"Ada tiga aspek yang harus diperhatikan dalam penanganan daging kurban, yaitu aspek higiene makanan, aspek petugas, dan aspek peralatan," terang Nurliyani.
Dari aspek higiene makanan, hindari tangan manusia yang kontak langsung dengan daging, hindari lalat dan serangga lainnya, dan hindari peralatan yang kontak dengan daging (pisau, talenan, alas, dan meja). Selain itu, hindari pula air yang kotor, lantai/tanah dan alas yang kotor.
Dari aspek petugas, orang yang bertugas memotong daging harus menjaga kebersihan diri dan sering mencuci tangan. Selain itu, petugas harus menjaga lingkungan sekitar pemrosesan daging kurban.
Baca: Lebih Baik Masker Tunggal atau Dobel? Ini Penjelasan Dokter RSA UGM
Petugas juga harus mengenakan alat pelindung diri yang berbeda-beda tergantung dari kewajibannya. Petugas di area kotor harus memakai masker, sepatu boots, kacamata goggle atau face shield dan sarung tangan sekali pakai. Petugas di area bersih menggunakan masker, penutup kepala, face shield, sarung tangan, celemek pelindung (apron) dan alas kaki.
Berikutnya, dari aspek peralatan, alat yang digunakan harus bersih dan memenuhi syarat teknis higiene dan sanitasi, yaitu terbuat dari bahan yang tidak mencemari daging. Hindari penggunaan plastik hitam daur ulang karena elastisitasnya sangat berbeda dengan plastik bening yang masih bagus.
"Apabila kemasan yang digunakan untuk membungkus daging berupa plastik daur ulang yang mengandung bahan kimia berbahaya, dikhawatirkan dapat mengubah kualitas daging. Panitia lebih disarankan membungkus daging yang akan dibagikan dengan kantong plastik bening atau besek," jelas Nurliyani.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News