Ilustrasi/Foto: Dok. Mehrpouya H/Unsplash.com
Ilustrasi/Foto: Dok. Mehrpouya H/Unsplash.com

Bagaimana Korban Ghosting Harus Bersikap? Ini Saran Psikolog UGM

Citra Larasati • 24 Maret 2021 09:09
Jakarta:  Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Idei Khurnia Swasti menjelaskan, bahwa ghosting merupakan perilaku menghindar, biasanya terjadi dalam relasi romantis seperti pacaran atau gebetan. Perilaku ghosting banyak terjadi pada masa pendekatan, pacaran, hingga menjelang perkawinan. 
 
Idei mengatakan, jarang dibahas mengenai ghosting dalam perkawinan. Sebab, komitmen perkawinan telah lebih mengikat secara hukum dan juga personal.
 
"Perilaku ghosting ini ditandai dengan sikap pelaku yang mulai menarik diri dari komunikasi," terangnya dikutip dari laman UGM Selasa, 23 Maret 2021.
 
Dosen Fakultas Psikologi UGM ini mencontohkan, bahwa sulit ditemui menjadi salah satu tanda dari perilaku ghosting. Selain itu, tidak membalas pesan, chat, atau telepon. Lalu, memiliki banyak alasan untuk menghindar jika diajak membicarakan hal yang serius.
 
Lantas mengapa seseorang memilih menghilang begitu saja dari kehidupan orang lain, daripada merencanakan percakapan untuk mengakhiri suatu hubungan? Idei menyampaikan lebih banyak penelitian perlu dilakukan secara khusus pada fenomena ghosting.
 
Dari penelitian sebelumnya telah melihat berbagai jenis kepribadian keterikatan dan pilihan strategi perpisahan.  "Bisa saja orang dengan tipe kepribadian yang menghindar (avoidant personality), yaitu mereka yang ragu untuk membentuk hubungan atau sepenuhnya menghindari keterikatan dengan orang lain," urainya.
 
Kondisi tersebut dikatakan Idei seringkali diawali karena pengalaman penolakan orang tua.  Hal itu pada akhirnya membuat individu enggan untuk menjadi sangat dekat dengan orang lain karena masalah kepercayaan dan ketergantungan.
 
 
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif