Bagi sebagian orang, pelajaran tertentu menjadi pintu memahami dunia. Sementara itu, bagi yang lain justru menghadirkan trauma karena dianggap sulit, rumit, dan menekan.
Di Indonesia, dinamika tersebut terlihat jelas dalam sikap masyarakat terhadap mata pelajaran di sekolah. Tantangan pembelajaran yang beragam, keterbatasan fasilitas, hingga metode pengajaran yang belum merata turut membentuk stigma terhadap sejumlah mapel.
Salah satunya adalah matematika. Mata pelajaran ini selama bertahun-tahun dikenal sebagai “momok” bagi banyak siswa.
Stigma matematika sebagai pelajaran sulit bukanlah hal baru. Rumus abstrak, soal yang menuntut ketelitian tinggi, serta penilaian yang kerap berbasis benar-salah membuat matematika sering dipersepsikan sebagai mata pelajaran yang menegangkan.
Tak sedikit siswa merasa gagal memahami matematika sejak dini. Lalu membawa rasa takut itu hingga dewasa.
Menariknya, persepsi negatif tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan sikap masyarakat Indonesia terhadap Matematika. Survei Ipsos Education Monitor 2025 justru menunjukkan gambaran yang lebih kompleks.
Dalam survei tersebut, matematika masuk sebagai mata pelajaran favorit orang Indonesia. Namun sekaligus menjadi mapel yang juga tidak disukai.
Sebanyak 32 persen responden menyebut matematika sebagai pelajaran yang paling mereka sukai. Sementara itu, 47 persen orang Indonesia menjadikan matematika sebagai mapel paling tidak disukai.
Posisi matematika sebagai mapel favorit ini menunjukkan di balik stigma sulit, masyarakat Indonesia tetap mengakui nilai strategis pelajaran tersebut. Matematika dipandang sebagai fondasi logika, keterampilan berpikir sistematis, dan kemampuan memecahkan masalah.
Di sisi lain, survei yang sama juga menegaskan paradoks menarik. Matematika tercatat sebagai mata pelajaran paling tidak disukai, dengan 47 persen responden Indonesia mengaku tidak menyukainya.
Angka ini jauh di atas sains sebesar 23 persen dan geografi 20 persen. Fakta ini memperlihatkan matematika menjadi mapel yang sangat terpolarisasi dengan dicintai oleh sebagian, namun ditakuti oleh sebagian lainnya.
Baca Juga :
Kenapa AI Canggih Tapi Gagal Mengerjakan Perkalian Siswa SD? Begini Penjelasan Ilmiahnya
Kondisi tersebut mengindikasikan adanya tantangan serius dalam pembelajaran matematika di Indonesia. Bukan pada substansi ilmunya semata, melainkan pada cara penyampaian, pendekatan pedagogis, serta kesenjangan kualitas pengajaran antarwilayah.
Ketika matematika diajarkan dengan metode kontekstual dan aplikatif, ia bisa menjadi pelajaran favorit. Sebaliknya, pendekatan yang terlalu kaku justru memperkuat stigma negatif.
Survei Ipsos ini sekaligus menegaskan persepsi masyarakat terhadap mata pelajaran tidak hitam-putih. Matematika, sebagai contoh, bukan sekadar pelajaran yang “menakutkan”, tetapi juga simbol harapan akan kecakapan berpikir dan masa depan yang lebih baik.
Tantangan ke depan bukan lagi soal menjadikan matematika disukai atau tidak. Melainkan bagaimana memastikan setiap siswa memiliki kesempatan memahami dan menguasainya dengan cara lebih manusiawi dan inklusif.
Berikut data mata pelajaran paling disukai dan tidak disukai orang Indonesia berdasarkan Survei Ipsos 2025:
Mata Pelajaran Favorit Orang Indonesia
- Sejarah: 32%
- Matematika: 32%
- Bahasa asing: 30%
- Sains: 28%
- Ilmu komputer: 28%
- Olahraga: 27%
- Kesenian: 23%
- Agama: 23%
- Bahasa tertentu: 17%
- Geografi: 12%
Mata Pelajaran yang Tidak Disukai Orang Indonesia
- Matematika: 47%
- Sains: 23%
- Geografi: 20%
- Olahraga: 20%
- Sejarah: 18%
- Seni: 17%
- Bahasa asing: 14%
- Sastra tertentu: 13%
- Bahasa tertentu: 8%
- Ilmu komputer: 7%
Survei dilakukan terhadap 23.700 orang dewasa di 30 negara. Hasil survei Ipsos 2025 ini dirilis pada Agustus 2025.
Ipsos menganalisis opini masyarakat di berbagai negara tentang sistem pendidikan. Mulai dari tantangan utama dalam pendidikan, serta sikap terhadap teknologi dan kebijakan pendidikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News