Hujan yang biasanya akrab menyapa pun kini makin langka. Fenomena cuaca ekstrem ini memicu tanya: apakah ini sekadar anomali sesaat, atau alarm bahaya perubahan iklim yang tak lagi bisa diabaikan?
Menjawab kegelisahan tersebut, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Dr. Givo Alsepan, buka suara. Ia membeberkan bahwa rasa gerah yang menyelimuti Bogor adalah hasil "komplikasi" dari berbagai faktor, mulai dari dinamika iklim global, tren pemanasan bumi, hingga efek domino dari pesatnya urbanisasi yang mengubah wajah kota.
“Secara klimatologis, suhu udara rata-rata di wilayah Bogor berkisar antara 25,5 hingga 27 derajat Celsius. Namun, dalam periode tertentu kondisi tersebut dapat berubah akibat pengaruh fenomena iklim global, terutama El Nino-Southern Oscillation (ENSO),” ujarnya, Rabu, 1 Juli 2026.
Lebih lanjut, Givo menyoroti peran El Nino, yakni interaksi laut dan atmosfer di Samudra Pasifik tropis. Saat fase El Nino terjadi, perairan Pasifik memanas dan menggeser pusat pembentukan awan ke arah timur.
Imbasnya, pasokan uap air di langit Indonesia, termasuk Bogor, anjlok drastis dan menekan intensitas hujan. “Saat ini El Nino sedang berkembang di Samudra Pasifik tropis dan diprediksi berlangsung hingga akhir tahun 2026. Pergeseran awan dari wilayah Indonesia menuju Pasifik menyebabkan tutupan awan berkurang sehingga radiasi matahari lebih banyak mencapai permukaan bumi. Kondisi inilah yang menjadi salah satu penyebab masyarakat Bogor merasakan cuaca lebih panas dibanding biasanya,” jelasnya.
Bukan Sekadar El Nino, Ada Ancaman Jangka Panjang
Walau El Nino sukses bikin gerah, Dr. Givo mengingatkan bahwa fenomena ini hanyalah pemicu jangka pendek. Di balik itu, ada ancaman krisis iklim global yang diam-diam mengerek tren suhu naik secara konsisten sejak era 1990-an. Pola ini sejalan dengan meningkatnya suhu rata-rata bumi.“Perubahan iklim dapat dikatakan menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya suhu udara di Bogor. Jika tidak ada upaya mitigasi yang serius, tren pemanasan ini akan terus berlanjut,” katanya.
Terjebak di Tengah Urban Heat Island
Selain faktor global, perubahan bentang alam Bogor turut memperparah keadaan. Menjamurnya hutan beton dan susutnya ruang terbuka hijau memicu fenomena Urban Heat Island (UHI) alias pulau panas perkotaan.Mengacu pada studi Nurwanda dan Honjo (2018), Dr. Givo menjelaskan bahwa ekspansi masif kawasan perkotaan di Bogor pada kurun 1997–2007 membuat jarak suhu antara pusat kota dan pinggiran makin timpang. Ketimpangan ini melonjak tajam dari perbedaan 1,36 derajat Celsius pada tahun 1990, menjadi 2,26 derajat Celsius pada 2017.
Angka ini membuktikan bahwa pembangunan kota yang abai terhadap perlindungan ekologi akan menjadi bumerang yang melipatgandakan dampak krisis iklim di tingkat lokal. Merespons kondisi tersebut, kolaborasi nyata sangat dibutuhkan agar identitas kota yang sejuk tidak tinggal kenangan. Menjaga tutupan vegetasi harus menjadi prioritas absolut dalam strategi tata letak wilayah.
“Masyarakat dapat berkontribusi melalui penghijauan lingkungan dan penerapan bangunan yang lebih adaptif terhadap panas. Sementara pemerintah perlu memperkuat tata ruang berbasis iklim dan memperluas ruang terbuka hijau. Pohon merupakan solusi alami yang efektif untuk menurunkan suhu udara, mengurangi efek urban heat island, sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan,” pungkasnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda