Tiga mahasiswa Universitas Brawijaya ciptakan pupuk bio organik dari limbah makanan dan ternak. Foto: UB/Humas.
Tiga mahasiswa Universitas Brawijaya ciptakan pupuk bio organik dari limbah makanan dan ternak. Foto: UB/Humas.

Mahasiswa UB Sulap Limbah Makanan dan Ternak Jadi Pupuk Bio Organik

Pendidikan pertanian inovasi Riset dan Penelitian Universitas Brawijaya
Arga sumantri • 15 September 2021 18:09
Malang: Tiga mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP UB) Abdillah Amirul Saleh, Alya Shofiya, dan Erik Wahyuni membuat pupuk bio organik multifungsi dari limbah makanan dan peternakan dengan campuran konsorsium rizobakteri. Pengembangan inovasi bernama Bioscap ini di bawah bimbingan Tita Widjayanti.
 
Pupuk tersebut disinyalir dapat menekan intensitas penyakit hingga mencapai 100 persen Selain itu, meningkatkan pertumbuhan tanaman sebesar 11-22 persen dilihat berdasarkan jumlah daun, tinggi tanaman dan jumlah cabang.
 
Inovasi tersebut dilatar belakangi banyaknya limbah makanan dan peternakan yang semakin menumpuk di tempat pembuangan akhir dan belum dimanfaatkan dengan optimal. Misalnya, cangkang telur, kulit pisang, dan bio-slurry.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi cangkang telur di Indonesia mencapai 4.753.382 ton. Sedangkan, produksi kulit pisang di Indonesia mencapai 4.368.394 ton.
 
Baca: 'Oicaabar', Snackbar Peningkat Imunitas Tubuh dari Kulit Kacang Tanah
 
Bio-slurry merupakan limbah sisa pengolahan biogas yang jarang dimanfaatkan dan hanya menumpuk di dalam septic tank. Limbah organik yang jarang dimanfaatkan tersebut berpotensi untuk dijadikan pupuk yang dapat meningkatkan produktivitas tanaman.
 
"Penggunaan cangkang telur dapat sebagai sumber kalsum (Ca) dan magnesium (Mg) yang tinggi, kulit pisang dapat sebagai sumber Kalium (K), dan bio-slurry sebagai sumber Nitrogen (N), fosfor (P), dan Kalium (K)," kata perwakilan tim, Alya Shofiya, mengutip siaran pers UB, Rabu, 15 September 2021.
 
Alya menambahkan, Bioscap juga mengandung mikroorganisme menguntungkan yaitu Bacillus, Pseudomonas, Azotobacter, Azospirillum, dan Aspergillus niger. Mikroorganisme ini dapat merangsang pertumbuhan tanaman dan meningkatkan produktivitas pertumbuhan.
 
Selain itu, pupuk Bioscap berperan sebagai bioprotektan dan biostimulan yang dapat menekan dan menghambat intensitas serangan penyakit. Pupuk ini telah diuji pada tanaman kedelai yang terinfeksi penyakit Soybean Mosaic Virus (SMV).
 
Baca: Nanogold, 'Susuk Emas Modern' Temuan Profesor Unesa Bantu Tubuh Lawan Covid-19
 
Ketua tim, Abdillah menambahkan, SMV dapat menurunkan produktivitas tanaman sebesar 25,48 persen hingga 93,84 persen. Penggunaan pupuk Bioscap terbukti mampu menekan intensitas penyakit SMV dan meningkatkan produktivitas kedelai.
 
"Melalui penemuan ini, diharapkan pupuk ini mampu menjadi solusi bagi petani untuk mengatasi penyakit pada tanaman, khususnya soybean mosaic virus pada kedelai," kata Abdillah.
 
(AGA)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif