Kenapa lebih rendah dari Turki dan Brazil?
Lantas, kenapa persentase uji klinis di Indonesia lebih rendah dari Turki dan Brazil? Berikut penjelasan Zullies.
Di Turki dan Brazil, kata dia, subjeknya adalah kelompok berisiko tinggi yaitu tenaga kesehatan. Alhasil, efikasinya lebih tinggi.
Lantas apa yang membuat Indonesia jauh berbeda dari Brazil dan Turki? Berikut penjelasannya.
Indonesia menggunakan populasi masyarakat umum yang risikonya lebih kecil. Jika subjek plasebonya berisiko rendah, apalagi taat dengan protokol kesehatan, maka tidak banyak yang terinfeksi. Artinya, perbandingannya dengan kelompok vaksin menjadi lebih rendah dan menghasilkan angka yang lebih rendah.
"Dan mungkin juga ada faktor-faktor lainnya yang berpengaruh terhadap hasil uji klinik," kata dia.
Berapa orang yang bisa kebal covid-19?
Angka kemanjuran 65,3 persen ini, kata Zullies, memiliki dampak yang signifikan. Penurunan kejadian infeksi sebesar 65 persen secara populasi tentu akan sangat bermakna dan memiliki dampak ikutan yang panjang.
Dia mencontohkan, dari 100 juta penduduk Indonesia, maka akan ada 8,6 juta yang terinfeksi jika mereka tak divaksin. Sebaliknya, dengan menyuntikkan vaksin berefikasi 65%, maka angka penularan bisa ditekan hingga menjadi 3 juta penduduk.
Angka itu diperoleh dari hitungan sebagai berikut (0.086 – 0.03)/0.086 x 100% = 65%. Jadi, ada 5,6 juta kejadian infeksi yang dapat dicegah.
"Mencegah 5 juta kejadian infeksi tentu sudah sangat bermakna dalam penyediaan fasilitas perawatan kesehatan," kata dia.
Ini, terang dia, juga secara tidak langsung bisa mencegah penularan lebih jauh bagi orang-orang yang tidak mendapatkan vaksin, yaitu jika dapat mencapai kekebalan komunal atau herd immunity.
“Jadi, saya pribadi masih menaruh harapan kepada vaksinasi. Semoga bisa mengurangi angka kejadian infeksi covid-19 di negara kita. Apalagi jika didukung dengan pemenuhan protokol kesehatan yang baik, semoga dapat menuju pada pengakhiran pandemi covid-19 di Indonesia," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di