Ilustrasi:Medcom.id
Ilustrasi:Medcom.id

Bagaimana Menerjemahkan Efikasi 65,3%? Berikut Penjelasan Sederhana Pakar UGM

Pendidikan Virus Korona bpom vaksin covid-19 UGM
Muhammad Syahrul Ramadhan • 12 Januari 2021 10:30

Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan izin pemakaian izin darurat atau emergency use authorization (EUA) terhadap vaksin covid-19 produksi Sinovac, Tiongkok. Izin diterbitkan setelah melewati tahapan uji klinis.
 
Diketahui efikasi vaksin Sinovac hal uji klinis di Indonesia mencapai 65,3 persen. Hasil ini di atas standar EUA Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang mensyaratkan efikasi di atas 50 persen. 
 
Efikasi di atas 50 persen ini lantas menjadi dasar BPOM memberi lampu hijau untuk produksi massal vaksin asal Tiongkok ini. Namun, publik masih bingung dengan efikasi atau kemanjuran vaksin ini. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Terlebih jika dibandingkan dengan Turki dan Brazil, angkanya cukup jauh. Di Turki, efikasi mencapai 91,25 persen, sedangkan di Brasil 78 persen.
 
Lalu bagaimana kita membaca efikasi 65,3 persen ini? Dosen Farmasi Universitas Gadjah Mada Zullies Ikawati mencoba menjelaskan secara sederhana. 
 
Menurutnya, efikasi atau kemanjuran 65,3 persen berarti terjadi penurunan 65,3 persen kasus penyakit pada kelompok yang divaksinasi dan yang tidak divaksinasi (atau plasebo). Dan itu didapatkan dalam suatu uji klinik yang kondisinya terkontrol.
 
Dia melanjutkan, dari 1.600 orang yang dilibatkan dalam uji klinik Sinovac di Bandung, terdapat 800 subjek yang menerima vaksin dan 800 subjek yang mendapatkan plasebo (vaksin kosong). 
 
Jika dari kelompok yang divaksin ada 26 yang terinfeksi (3,25%), sedangkan dari kelompok plasebo ada 75 orang yang kena Covid (9,4%), maka efikasi dari vaksin adalah (0.094 – 0.0325)/0.094 x 100%) = 65,3 persen.
 
"Jadi yang menentukan adalah perbandingan antara kelompok yang divaksin dengan kelompok yang tidak,” kata Zullies  dalam tulisannya yang diterima Medcom.id, Selasa, 12 Januari 2021.
 
Efikasi ini, lanjut dia, dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Seperti, dari tingkat risiko infeksi tempat uji, karakteristik subjek ujinya, hingga pola kesehatan masyarakat. 
 
Dia pun menuturkan jika subjek ujinya adalah kelompok risiko tinggi, maka kemungkinan kelompok plasebo akan lebih banyak yang terpapar. Sehingga, perhitungan efikasinya menjadi meningkat. 
 
Ambil contoh lain, pada kelompok vaksin ada 26 yang terinfeksi, sedangkan kelompok plasebo bertambah menjadi 120 yang terinfeksi, maka efikasinya menjadi 78,3 persen. 


 
Halaman Selanjutnya
Kenapa lebih rendah dari Turki…
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif