Tim mahasiswa ITS yang terdiri dari Annisa Putri Agustin, Gardini Nilasari, Dewi Septiningtyas H (kiri-kanan). Foto: Dok. ITS
Tim mahasiswa ITS yang terdiri dari Annisa Putri Agustin, Gardini Nilasari, Dewi Septiningtyas H (kiri-kanan). Foto: Dok. ITS

Mahasiswa ITS Manfaatkan Produk Samping Sintesis Biodiesel

Pendidikan inovasi Pendidikan Tinggi Perguruan Tinggi ITS
Citra Larasati • 07 Januari 2021 07:07
Jakarta:  Produksi minyak jelantah akibat konsumsi minyak goreng yang meningkat di masyarakat diperkirakan mencapai 20 ribu ton setiap tahunnya. Beberapa pihak telah memanfaatkan minyak jelantah ini sebagai biodiesel, tetapi crude glycerol yang merupakan produk sampingnya masih terbuang begitu saja.
 
Mengangkat permasalahan ini, tiga mahasiswa dari Departemen Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melahirkan sebuah inovasi untuk mengkonversi limbah tersebut menjadi asam laktat yang bermanfaat.  Koordinator Tim, Gardini Nilasari mengatakan, bahwa penelitian ini awalnya merujuk pada menumpuknya crude glycerol di Laboratorium Instrumentasi dan Sains Analitik di Departemen Kimia ITS.
 
Produk tersebut merupakan produk samping dari proses transesterifikasi minyak jelantah pada sintesis biodiesel. “Kalau dibuang akan menyebabkan limbah baru, padahal tujuan awal pemanfaatan minyak jelantah ini untuk mengurangi limbah,” kata Gardini dalam keterangannya, Rabu, 6 Januari 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Crude glycerol sendiri memiliki tingkat kemurnian dan nilai ekonomi yang rendah, sehingga perlu dimanfaatkan dengan cara dikonversi menjadi beberapa produk. Produk tersebut antara lain adalah asam formiat, asam oksalat, asam gliserat, 1,2-propanadiol, serta asam laktat.
 
Dalam penelitian tersebut dilakukan Gardini bersama kedua anggota timnya dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), yakni Annisa Putri Agustin dan Dewi Septiningtyas.  Produk tersebut dikonversi menjadi asam laktat.
 
Baca juga:  Mahasiswa ITS Sulap Kotoran Sapi Jadi Energi Listrik
 
Pemilihan asam laktat sebagai hasil konversi, menurut Gardini, dikarenakan pemanfaatannya yang masif dalam industri. Hal ini membuat jumlah permintaan asam laktat semakin banyak dan diprediksi akan mencapai 1,96 juta ton pada tahun 2025 nanti.
 
“Asam laktat pun berpotensi digunakan sebagai bahan plastik poly lactic acid (PLA) yang mudah terurai, sehingga mendukung tujuan Sustainaible Development Goals (SDGs), yaitu menjaga ekosistem laut dan darat,” terangnya lagi.
 
 
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif