Surabaya: Dosen Universitas Airlangga (Unair) Aminatun bersama tim memanfatkan tulang sotong sebagai bahan pengisi tulang. Tulang sotong diketahui mengandung 85 persen kalsium karbonat (CaCO3) yang merupakan komponen utama mineral hidroksiapatit (HA).
Dosen Fisika Fakultas Sains dan Teknologi Unair itu mengatakan, selama ini tulang sotong hanya dipakai sebagai pakan burung karena kandungan kalsiumnya.
"Kandungan kalsium pada tulang ikan sotong sangat besar, maka untuk meningkatkan kemanfaatan dari ikan sotong ini, tercetus ide untuk menggunakannya sebagai material pengisi defect tulang," kata Aminudin mengutip siaran pers Unair, Jumat, 25 Desember 2020.
Penelitian tulang ikan sotong ini telah berjalan selama delapan tahun. Penelitian dimulai dengan mencari parameter proses optimum pembuatan HA melalui metode hidrotermal dengan mencampur kasium karbonat (CaCO3) tulang sotong dengan ammonium dihidrogen fosfat (NH4H2PO4).
Dengan metode tersebut, diperoleh parameter proses optimum yaitu pemanasan pada suhu 200 derajat Celsius selama 12 jam dan dilanjutkan proses sintering pada suhu 900 derajat Celsius selama satu jam.
"HA yang dihasilkan dari sintesis ini layak diaplikasikan sebagai bone graft, karena nilai viabilitas sel lebih dari 80 persen, nilai kuat tekan tertinggi (11.799 ±0.00057) MPa (Mega Pascal, Red), sehingga bahan HA dari tulang sotong ini layak diaplikasikan pada tulang cancelous," jelasnya.
Tahapan berikutnya, adalah membuat ukuran HA menjadi berukuran nano melalui metode high energy milling (HEM). Selain untuk memperkecil ukuran partikel, HEM juga membuat struktur permukaan HA menjadi lebih baik. Dengan begitu, dapat mempercepat proses osteokonduksi dan osteointegrasi, serta menstimulasi aktivitas osteoblast untuk pembentukan sel-sel tulang yang baru.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan