Lebih menarik lagi, efek tersebut masih terdeteksi dalam darah peserta hingga enam minggu setelah mereka kembali ke pola makan seperti biasa. Sebelum membahas lebih jauh soal temuan ilmiahnya, yuk kenalan dulu dengan oatmeal dan apa yang membuatnya begitu istimewa sebagai bahan pangan.
Apa itu oatmeal?
Melansir laman Britannica, oatmeal adalah olahan biji tanaman gandum jenis Avena sativa yang umumnya disajikan sebagai sarapan hangat. Biji gandum ini dimasak dalam cairan panas seperti air atau susu, lalu bisa ditambahkan berbagai topping seperti buah segar, kacang-kacangan, hingga rempah-rempah.Oatmeal tersedia dalam berbagai bentuk, mulai dari oat groats yang paling sedikit diproses, steel-cut oats, Scottish oats, rolled oats, quick oats, hingga instant oats yang paling praktis. Dari sisi gizi, oat dikenal kaya akan serat larut beta-glucan, protein, lemak sehat, serta senyawa fenolik yang bersifat antioksidan.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) bahkan mendukung klaim konsumsi rutin gandum utuh sebagai bagian dari pola makan sehat dapat membantu menurunkan risiko penyakit jantung koroner.
Setelah memahami apa itu oatmeal dan kandungan gizinya, kini saatnya masuk ke pertanyaan yang lebih menarik yaitu seberapa besar dampak diet oatmeal jangka pendek terhadap kadar kolesterol dalam tubuh?
Diet oatmeal 48 jam dan efeknya pada kolesterol
Melansir Science Alert, uji klinis tersebut melibatkan 32 peserta, terdiri dari 15 pria dan 17 wanita, yang seluruhnya mengalami sindrom metabolik. Kondisi ini ditandai dengan kelebihan berat badan, tekanan darah tinggi, serta kadar gula darah yang tinggi, dan kerap menjadi awal berkembangnya diabetes.Sebanyak 17 peserta menjalani pola makan berbasis oatmeal selama dua hari penuh. Mereka mengonsumsi 100 gram oat gulung yang dimasak dengan air, tiga kali sehari. Peserta hanya diperbolehkan menambahkan buah dan sayuran tertentu, tanpa garam, gula, maupun pemanis tambahan.
Sementara itu, 15 peserta lainnya mengikuti pola makan sehat tanpa oat dan berperan sebagai kelompok pembanding. Hasilnya terbilang mengesankan.
Segera setelah menjalani diet, total kolesterol pada kelompok yang mengonsumsi oat turun sekitar 8 persen. Kadar LDL, yaitu kolesterol jahat yang meningkatkan risiko penyakit jantung, bahkan merosot hingga 10 persen. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol. Selain itu, para peserta juga mengalami penurunan berat badan serta sedikit penurunan tekanan darah.
Ilmuwan Pangan dari University of Bonn di Jerman sekaligus penulis senior studi tersebut, Marie-Christine Simon, menyatakan penurunan LDL sebesar 10 persen tergolong signifikan, meski belum sepenuhnya menyamai efek obat-obatan modern. Bagian paling menarik dari studi ini bukan hanya besarnya penurunan kolesterol, tetapi juga mekanisme yang diduga berperan di baliknya, yakni keterlibatan bakteri usus.
Temuan ini semakin diperkuat oleh riset akademis. Dalam penelitian berjudul Cholesterol-Lowering Effects of Oats Induced by Microbially Produced Phenolic Metabolites in Metabolic Syndrome: A Randomized Controlled Trial yang diterbitkan di jurnal Nature Communications pada 14 Januari 2026, para peneliti mengungkap senyawa fenolik yang dihasilkan oleh bakteri usus saat mencerna oat menjadi faktor pendorong utama penurunan kolesterol tersebut.
Mengutip laman Nature Communications, tim peneliti yang dipimpin Linda Klümpen dari University of Bonn menemukan diet oatmeal meningkatkan jumlah bakteri tertentu di usus yang memproduksi senyawa-senyawa fenolik seperti asam ferulat (FA) dan asam dihidroferulat (DHFA). Senyawa-senyawa ini sebelumnya telah terbukti dalam studi hewan memiliki efek positif terhadap metabolisme kolesterol.
Bahkan, saat DHFA diuji langsung di laboratorium pada sel darah putih manusia, senyawa tersebut terbukti mengurangi penyerapan kolesterol ke dalam sel. Penelitian ini menggunakan pendekatan multi-omics yang komprehensif, menggabungkan analisis klinis, profil metabolomik plasma dan feses, serta komposisi mikrobioma usus untuk memahami mekanisme yang mendasarinya.
Para peneliti juga menemukan kadar kolesterol peserta kelompok oat cenderung tetap di bawah nilai awal selama enam minggu masa pemantauan setelah diet berakhir. Ini menunjukkan adanya efek biologis jangka panjang yang layak ditelusuri lebih jauh.
Dalam studi yang sama, tim peneliti juga menjalankan percobaan kedua yakni sebanyak 17 sukarelawan mengonsumsi 80 gram oat setiap hari selama enam minggu tanpa pembatasan makan lainnya. Meskipun ada beberapa manfaatnya, diet oat yang lebih panjang dan tidak terlalu ekstrem tidak menghasilkan penurunan kolesterol yang cepat seperti diet oat pada umumnya.
Hal ini menunjukkan dosis tinggi dalam waktu singkat tampaknya jauh lebih efektif dibandingkan dengan konsumsi oat harian dalam jumlah sedang yang dipadukan dengan pola makan biasa. "Diet berbasis oat jangka pendek yang dilakukan secara teratur dapat menjadi cara yang dapat ditoleransi dengan baik untuk menjaga kadar kolesterol dalam kisaran normal dan mencegah diabetes," ungkap Simon.
Peneliti juga menyebut langkah berikutnya adalah mengkaji apakah diet oatmeal intensif yang diulang setiap enam minggu benar-benar memberikan efek pencegahan yang bersifat permanen.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News