Air secara alami mengandung berbagai zat terlarut yang berasal dari batuan, tanah, maupun lingkungan di sekitarnya. Mineral dan garam yang terlarut tersebut dikenal sebagai dissolved solids. Beberapa di antaranya adalah kalsium, natrium, magnesium, bikarbonat, dan klorida.
Apa sebenernya air demineral dan bagaimana prosesnya? Melansir laman United States Geological Survey (USGS) dan United States Environmental Protection Agency (EPA), berikut penjelasannya!
Apa Itu Air Demineral?
Air demineral adalah air yang kandungan mineral terlarutnya telah dikurangi melalui proses pengolahan tertentu, seperti deionisasi dan reverse osmosis (RO) dapat menghilangkan sebagian besar mineral dari air. Sementara itu, distilasi juga dapat menghasilkan air dengan kandungan mineral yang sangat rendah.Kandungan mineral dalam air dapat diukur melalui jumlah total padatan terlarut atau Total Dissolved Solids (TDS). Semakin rendah kandungan zat terlarutnya, semakin rendah pula kandungan mineral dalam air tersebut.
Tingkat penghilangan mineral bergantung pada teknologi dan tahapan pengolahan yang digunakan.
Proses Pembuatan Air Demineral
Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengurangi kandungan mineral dalam air. Salah satunya adalah reverse osmosis, yaitu proses yang menggunakan membran untuk memisahkan berbagai zat terlarut dari air.Metode lainnya adalah deionisasi, yang bekerja dengan menghilangkan ion-ion terlarut dari air. Deionisasi dan reverse osmosis dapat menghilangkan sebagian besar mineral, meskipun efektivitasnya dapat berbeda dibandingkan proses distilasi.
Air hasil proses demineralisasi dapat memiliki karakteristik berbeda-beda tergantung teknologi pengolahan, sumber air, serta tingkat pemurnian yang diterapkan.
Kegunaan Air Demineral
Air dengan kandungan mineral rendah banyak digunakan untuk kebutuhan yang memerlukan air dengan jumlah mineral terkontrol. Salah satunya adalah perangkat tertentu yang dapat mengalami penumpukan mineral ketika menggunakan air dengan kandungan mineral tinggi.Beberapa perangkat yang memanfaatkan penggunaan air demineral, di antaranya:
- Humidifier, guna mengurangi paparan mineral dari air keran dan mencegah terbentuknya residu mineral atau white dust.
- Kebutuhan teknis dan proses yang membutuhkan kontrol terhadap kandungan mineral.
Apakah Air Demineral Bisa Diminum?
World Health Organization (WHO) menyoroti bahwa air yang telah mengalami demineralisasi secara ekstensif dapat memiliki kandungan kalsium dan magnesium yang sangat rendah. WHO juga mencatat air demineralisasi yang tidak mengalami remineralisasi tidak dianggap sebagai sumber ideal untuk memperoleh mineral-mineral tersebut dari air minum.WHO menjelaskan apabila air demineral digunakan sebagai air minum, konsumen perlu memperhatikan standar keamanan air, proses pengolahan, serta informasi pada label produk, bukan hanya melihat rendahnya kandungan mineral.
Perbedaan Air Demineral dengan Air Mineral
Perbedaan utamanya terletak pada kandungan mineral. Air demineral telah melalui proses untuk mengurangi mineral terlarut, sedangkan air mineral justru memiliki kandungan mineral tertentu yang berasal dari sumber airnya atau dipertahankan dalam proses pengolahannya.Mineral terlarut seperti kalsium, magnesium, natrium, kalium, klorida, bikarbonat, dan sulfat merupakan beberapa komponen yang umum ditemukan secara alami dalam air. Sementara itu, air hasil demineralisasi memiliki kandungan mineral yang jauh lebih rendah. (Adinda Kinanthi)