"Efisiensi konversinya menjadi energi listrik sendiri dapat mencapai 50 persen, dibandingkan Uranium yang hanya 30 persen," jelasnya.
Nilai tersebut, lanjut Michael, merupakan yang terbesar dibandingkan pembangkit listrik lainnya, sehingga menghasilkan limbah padat radioaktif yang lebih sedikit. Ia mengatakan, reaktor PLTN memanfaatkan reaksi fisi dari senyawa radioaktif yang menghasilkan steam sebagai penggerak turbin untuk produksi listrik.
"Dalam hal ini, Thorium lebih aman karena reaksi fisinya tidak membentuk senyawa yang berpotensi disalahgunakan untuk bom nuklir," ungkapnya.
Baca:
Tim Riset Vaksin Unpad Rekomendasikan Sinovac Kantongi EUA
Penggunaan Thorium, menurut Michael, juga berkenaan dengan melimpahnya cadangan Thorium di Indonesia. Ia menambahkan, hasil eksplorasi yang dilakukan Pusat Sumber Daya Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan adanya cadangan Monasit (mineral yang mengandung Thorium) terbesar di daerah Kepulauan Bangka Belitung.
"Kadar Thorium-nya sangat besar, berkisar antara 62,9 – 85,7 ppm per gram," bebernya.