Variasi jarak yang dihasilkan dari bentuk orbit ini tercatat sekitar 1,7 persen, suatu angka yang mungkin tampak sepele, namun justru menyimpan dampak yang sangat menarik bagi ilmu pengetahuan.
Selama ini, tak sedikit orang yang beranggapan musim panas terjadi karena Bumi tengah berada di posisi paling dekat dengan Matahari, sementara musim dingin datang ketika jarak keduanya semakin menjauh. Padahal, anggapan yang sudah lama beredar di masyarakat itu ternyata keliru dan bahkan bertolak belakang dengan fakta yang sebenarnya.
Faktanya, saat Bumi mencapai titik terjauhnya dari sang surya, suhu rata-rata permukaan Bumi justru meningkat secara global. Lalu, bagaimana bisa semakin jauhnya jarak antara Bumi dan Matahari justru berbanding lurus dengan meningkatnya suhu yang dirasakan?
Fenomena ini sering kali membuat banyak orang bertanya-tanya tentang hal apa yang sedang bekerja di alam semesta. Apakah intensitas cahaya Matahari yang berkurang sekitar 7 persen saat jarak terjauh itu tidak cukup untuk mendinginkan Bumi? Jawabannya ternyata bukan pada seberapa dekat Bumi dengan Matahari, melainkan pada bagaimana struktur Bumi merespons distribusi panas tersebut secara unik.
Yuk kulik bersama fakta-fakta astronomi yang mencengangkan ini. Dengan memahami jarak rata-rata antara Bumi dan Matahari serta fenomena Aphelion dan Perihelion, Sobat Medcom akan tahu betapa tepatnya mekanisme alam bekerja dalam merancang segala kondisi untuk menopang kehidupan di planet ini.
Jarak antara Bumi dan Matahari
Melansir laman infoastronomy.org, dalam sistem tata surya, jarak antara Bumi dan Matahari tidak selalu sama melainkan bervariasi sekitar 1,7 persen karena bentuk orbit yang elips. Secara ilmiah, jarak rata-rata antara keduanya ditetapkan sebagai 1 Unit Astronomi (1 AU), yang setara dengan kurang lebih 93 juta mil atau sekitar 150 juta kilometer. Angka ini menjadi standar ukuran dasar dalam skala astronomi untuk memahami posisi planet kita di ruang hampa.Setiap tahun, Bumi mencapai titik paling dekat dengan Matahari dalam lintasan orbitnya. Momen ini dikenal dengan istilah Perihelion. Peristiwa ini umumnya berlangsung sekitar tanggal 5 Januari, saat jarak antara Bumi dan Matahari menyusut hingga sekitar 91,1 juta mil atau setara dengan 146,6 juta kilometer.
Sebaliknya, pada bulan Juli, tepatnya sekitar tanggal 5 Juli Bumi akan mencapai titik orbitnya yang paling jauh dari Matahari. Hal itu dikenal sebagai Aphelion. Pada momen tersebut, jarak antara Bumi dan Matahari terbentang sejauh 94,8 juta mil atau sekitar 152,6 juta kilometer.
Meskipun selisih jarak antara kedua titik orbit ini mencapai jutaan kilometer, kestabilan lintasan Bumi tetap terpelihara dengan baik dan cukup untuk terus menopang dan mempertahankan kehidupan di planet kita.
Mengapa Bumi lebih panas saat jauh dari Matahari?
Meskipun intensitas cahaya matahari yang diterima Bumi berkurang hingga 7 persen saat berada di titik Aphelion, suhu rata-rata global justru tercatat 2,3°C lebih tinggi dibandingkan ketika Bumi berada di titik Perihelion. Lantas, apa yang sesungguhnya terjadi?1. Kemiringan poros
Pergantian musim di Bumi sama sekali tidak ditentukan oleh seberapa dekat atau jauh jarak kita dari Matahari, melainkan oleh kemiringan sumbu rotasi Bumi yang mencapai 23,5 derajat.2. Komposisi permukaan Bumi
Komposisi permukaan Bumi turut berperan besar. Belahan Bumi Utara memiliki proporsi daratan yang jauh lebih luas dibandingkan Belahan Bumi Selatan yang permukaannya sebagian besar tertutup lautan.3. Kapasitas panas
Daratan dan tanah menyerap serta melepaskan panas jauh lebih cepat dibandingkan dengan air laut. Maka ketika musim panas tiba di belahan Bumi Utara yang kebetulan bertepatan dengan fase Aphelion, hamparan daratan yang luas itu menyerap panas dalam jumlah besar, sehingga mendorong suhu global naik secara signifikan.4. Faktor gerak orbital
Saat berada di titik Aphelion, laju pergerakan Bumi mengelilingi Matahari melambat. Akibatnya, musim panas di Belahan Bumi Utara berlangsung sekitar dua hingga tiga hari lebih lama dibandingkan musim panas di Belahan Bumi Selatan.Fenomena ini mengajarkan dalam skala astronomi, kedekatan fisik tidak selalu berbanding lurus dengan suhu yang dirasakan. Meskipun Bumi berada pada jarak terjauhnya dari Matahari setiap bulan Juli, kombinasi antara kemiringan poros sebesar 23,5 derajat dan luasnya daratan di Belahan Bumi Utara justru menciptakan puncak panas global yang signifikan.
Sobat Medcom, itulah fakta menarik mengenai jarak rata-rata Bumi dan Matahari yang ternyata menyimpan banyak kejutan. Semoga informasi ini dapat bermanfaat, ya! (Talitha Islamey)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News