Salah satu harapan mengatasi masalah ini adalah plastik yang bisa terurai secara alami atau plastik yang bisa hancur dengan sendirinya di alam. Tapi pertanyaan yang sering muncul adalah “seberapa cepat plastik itu benar-benar hancur, dan siapa yang menghancurkannya?”
Ternyata, jawabannya ada pada makhluk mikroskopis yang hidup di laut, atau yang biasa dikenal dengan bakteri. Tim peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT ) baru saja menemukan sesuatu yang mengejutkan.
Tim peneliti menemukan bakteri-bakteri laut tidak bekerja sendiri-sendiri untuk mengurai plastik. Tanpa kita ketahui, selama ini mereka bekerja sama seperti tim dan masing-masing anggota punya tugas berbeda.
Ada yang bertugas memecah plastik menjadi bagian-bagian kecil, dan ada yang bertugas ‘memakan’ setiap bagian kecil tersebut hingga habis. Hal ini merupakan salah satu penelitian pertama di dunia yang berhasil membuktikan bagaimana bakteri-bakteri tertentu bekerja bersama dalam mengurai plastik, sekaligus menemukan kecepatan penguraian bisa sangat berbeda tergantung kondisi di sekitarnya.
"Selama ini masih banyak yang belum kita ketahui tentang berapa lama plastik bisa bertahan di alam," kata mahasiswa PhD yang memimpin penelitian, Marc Foster, dikutip dari laman news.mit.edu, Rabu, 18 Maret 2026.
"Ternyata, cepat atau lambatnya plastik terurai sangat bergantung pada bakteri apa yang ada di sekitar plastik itu dan juga tergantung pada jenis plastiknya sendiri." lanjut dia.
Bayangkan, lebih dari separuh plastik yang diproduksi di dunia tidak didaur ulang. Plastik-plastik itu berakhir di tempat pembuangan sampah atau bahkan dibuang langsung ke alam.
Plastik biodegradable hadir sebagai solusi, tapi jika tidak tahu bagaimana cara kerjanya saat terurai, kita tidak bisa memastikan apakah plastik itu benar-benar aman untuk lingkungan.
"Tanpa memahami detail proses penguraiannya, kita tidak bisa memprediksi berapa lama plastik itu akan bertahan di alam," ujar Foster.
Selama ini, kebanyakan penelitian hanya mengamati satu jenis bakteri saja. Padahal, di bumi tidak ada satu bakteri pun yang sanggup mengurai plastik sendirian. Hal itu terjadi karena proses penguraian plastik itu sangat rumit dan butuh banyak keahlian yang berbeda dan terlalu berat jika harus ditanggung satu bakteri saja.
Dari Laut Mediterania ke Laboratorium MIT
Penelitian ini dimulai dengan cara unik. Perusahaan kimia Badische Anilin- und Soda-Fabrik (BASF) yang memproduksi jenis plastik yang diteliti menenggelamkan sampel plastik ke berbagai kedalaman Laut Mediterania. Tujuannya untuk membiarkan bakteri-bakteri laut tumbuh secara alami di permukaan plastik tersebut.Setelah itu, sampelnya dikirim ke laboratorium MIT. Di sana, para ilmuwan memisahkan dan mengidentifikasi bakteri-bakteri yang ada dan berhasil menemukan 30 spesies bakteri yang aktif tumbuh di atas plastik.
Lalu mereka mulai bereksperimen satu per satu dan menemukan sesuatu yang sangat menarik.
Dari 30 spesies yang ditemukan, ada satu bakteri yang punya kemampuan luar biasa.
Bakteri tersebut dinamakan Pseudomonas pachastrellae. Bakteri ini bisa memecah plastik menjadi tiga bahan kimia penyusunnya, yaitu Asam tereftalat, Asam sebakat, dan Butanediol.
Namun, bakteri ini tidak bisa memakan ketiga bahan kimia tersebut. Tugasnya hanya memecah, bukan menghabiskan. Oleh karena itu, bakteri-bakteri lain mengambil peran.
Para peneliti menguji bakteri-bakteri lainnya dan menemukan masing-masing bisa ‘memakan’ satu atau dua bahan kimia tersebut, tapi tidak semuanya sekaligus.
Akhirnya, para peneliti membentuk sebuah tim kecil yang terdiri dari lima spesies bakteri dengan kemampuan yang saling melengkapi. Hasilnya menunjukkan tim kecil yang beranggotakan lima bakteri ini ternyata sama efektifnya dengan komunitas 30 bakteri sebelumnya dalam mengurai plastik hingga tuntas.
"Ketika saya menghilangkan salah satu bakteri dari tim, proses penguraian langsung melambat," kata Foster. "Dan ketika masing-masing bakteri diuji sendiri, tidak ada yang bisa mengurai plastik selengkap ketika mereka bekerja bersama. Hasilnya jauh lebih keren dari yang saya bayangkan.” ujar dia.
Satu hal menarik lainnya adalah tim lima bakteri ini ternyata hanya bisa mengurai satu jenis plastik tertentu saja. Ketika dihadapkan dengan jenis plastik yang berbeda, mereka tidak berhasil mengurainya
Hal itu menunjukkan jenis bakteri yang ada di suatu tempat akan sangat menentukan plastik mana yang bisa terurai di sana dan seberapa cepat proses itu terjadi. "Ini membuktikan nasib sebuah plastik di alam sangat bergantung pada bakteri apa yang tinggal di sana," ujar Foster.
Dampak untuk masa depan
Foster mengakui bakteri yang diteliti kemungkinan hanya ditemukan di Laut Mediterania dan penelitian ini masih dalam tahap awal. Namun, temuan ini membuka pintu besar bagi perkembangan teknologi lingkungan di masa depan.Dengan memahami ‘pembagian tugas’ antarbakteri, para ilmuwan berharap bisa menciptakan plastik baru yang lebih mudah dan cepat terurai. Selain itu, mereka juga berharap dapat mengembangkan sistem daur ulang berbasis mikroba yang mengubah sampah plastik menjadi bahan berguna.
Saat ini, Foster sedang melanjutkan penelitiannya untuk mencari tahu apa yang membuat pasangan bakteri tertentu bisa mengurai plastik lebih cepat, dan bagaimana enzim bakteri menempel pada plastik untuk memulai proses penguraian.
Penelitian ini didukung oleh MIT Climate and Sustainability Consortium, perusahaan BASF, serta program beasiswa ilmiah dari pemerintah Amerika Serikat. (Talitha Islamey)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News