Tjahja menjelaskan desain rumah pengering tersebut dikembangkan untuk menyempurnakan model yang telah ada. Teknologi ini dinilai lebih efektif dibandingkan dengan rumah pengering konvensional karena dilengkapi sistem aliran udara yang baik dan pemanas tidak langsung (indirect heat transfer).
“Desain rumah pengering ini dibuat dengan menambahkan sistem aliran udara yang baik serta alat pemanas tipe indirect heat transfer sederhana. Pemanas dapat menggunakan bahan apa saja, karena asap tidak masuk ke dalam ruang pengering,” ujar Tjahja dalam keterangan tertulis, Senin, 12 Januari 2026.
Rumah pengering sebenarnya sudah banyak dibangun di masyarakat. Namun, sebagian besar tidak efektif karena hanya mempertimbangkan suhu tanpa memperhatikan sirkulasi udara.
“Akibatnya, banyak rumah pengering tidak digunakan karena proses pengeringan terlalu lama dan produk justru berjamur,” kata dia.
Tjahja memaparkan pengeringan merupakan proses pelepasan uap air dari bahan yang sangat dipengaruhi oleh dimensi dan sifat bahan, serta perbedaan tekanan uap air antara bahan dan lingkungan. Suhu memang berfungsi mempercepat penguapan, tetapi tanpa aliran udara yang memadai, ruang pengering akan menjadi panas dan lembap sehingga uap air sulit keluar dari bahan.
Rumah pengering rancanga Tjahja mampu mengeringkan bahan baku skala industri dengan kapasitas efektif sekitar 500 hingga 1.000 kilogram. Bahan yang dapat dikeringkan antara lain biji-bijian seperti kopi, padi, jagung, dan kedelai; bahan irisan seperti jahe, kunyit, singkong, dan talas; serta tepung dan granula seperti gula semut dan tepung singkong.
Selain itu, rumah pengering ini juga cocok untuk komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang. Inovasi tersebut dinilai sesuai untuk pelaku usaha hasil pertanian. Di Indramayu dan Subang, alat ini digunakan untuk mengeringkan biji jagung.
Dari sisi biaya, Tjahja menyebut harga pembangunan rumah pengering sangat bergantung pada material yang digunakan. Desainnya juga dapat dimodifikasi menyesuaikan kondisi dan bahan yang tersedia.
Di Ponorogo, misalnya, rumah pengering berbahan bambu dan plastik dapat dibangun dengan biaya sekitar Rp10–13 juta. Apabila menggunakan baja ringan dan plastik, biayanya berkisar Rp35–50 juta, sedangkan penggunaan material berkualitas tinggi dapat menembus lebih dari Rp200 juta.
“Biaya pembangunannya mirip dengan pembangunan green house sederhana,” ujar dia.
Tjahja berharap inovasi ini dapat memberi manfaat bagi masyarakat. Baginya, kekuatan riset tidak hanya terletak pada publikasi ilmiah, tetapi juga pada kemampuannya menjawab kebutuhan nyata di masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News