Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Rhenald Kasali. Foto: Instagram @rhenald.kasali
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Rhenald Kasali. Foto: Instagram @rhenald.kasali

Warning! Ketergantungan AI Berisiko Bikin IQ Gen Z Turun

Ilham Pratama Putra • 29 September 2026 13:16
Ringkasnya gini..
  • Rhenald Kasali menyoroti perubahan kemampuan kognitif generasi muda di tengah perkembangan teknologi.
  • Smartphone dan AI disebut mendorong cognitive offloading, yakni menyerahkan proses berpikir kepada teknologi.
  • Rhenald mengingatkan pentingnya self-control agar manusia tidak dikendalikan teknologi.
Jakarta: Penggunaan smartphone dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dinilai ikut mengubah cara generasi muda berpikir. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Rhenald Kasali menyoroti fenomena cognitive offloading, yakni kebiasaan manusia menyerahkan sebagian proses berpikir kepada teknologi.

Rhenald mengatakan fenomena tersebut perlu diperhatikan karena kemampuan kognitif generasi muda disebut mengalami perubahan dibandingkan generasi sebelumnya. Ia merujuk pada temuan peneliti James Flynn yang menunjukkan skor Intelligence Quotient (IQ) sempat meningkat dari waktu ke waktu, sebelum kemudian berbalik mengalami penurunan pada periode tertentu.

“Dulu ada yang namanya Flynn effect, IQ naik 2 sampai 3 poin setiap 10 tahun. Kemudian terjadi reverse Flynn effect, IQ turun,” ujar Rhenald melalui unggahan instagramnya @rhenald.kasali dikutip Selasa 29 September 2026. Menurut dia, perkembangan teknologi menjadi salah satu hal yang perlu dicermati dalam perubahan tersebut. Manusia semakin terbiasa mengandalkan perangkat untuk melakukan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan proses berpikir secara langsung.

Kebiasaan itu disebut sebagai cognitive offloading. Jika dahulu kalkulator digunakan untuk membantu menghitung, kini teknologi berkembang hingga AI yang dapat membantu mencari informasi, menyusun tulisan, memecahkan persoalan, hingga menghasilkan berbagai keputusan berbasis data.

Rhenald juga menyinggung keberadaan smartphone yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari generasi muda. Menurut dia, penggunaan perangkat tersebut bukan hanya mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi juga berpotensi memengaruhi cara berpikir dan berperilaku.

“Smartphone ini tampaknya telah meng-hack pikiran manusia,” katanya.

Fenomena perubahan kemampuan kognitif tersebut juga disinggung Rhenald melalui capaian Programme for International Student Assessment (PISA). Ia menyebut hasil PISA 2022 menunjukkan penurunan skor matematika dan membaca dibandingkan periode sebelumnya.
 
Ilustrasi jurnal ilmiah_ DOK Medcom
Ilustrasi. Medcom


Data Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memang menunjukkan rata-rata skor matematika negara-negara OECD turun hampir 15 poin pada PISA 2022 dibandingkan 2018, sedangkan skor membaca turun sekitar 10 poin. Sementara itu, perubahan skor sains secara rata-rata tidak signifikan.

Namun, penurunan tersebut tidak dapat secara langsung disimpulkan sebagai akibat penggunaan smartphone atau AI. OECD mencatat terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi hasil PISA, termasuk dampak pandemi Covid-19, sementara sejumlah tren penurunan kemampuan belajar juga sudah terlihat sebelum pandemi.

Di Indonesia, hasil PISA 2022 juga menunjukkan penurunan skor dibandingkan 2018 pada matematika, membaca, dan sains. OECD mencatat skor matematika Indonesia turun dari 379 pada 2018 menjadi 366 pada 2022.
Selain kemampuan akademik, Rhenald mengaitkan perubahan penggunaan teknologi dengan perilaku generasi muda. Ia menyebut munculnya fenomena yang disebutnya sebagai “generasi tantrum”.

Menurut Rhenald, fenomena tersebut dapat terlihat dari perilaku mudah berkomentar, berdebat, menyalahkan pihak lain. Bahkan lebih parah generasi saat ini mudah memberikan penilaian buruk secara impulsif ketika menghadapi sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan.

Ia menilai persoalannya bukan sekadar seberapa sering anak menggunakan smartphone. Tetapi bagaimana teknologi digunakan dan apakah anak tetap memiliki kemampuan mengendalikan dirinya.

Rhenald juga menyoroti kebiasaan orang tua menyerahkan smartphone kepada anak ketika menghadapi masalah. Misalnya dengan memberikan akses YouTube, video, atau gim agar anak teralihkan.

Padahal, menurut dia, kemampuan mengendalikan diri merupakan modal penting bagi manusia. Ketika kemampuan tersebut melemah, seseorang akan lebih mudah dipengaruhi oleh lingkungan maupun teknologi yang digunakan sehari-hari.

“Self-control ini adalah modal manusia. Manusia tanpa kemampuan mengendalikan dirinya akan dikendalikan oleh orang lain, dikendalikan teknologi, dan akhirnya mudah tantrum,” tegasnya.

Karena itu, perkembangan smartphone dan AI menurut Rhenald perlu diikuti dengan kemampuan manusia untuk tetap mengendalikan proses berpikirnya sendiri. Teknologi dapat membantu pekerjaan manusia, tetapi jangan sampai seluruh proses berpikir justru diserahkan kepada teknologi.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan