Temuan tersebut tercantum dalam Global Family Office Report 2026 yang dirilis Citi Wealth. Laporan ini menggambarkan pandangan serta strategi investasi family office berdasarkan survei terhadap lebih dari 350 family office yang tersebar di lebih dari 40 negara.
Baca juga: Organisasi dengan AI Tepercaya 15 Kali Lebih Berpeluang Catat ROI Tinggi |
Survei yang digelar pada Juni dan Juli 2026 tersebut merupakan bagian dari cakupan Global Family Office Group Citi Wealth yang bekerja dengan lebih dari 1.900 family office secara global. Dari responden survei, sekitar 22% berasal dari kawasan Asia Pasifik.
Dawn Nordberg, Head of Integrated Client Solutions and the Global Family Office Group, Citi Wealth, mengatakan family office saat ini harus menyeimbangkan berbagai kepentingan dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
“Family office secara global menyeimbangkan keyakinan dengan ketahanan, peluang dengan disiplin, dan pertumbuhan dengan pengelolaan yang baik,” kata Dawn.
Menurut dia, family office sebagai investor institusional terus mengalokasikan modal, mengembangkan kemampuan investasi, serta mempersiapkan kesinambungan pengelolaan kekayaan untuk generasi berikutnya.
Kinerja Portofolio Asia Pasifik
Dalam laporan tersebut, family office Asia Pasifik mencatat performa portofolio yang relatif kuat. Sebanyak 26% responden di kawasan ini melaporkan imbal hasil tahunan di atas 15%.Pada saat yang sama, 22% family office Asia Pasifik memasang target imbal hasil tahunan lebih dari 15%. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan rata-rata global.
Kinerja tersebut antara lain dikaitkan dengan penguatan pasar saham di kawasan Asia Pasifik. Salah satunya terlihat dari indeks Nikkei 225 yang tercatat naik sekitar 30% hingga pertengahan Juni.
Family office di kawasan tersebut juga tercatat aktif menyesuaikan strategi ketika menghadapi perubahan kondisi pasar. Sebanyak 62% responden menerapkan manajemen aktif, sedangkan 49% menggunakan strategi lindung nilai.
Asia Pasifik mencatat tingkat partisipasi investasi langsung tertinggi dibandingkan kawasan lain, yakni mencapai 79%. Family office di kawasan ini juga banyak mengandalkan tim internal untuk menemukan peluang investasi. Sebanyak 77% responden menyebut tim internal sebagai sumber utama peluang investasi langsung.
Data tersebut menunjukkan semakin besarnya peran kemampuan internal dalam proses pencarian dan evaluasi investasi family office di Asia Pasifik.
Selain AI, sektor kesehatan, robotika, dan perangkat lunak juga menjadi bidang yang mendapat perhatian dalam pencarian peluang investasi baru. AI sendiri menjadi tema yang paling menonjol. Sebanyak 80% family office Asia Pasifik memasukkan AI sebagai fokus sektor utama untuk investasi langsung baru.
Kawasan Asia Pasifik juga mencatat tingkat kenyamanan yang relatif tinggi terhadap aset digital. Sekitar separuh responden menyatakan tidak menghadapi hambatan signifikan dalam mengadopsi aset digital.
Risiko Keuangan Jadi Perhatian
Di tengah peluang tersebut, family office Asia Pasifik tetap mencermati sejumlah risiko. Stabilitas sistem keuangan global menjadi kekhawatiran bagi 53% responden, sementara 52% menyoroti volatilitas pasar. Kedua faktor tersebut disebut dengan tingkat yang lebih tinggi dibandingkan sejumlah kawasan lainnya.Laporan tersebut juga menyebut kondisi di Selat Hormuz sebagai salah satu faktor yang dapat meningkatkan sensitivitas terhadap risiko energi dan pasar. Sebanyak 85% minyak yang ditujukan untuk pasar Asia melewati jalur tersebut.
Bernard Wai, Head of Asia for Integrated Client Solutions and Global Family Office, Citi Wealth, mengatakan perkembangan tersebut memperlihatkan perubahan dalam cara family office Asia Pasifik mengelola kekayaan.
“Temuan survei 2026 menunjukkan lanskap family office yang semakin matang di Asia Pasifik, yang ditandai oleh pemikiran kewirausahaan, praktik investasi berkualitas institusional, dan selera yang kuat untuk konektivitas global,” kata Bernard.
Ia mengatakan family office di kawasan tersebut semakin mengembangkan kemampuan investasi dan tata kelola dengan pendekatan yang menyerupai dana kekayaan negara (Sovereign Wealth Fund/SWF).
Pendekatan tersebut mencakup perluasan program investasi langsung, pemanfaatan AI, hingga transaksi lintas negara dengan mempertimbangkan aspek perpajakan.
Tren Family Office Global
Secara global, hampir 90% family office yang disurvei mencatat kinerja portofolio positif secara year-to-date. Di sisi lain, 41% responden masih menetapkan target imbal hasil tahunan pada kisaran 7% hingga 10%.Kondisi tersebut menunjukkan bahwa family office tetap mengejar pertumbuhan, tetapi sekaligus memperhatikan berbagai risiko yang berasal dari inflasi, suku bunga, kondisi geopolitik, dan stabilitas sistem keuangan.
Dalam menghadapi ketidakpastian, sebagian besar family office tidak melakukan perubahan portofolio secara besar-besaran. Lebih dari 40% responden bahkan tidak melakukan perubahan signifikan.
Sebagian lainnya memilih melakukan penyesuaian secara lebih terarah melalui manajemen aktif dan strategi lindung nilai untuk menjaga ketahanan portofolio.
Ekuitas publik kembali mendapat perhatian dalam strategi alokasi modal family office. Hampir separuh responden meningkatkan eksposur terhadap saham selama tahun berjalan.
Ekuitas negara maju juga menjadi kelas aset yang paling banyak diminati untuk tambahan alokasi bersih pada masa mendatang. Meski demikian, portofolio family office secara umum tetap tersebar di sejumlah kelas aset, termasuk ekuitas swasta, pendapatan tetap, dan kas.
Sementara itu, pasar tertutup tetap memiliki posisi penting. Ekuitas swasta masih menarik modal, sedangkan investasi langsung dan peluang pada perusahaan tahap pertumbuhan juga terus mendapatkan perhatian. Namun, family office mulai lebih selektif. Kemampuan menemukan peluang, keahlian investasi, serta akses terhadap jaringan yang lebih luas menjadi faktor yang semakin diperhitungkan.
AI Mulai Dipakai untuk Operasional
Penggunaan AI oleh family office tidak hanya berkaitan dengan pencarian investasi. Teknologi tersebut mulai diterapkan dalam berbagai kegiatan, seperti analisis investasi, pengelolaan informasi, pelaporan, otomatisasi pekerjaan, hingga membantu proses pengambilan keputusan.Fokus awalnya lebih banyak diarahkan pada peningkatan produktivitas daripada menghasilkan alpha, yakni imbal hasil investasi yang melampaui kinerja pasar.
Family office melaporkan sejumlah manfaat dari penggunaan AI, termasuk pemrosesan informasi yang lebih cepat, efisiensi yang lebih tinggi, serta peningkatan kemampuan dalam melakukan uji tuntas. Meski teknologi semakin banyak digunakan, proses pengambilan keputusan investasi tetap menempatkan manusia yang berpengalaman sebagai pengambil keputusan akhir.
Globalisasi juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan family office. Sebanyak 38% responden memperkirakan aktivitas keluarga mereka akan semakin terhubung secara global dalam lima tahun mendatang.
Kondisi tersebut membuat pengelolaan aset, bisnis, dan anggota keluarga yang tersebar di berbagai yurisdiksi menjadi semakin kompleks. Family office perlu memperhatikan berbagai aspek, mulai dari perpajakan, struktur kepemilikan aset, kepatuhan terhadap regulasi, hingga perencanaan lintas negara.
Oleh karena itu, kemampuan memahami berbagai yurisdiksi dan membangun keahlian lintas batas diperkirakan semakin penting dalam pengelolaan kekayaan keluarga.
Suksesi Mulai Mendesak
Pergantian kepemimpinan juga menjadi perhatian family office. Sekitar sepertiga responden memperkirakan akan menghadapi transisi kepemimpinan dalam keluarga, family office, atau bisnis keluarga dalam lima tahun mendatang.Sejumlah tantangan masih muncul dalam proses tersebut, termasuk belum jelasnya rencana suksesi, kesiapan calon pemimpin generasi berikutnya, serta perbedaan pandangan mengenai arah masa depan.
Karena itu, perencanaan suksesi tidak hanya berkaitan dengan menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin berikutnya. Proses tersebut juga mencakup upaya menjaga nilai keluarga, persatuan, serta tata kelola antar-generasi.
Program pendidikan, keterlibatan dalam tata kelola, pendampingan penasihat, dan pengalaman langsung menjadi sejumlah cara yang digunakan untuk mempersiapkan generasi penerus.
Alexandre Monnier, Head of Family Office Advisory, Citi Wealth, mengatakan kompleksitas dunia saat ini membuat family office perlu terus memperkuat portofolio, operasional, dan tata kelolanya.
“Dengan memanfaatkan jaringan global dan kapabilitas mendalam Citi, kami bangga dapat bermitra dengan berbagai family office di seluruh dunia untuk membantu mereka mempersiapkan generasi mendatang serta melestarikan dan menumbuhkan kekayaan,” tegas dia.