Thrinaxodon menjadi sorotan karena dianggap dapat mengubah banyak hal dalam pemahaman kita terkait evolusi pendengaran mamalia dan kapan gendang telinga pertama kali muncul pada nenek moyang mamalia. Fosil ini diteliti oleh tim paleontolog dari University of Chicago yang dipimpin oleh mahasiswa Pascasarjana, Alec Wilken, bersama dengan Profesor Biologi dan Anatomi Organisme, Zhe-Xi Luo dan Callum Ross.
Thrinaxodon memiliki potensi besar dalam mengungkap misteri evolusi pendengaran mamalia. Yuk kita kenalan lebih dalam dengan fosil Thrinaxodon dikutip dari laman University of Chicago News:
Penemuan dan keunikan Fosil Thrinaxodon
Fosil Thrinaxodon merupakan kerangka cynodont pertama yang berhasil dibuktikan memiliki gendang telinga fungsional, yang berusia sekitar 250 juta tahun dan ditemukan serta disimpan di Museum of Paleontology, University of California, Berkeley. Penemuan ini sangat berharga karena menggambarkan makhluk dari periode Trias awal yang memiliki ciri-ciri transisi dari reptil ke mamalia, yang hidup jauh sebelum dinosaurus punah.Thrinaxodon juga adalah fosil pertama yang berhasil dibuktikan memiliki sistem pendengaran modern yang jauh lebih awal dari perkiraan, yang menunjukkan adanya evolusi pendengaran yang lebih cepat dari yang sebelumnya dipahami para ilmuwan. Lebih mengejutkan lagi, hasil simulasi teknologi modern menunjukkan makhluk ini sudah memiliki gendang telinga yang cukup besar untuk mendengar suara di udara secara efektif, hampir 50 juta tahun lebih awal dari yang sebelumnya diperkirakan para ilmuwan.
Penemuan Ini membuka kemungkinan baru dalam teori evolusi pendengaran mamalia, khususnya terkait dengan bagaimana nenek moyang mamalia awal berkembang. Temuan ini menjadi bukti pertama bahwa gendang telinga sudah ada jauh lebih awal dalam sejarah evolusi mamalia, yang sebelumnya dianggap muncul belakangan.
Hingga saat ini para ilmuwan memprediksi cynodont awal mendengar melalui konduksi tulang atau mendengar melalui rahang dengan meletakkan rahang mereka di tanah untuk menangkap getaran. Penelitian pada Thrinaxodon merupakan salah satu dari sedikit studi yang berhasil membuktikan keberadaan gendang telinga fungsional pada periode yang begitu awal.
Fosil Thrinaxodon berpotensi mengubah sejarah evolusi mamalia
Penelitian berjudul Biomechanics of the mandibular middle ear of the cynodont Thrinaxodon and the evolution of mammal hearing yang dipublikasikan di jurnal PNAS pada 8 Desember 2025 ini tidak hanya memberikan wawasan baru tentang pola evolusi pendengaran mamalia, tetapi juga bisa mengubah teori terkait kapan fitur-fitur kunci mamalia modern pertama kali muncul.Fosil ini menjadi petunjuk penting dalam memahami lebih dalam bagaimana salah satu langkah terpenting dalam evolusi mamalia yaitu perkembangan pendengaran yang sangat sensitif terjadi di wilayah temporal yang lebih awal, serta memperkaya pengetahuan kita tentang transisi dari reptil ke mamalia. Penemuan fosil Thrinaxodon adalah langkah penting dalam penelitian paleontologi dan memberikan kontribusi besar terhadap pemahaman kita tentang evolusi mamalia.
Fosil Thrinaxodon tidak hanya memperkaya pengetahuan ilmiah tentang sejarah kehidupan di Bumi, tetapi juga membuka jalan bagi penelitian lebih lanjut tentang anatomi dan fungsi pendengaran pada nenek moyang mamalia. Temuan ini memberi perspektif baru yang dapat mengubah teori-teori lama mengenai evolusi sistem pendengaran pada mamalia modern.
"Selama hampir seabad, para ilmuwan telah mencoba mencari tahu bagaimana hewan-hewan ini dapat mendengar. Gagasan-gagasan ini telah memikat imajinasi para paleontolog yang bekerja di bidang evolusi mamalia, tetapi hingga sekarang kita belum memiliki uji biomekanik yang sangat kuat," kata Wilken dikutip dari laman Uchicago News, Rabu, 7 Januari 2026.
Wilken dan timnya menggunakan teknologi pemindaian CT yang sangat canggih untuk membuat model 3D detail dari tengkorak dan tulang rahang Thrinaxodon. Model ini memberikan rekonstruksi yang sangat rinci dengan semua dimensi, bentuk, sudut, dan lekukan yang mereka butuhkan untuk menentukan bagaimana gendang telinga potensial dapat berfungsi.
Berikutnya, mereka menggunakan perangkat lunak bernama Strand7 untuk melakukan analisis elemen hingga, sebuah pendekatan yang biasanya digunakan untuk masalah rekayasa kompleks seperti memprediksi tekanan pada jembatan, pesawat terbang, dan bangunan. Tim menggunakan perangkat lunak tersebut untuk mensimulasikan bagaimana anatomi Thrinaxodon akan merespons tekanan dan frekuensi suara yang berbeda.
Hasil penelitian menunjukkan dengan sangat jelas Thrinaxodon, dengan gendang telinga yang tersembunyi di lekukan pada tulang rahangnya, mampu mendengar dengan jauh lebih efektif melalui mekanisme tersebut dibandingkan dengan konduksi tulang. Ukuran dan bentuk gendang telinganya akan menghasilkan getaran yang tepat untuk menggerakkan tulang-tulang telinga dan menghasilkan tekanan yang cukup untuk merangsang saraf pendengaran.
"Begitu kita memiliki model CT dari fosil tersebut, kita dapat mengambil sifat material dari hewan yang masih hidup dan membuatnya seolah-olah Thrinaxodon kita menjadi hidup,” kata Luo.
"Hal itu belum pernah mungkin dilakukan sebelumnya, dan simulasi perangkat lunak ini menunjukkan kepada kita bahwa getaran melalui suara pada dasarnya adalah cara hewan ini dapat mendengar," kata Luo.
Wilken mengatakan teknologi baru tersebut memungkinkan mereka untuk menjawab pertanyaan lama dengan mengubahnya menjadi masalah teknik. "Itulah mengapa ini adalah masalah yang sangat menarik untuk dipelajari. Kami mengambil masalah konsep tingkat tinggi yaitu bagaimana tulang telinga bergetar dalam fosil berusia 250 juta tahun dan menguji hipotesis sederhana menggunakan alat-alat canggih ini, dan ternyata di Thrinaxodon, gendang telinga berfungsi dengan baik tanpa perlu banyak bergerak," kata Wilken. (Bramcov Stivens Situmeang)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News