“Saat ini di Yogyakarta walaupun domba bukan makanan pokok, kebutuhan daging domba masih kekurangan sehingga memiliki peluang yang cukup tinggi,” jelas Dosen Fakultas Peternakan UGM, Panjono dalam Bincang Desa oleh Desa Apps UGM, dikutip dari laman UGM, Sabtu, 11 Desember 2021.
Proses budi daya terdiri dari tiga tahap, yaitu pembiakan yang menghasilkan cempe lepas sapih. Kemudian pembesaran, yaitu pemeliharaan cempe sekitar enam bulan, dan tahap akhir 6-8 bulan domba siap konsumsi sebelum bau khasnya muncul.
Panjono menjelaskan, bahwa kinerja dari budi daya domba komersial dapat diukur dari beberapa aspek, yaitu interval kelahiran, litter size, mortalitas prasapih, tingkat reproduksi, bobot sapih, dan produktivitas induk. Kemudian pada tahap penggemukan kinerja budi daya dapat diukur menggunakan aspek konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, konversi pakan, persentase karkas, dan kualitas daging.
“Agar kinerja budi daya baik yang pertama pemilihan bibit atau bakalan harus bagus, tata laksana pemeliharaan harus baik, dan adanya interaksi domba terhadap pola pemeliharaan,” terang Panjono.
Baca juga: Mahasiswa UGM Teliti Potensi Ubur-Ubur Sebagai Penghambat Kanker Payudara
Pemilik Sinatria Farm, Vita Krisnadewi sebagai pelaku bisnis ternak domba modern menjelaskan juga membenarkan, bahwa saat ini kebutuhan daging domba masih masih belum sepenuhnya terpenuhi.
Menurut Vita, pada dasarnya domba adalah peternakan rakyat yang mudah untuk dilakukan. "Yaitu dengan selalu memastikan sehat, selalu menjaga kebersihan, keamanan, dan kenyamanan kandang bagi ternak, dan pemberian pakan yang cukup baik dari segi kualitas dan kuantitasnya,” ungkap Vita.
Di Sinatria Farm, jelas Vita, saat ini menggunakan prinsip kandang sistem terkoleksi, yaitu memisahkan urine dan feses domba yang bertujuan untuk mengondisikan bau feses. Selain itu, aplikasi data terintegrasi juga digunakan untuk mempermudah pemantauan ternak.
“Dengan adanya sistem kandang terkoleksi kandang dan lingkungan menjadi nyaman dan bebas bau, mudah membersihkan dan pemanenan kohe, ternak lebih sehat dan memudahkan dalam pengamatan, serta dapat menjual pupuk setiap hari,” terang Vita.
Vita juga turut mengajak para pemuda untuk ikut berkontribusi ke dalam sektor peternakan, mengingat saat ini permintaan ternak naik dan baik. Namun tidak mampu direspons dengan suplai yang cukup oleh para peternak tradisional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News