Main ponsel. DOK Magnific
Main ponsel. DOK Magnific

Bukan Scrolling yang Rusak Otak, Tapi Duduk Kelamaan! Ini Kata Dosen UGM

Renatha Swasty • 17 Juli 2026 11:03
Ringkasnya gini..
  • Kebiasaan duduk terlalu lama saat bermain gawai menghambat aliran darah dan oksigen ke otak akibat pengaruh gaya gravitasi.
  • Batasi waktu duduk maksimal 1 jam, lalu selingi dengan berdiri atau peregangan ringan selama 2 menit agar sirkulasi kembali lancar.
  • Olahraga ritmis yang kontinu (seperti jalan cepat/jogging) selama 30-40 menit sangat optimal untuk menjaga fungsi otak.
Jakarta: Dosen Fisiologi FK-KKM Universitas Gadjah Mada (UGM), Zaenal Muttaqien Sofro, mengatakan tren olahraga di kalangan anak muda dapat menjadi penyeimbang terhadap gaya hidup minim gerak akibat kebiasaan scrolling media sosial yang berkepanjangan. Namun, manfaat olahraga bagi kesehatan otak tidak hanya ditentukan oleh intensitas aktivitas fisik, tetapi juga cara tubuh menjaga aliran darah dan oksigen menuju otak.
 
Zaenal mengatakan menurunnya fungsi otak bukan pada aktivitas scrolling. Melainkan kebiasaan duduk terlalu lama yang menyertainya. 
 
“Otak manusia membutuhkan sekitar 20 persen dari seluruh oksigen yang digunakan tubuh. Oleh karena itu, kata kunci pertama untuk menjaga kesehatan otak adalah oksigen,” ujar Zaenal dikutip dari laman ugm.ac.id, Jumat, 17 Juli 2026.

Ia menjelaskan manusia sebagai makhluk bipedal menghadapi tantangan gravitasi yang memengaruhi distribusi darah di dalam tubuh. Ketika seseorang berdiri tiba-tiba setelah berbaring, aliran darah menuju otak dapat berkurang hingga sekitar 60 persen. 
 
Sehingga, tubuh memerlukan waktu menyesuaikan diri. Ia menyarankan untuk tidak langsung berdiri setelah bangun tidur. Sebaliknya, mulai dengan berbaring miring selama sekitar 30 detik, dilanjutkan duduk sambil berdoa selama 30 detik, kemudian berdiri perlahan sambil melakukan gerakan jinjit sekitar delapan kali untuk membantu memompa darah kembali ke otak.
 
Zaenal mengatakan kebiasaan duduk dalam waktu lama menjadi ancaman serius bagi kesehatan otak. Posisi duduk terlalu lama menyebabkan darah lebih banyak berkumpul di bagian bawah tubuh akibat gravitasi sehingga suplai darah ke otak menjadi kurang optimal. 
 
“Masalah utamanya bukan semata-mata aktivitas scrolling, tetapi karena posisi duduk yang terlalu lama membuat darah lebih banyak berkumpul di bagian bawah tubuh akibat gravitasi,” jelas dia. 
 
Ia menyarankan masyarakat membatasi waktu duduk tidak lebih dari satu jam. Setelah itu, sebaiknya berdiri, berjalan, atau melakukan peregangan ringan selama sekitar dua menit sebelum kembali beraktivitas.
 
Dalam penelitiannya menggunakan orthostatic test, Ia menjelaskan kemampuan tubuh beradaptasi terhadap perubahan posisi sangat dipengaruhi oleh kondisi organ-organ tubuh di bawahnya. Terutama jantung, paru-paru, serta sistem sirkulasi darah. 
 
“Jika sistem dasar ini bekerja dengan baik, maka fungsi otak juga akan optimal. Sebaliknya, bila dasar ini terganggu, maka otak pun akan mengalami gangguan,” kata dia.
  Zaenal menyebut olahraga kini dipandang sebagai bagian dari terapi kesehatan melalui konsep Exercise is Medicine. Seperti halnya obat, olahraga juga harus memiliki jenis, dosis, intensitas, frekuensi, dan durasi yang tepat agar memberikan manfaat optimal. 
 
“Selain meningkatkan kebugaran, olahraga juga merangsang produksi hormon endorfin yang membantu meningkatkan suasana hati serta mengurangi rasa nyeri,” jelas dia.
 
Namun, dia mengingatkan tidak semua jenis olahraga memiliki karakteristik yang sama dalam menjaga kesehatan otak. Olahraga kompetitif seperti futsal, tenis, atau bulu tangkis memiliki pola gerak berubah-ubah sehingga memerlukan kesiapan fisik yang baik. 
 
Ia mencontohkan masih banyak kasus kematian mendadak yang terjadi saat berolahraga akibat ketidakseimbangan kerja sistem tubuh, terutama ketika seseorang berolahraga setelah makan. 
 
“Apabila pusat yang mengatur sistem pencernaan terlalu dominan, misalnya karena seseorang berolahraga setelah makan, maka jantung bisa menjadi tidak optimal sehingga meningkatkan risiko gangguan jantung bahkan kematian mendadak,” jelas dia. 
 
Ia mengingatkan masyarakat untuk menghindari olahraga berat sesaat setelah makan, termasuk aktivitas seperti berenang yang berisiko menimbulkan kram maupun gangguan jantung apabila dilakukan pada waktu yang tidak tepat.
 
Zaenal mengatakan terdapat tiga prinsip utama yang perlu diperhatikan agar olahraga benar-benar memberikan manfaat bagi kesehatan otak dan tubuh. Pertama, olahraga harus melibatkan kelompok otot-otot besar, seperti tungkai dan lengan. 
 
Kedua, gerakannya bersifat ritmis, misalnya berjalan cepat, jogging, atau bersepeda dengan irama stabil. Ketiga, aktivitas dilakukan secara kontinu selama sekitar 30-40 menit tanpa sering berhenti atau mengalami perubahan intensitas yang drastis. 
 
“Dengan cara seperti itulah olahraga dapat meningkatkan kebugaran tubuh sekaligus membantu menjaga fungsi otak tetap optimal," ujar dia. 
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan