Stres kerja. DOK Freepik
Stres kerja. DOK Freepik

Bukan Soal Lemah Mental, Ini Penjelasan Ilmiah Mengapa Burnout Bisa Merusak Otak

Bramcov Stivens Situmeang • 03 Maret 2026 13:52
Ringkasnya gini..
  • Burnout hanya berlaku dalam konteks pekerjaan dan tidak digunakan untuk menggambarkan kondisi di luar lingkup tersebut.
  • Semakin lama kondisi ini dibiarkan, semakin dalam pula dampaknya pada kemampuan fokus, penilaian, dan kendali emosi.
  • Budaya tempat kerja memainkan peran yang lebih besar sebagai penyebab burnout.
Jakarta: Pernahkah Sobat Medcom merasa sangat kelelahan bekerja hingga sulit berkonsentrasi, kehilangan semangat, dan merasa tidak lagi efektif dalam pekerjaan? Ternyata, ada penjelasan ilmiah di baliknya yang berkaitan langsung dengan kesehatan otak lho.
 
Fenomena ini dikenal luas dengan istilah burnout dan dampaknya jauh lebih serius dari sekadar rasa lelah biasa. Sebelum membahas lebih jauh soal dampaknya pada otak, yuk kenalan dulu dengan apa itu burnout dan bagaimana para ahli mendefinisikannya.

Apa itu burnout?

Melansir laman resmi World Health Organization (WHO), burnout masuk dalam Klasifikasi Penyakit Internasional edisi ke-11 (ICD-11) sebagai fenomena yang berkaitan dengan dunia kerja, bukan sebagai kondisi medis. WHO mendefinisikannya sebagai sindrom yang muncul akibat stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola dengan baik.
 
Kondisi ini ditandai oleh tiga hal utama, yaitu rasa kelelahan atau terkurasnya energi, munculnya jarak mental terhadap pekerjaan disertai sikap sinis atau negatif, serta menurunnya efektivitas profesional. WHO juga menegaskan burnout hanya berlaku dalam konteks pekerjaan dan tidak digunakan untuk menggambarkan kondisi di luar lingkup tersebut.

Setelah memahami apa itu burnout, kini saatnya masuk ke pertanyaan yang lebih dalam: apa yang sebenarnya terjadi di dalam otak ketika seseorang mengalaminya?

Apa yang terjadi di otak saat burnout?

Sebenarnya burnout bukanlah cerminan kelemahan karakter seseorang. Kondisi ini lebih tepat dipahami sebagai persoalan budaya kerja yang berdampak langsung pada fungsi otak.
 
Survei yang dirilis Yahoo Finance pada 2025 menunjukkan 55 persen pekerja di Amerika Serikat mengaku sedang mengalami burnout. Kondisi tersebut turut berdampak pada penurunan performa dan energi mereka di tempat kerja.
 
Ahli Neurologi sekaligus kepala bidang kesejahteraan di MD Anderson Cancer Center, Universitas Texas, Jennifer Bickel, MD, menegaskan stres kronis menghasilkan perubahan nyata dalam otak manusia. Perubahan itu bukan sesuatu yang bersifat psikologis semata, melainkan merupakan respons biologis yang dapat dibuktikan secara ilmiah.
 
Bickel menuturkan bagian otak yang bertanggung jawab atas empati, kemampuan berpikir tingkat tinggi, dan memori turut terdampak oleh tekanan berkepanjangan. Akibatnya, karyawan yang mengalami burnout cenderung lebih lambat dalam mengambil keputusan, berkurang kreativitasnya, dan kesulitan mengelola emosi.
 
“Stres kronis benar-benar menyebabkan perubahan nyata pada otak kita. Ini bukan soal kurangnya ketangguhan, melainkan perubahan biologis yang sesungguhnya,” ujar Bickel dikutip dari laman Forbes, Selasa, 3 Maret 2026.
 
Bickel juga menyoroti penyebab burnout kerap disalahpahami. Banyak orang mengira beban kerja yang tinggi adalah biang keladinya, padahal budaya tempat kerja justru memainkan peran yang lebih besar.
 
Konflik antarpersonal, suasana penuh ketakutan, dan lingkungan yang sarat penghakiman perlahan menguras energi emosional seseorang, bahkan ketika volume pekerjaan masih dalam batas wajar. Semakin lama kondisi ini dibiarkan, semakin dalam pula dampaknya pada kemampuan fokus, penilaian, dan kendali emosi.
 
Temuan di atas semakin diperkuat oleh riset akademis. Dalam penelitian berjudul Chronic Stress-Induced Neuroplasticity in the Prefrontal Cortex: Structural, Functional, and Molecular Mechanisms from Development to Aging yang diterbitkan di jurnal Brain Research pada 15 Maret 2025, peneliti mengungkap stres kronis berdampak signifikan terhadap struktur dan fungsi Prefrontal Cortex (PFC) yakni bagian otak yang mengendalikan fungsi eksekutif dan regulasi emosi.
 
Penelitian yang dipublikasikan di laman PubMed, National Library of Medicine, Amerika Serikat itu menemukan tekanan berkepanjangan menyebabkan penyusutan cabang sel saraf, berkurangnya konektivitas di PFC, serta perubahan yang terkait dengan pengambilan keputusan yang lebih buruk dan penurunan fleksibilitas kognitif. Perubahan struktural ini turut disertai gangguan pada sistem neurotransmiter, terutama sinyal glutamatergik dan GABAergic, yang berdampak pada mekanisme plastisitas otak.
 
Secara perilaku, perubahan tersebut berwujud pada menurunnya kemampuan memori kerja, pengambilan keputusan, dan regulasi emosi yang semuanya berkontribusi pada munculnya gangguan psikiatri akibat stres. “Otak adalah sebuah sumber daya. Bayangkan ia seperti mesin vital dalam industri kamu," jelas Bickel.
 
Menurut Bickel, organisasi tidak akan membiarkan mesin andalan mereka beroperasi hanya dengan setengah kapasitas akibat kurangnya perawatan. Situasi semacam itu tentu tidak dapat diterima. Itulah penjelasan ilmiah mengapa burnout bisa merusak otak. Semoga bermanfaat ya!
 

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan