Tari Lengger Lanang. Dok UGM.
Tari Lengger Lanang. Dok UGM.

Hasil Penelitian Mahasiswa UGM Tentang Tari Lengger Lanang

Arga sumantri • 19 Agustus 2021 10:35

Ia mengungkapkan bahwa dalam upaya mempertahankan eksistensinya di tengah modernisasi masyarakat, Tari Lengger Lanang telah melakukan beberapa adaptasi pelaksanaan teknis kesenian. Misalnya dengan penambahan alat musik organ tunggal sebagai bentuk penyesuaian minat masyarakat modern.
 
Disamping itu, sebagian besar institusi maupun pelaku Tari Lengger Lanang Banyumas saat ini juga telah menggunakan atau memanfaatkan digitalisasi untuk memublikasikan kegiatan tari mereka.
 
Doni Andika Pradana menambahkan tim peneliti mahasiswa UGM juga berupaya menelisik nilai-nilai filosofis Tari Lengger Lanang pada konsep cross-gender, kostum penari, lagu-lagu pengiring, dan juga gerakan. Menurutnya, secara garis besar konsep nilai filosofis yang ada pada Tari Lengger yaitu nilai kesetaraan dan keseimbangan, nilai keterbukaan dan fleksibilitas, nilai ketuhanan, serta nilai kebersamaan (sosial).

Danu Saifulloh Rahmadani menambahkan tim juga berupaya merelevansikan nilai-nilai tersebut dalam konteks ketidaksetaraan gender di Indonesia. Data Global Gender Gap Index 2020 yang dirilis World Economic Forum bahwa pada tahun 2020 Indonesia masih ada pada peringkat 85 dari 153 negara dengan skor 0,70 terkait kesetaraan gender, jauh dari negara Asia Tenggara lainnya, seperti Filipina di urutan 16, Laos di urutan 43, Singapura di urutan 54, dan Thailand di urutan 75.
 
Baca: UGM Buka Layanan Konsultasi Psikolog Gratis
 
Oleh karenanya, tim berusaha merelevansikan nilai-nilai Tari Lengger Lanang atas isu ketidaksetaraan gender di Indonesia karena isu ini sangat penting bagi pembangunan Indonesia. Misalnya nilai keseimbangan dapat direlevansikan pada bagaimana seharusnya manusia memahami keseimbangan tubuh baik laki-laki maupun perempuan yang terdiri atas maskulinitas dan femininitas. 
 
Atas dasar ini, manusia pada dasarnya tidak boleh secara kaku didasarkan oleh sekat-sekat gender yang justru terkadang merugikan salah satu pihak dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
 
Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) UGM pun berharap masyarakat Indonesia secara umum mampu mangapresiasi dan tentunya menginternalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, Terutama, dalam konteks ketidaksetaraan gender di Indonesia. 
 
"Kami juga berharap kepada pemerintah untuk selalu mendukung dan membuat kebijakan strategis dalam upaya mempertahankan Tari Lengger Lanang ini," papar Danu.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(AGA)
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan