Tari Lengger Lanang. Dok UGM.
Tari Lengger Lanang. Dok UGM.

Hasil Penelitian Mahasiswa UGM Tentang Tari Lengger Lanang

Arga sumantri • 19 Agustus 2021 10:35
Yogyakarta: Tari Lengger Lanang Banyumas merupakan salah satu bentuk kebudayaan lintas gender (cross-gender) di Indonesia. Tarian ini dikategorikan sebagai lintas gender karena pelakunya yaitu laki-laki yang berpenampilan seperti perempuan. 
 
Tarian ini secara etimologi tersusun dari dua kata yaitu leng dan jengger yang memiliki arti disangka perempuan ternyata seorang laki-laki. Tari Lengger adalah kesenian rakyat yang hadir dan berkembang sejak lama dalam masyarakat agraris Banyumas. 
 
Dahulunya, Tari Lengger Lanang dianggap memiliki unsur magis-religius yang pada mulanya dipentaskan sebagai bentuk syukur masyarakat dalam sebuah upacara setelah panen raya. Meski begitu, Tarian Lengger saat ini seringkali distigma buruk oleh masyarakat dan dianggap menyebarkan nilai-nilai LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) di Indonesia.

Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam tim Riset Sosial Humaniora (RSH) beranggotakan Moch Zihad Islami (Filsafat 2018), Bety Oktaviani (Antropologi 2017), Doni Andika Pradana, Danu Saifulloh Rahmadani (Filsafat 2020) dan Wahida Okta Khoirunnisa (Filsafat 2020) meneliti tarian ini. Mereka merasa penasaran terhadap fenomena Tari Lengger ini dan melakukan penelitian selama tiga bulan dengan judul 'Eksplorasi Nilai-Nilai Filosofis Tari Lengger Lanang Banyumas dalam Upaya Pemertahanan Kebudayaan Cross-gender di Indonesia.'
 
Moch Zihad Islami menyatakan, pandangan buruk mengenai Tari Lengger Lanang sebagai kebudayaan cross-gender ini senyatanya mengakibatkan bias gender dalam kesenian. Padahal, kesenian sebagai salah satu unsur kebudayaan senantiasa hadir dalam bentuk simbol-simbol yang secara estetis mengungkapkan nilai-nilai filosofis yang ada pada masyarakat tertentu. 
 
"Atas dasar itu kami ingin menggali nilai-nilai filosofis yang ada pada Tari Lengger Lanang," ujar Zihad, mengutip siaran pers UGM, Kamis, 19 Agustus 2021.
 
Baca: Mahasiswa UB Buat Lavoisier, Aplikasi Virtual Laboratorium Kimia Dasar
 
Ia menjelaskan rasa penasaran terhadap Tari Lengger ini dijawab dengan melakukan penelitian dengan menggunakan perspektif interdisipliner Ilmu Filsafat dan Antropologi. Dari perspektif Ilmu Filsafat, penelitian berupaya menggali nilai-nilai sedangkan dari sudut pandang Antropologi maka penelitian berusaha mengungkap dinamika yang dialami oleh pelaku dan institusi Tari Lengger Lanang Banyumas dalam mempertahankan eksistensinya di tengah perubahan masyarakat Indonesia.
 
"Para penari Lengger terkadang didiskriminasi oleh sebagian masyarakat karena dianggap menyalahi kodrat yaitu laki-laki berdandan seperti perempuan," paparnya.
 
Sementara, Bety Oktaviani mengatakan dari beberapa hasil wawancara yang dilakukan menemukan bahwa ada keluarga para penari Lengger yang sesungguhnya tidak mendukung sehingga tidak mengherankan bila Tari Lengger Lanang saat ini sangat sedikit yang melakukan.
 
"Berdasarkan hasil wawancara dengan perwakilan Dinas Kebudayaan Kabupaten Banyumas, jumlah seniman Lengger Lanang saat ini hanya tersisa sekitar 12 penari," ucap Bety.
 
 
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan