"Candi Borobudur adalah salah satu tempat wisata yang terdampak akibat pandemi yang mengakibatkan tempat wisata tersebut ditutup sejak pertengahan Maret lalu. Padahal, tempat wisata ini setiap tahunnya diperkirakan didatangi tak kurang dari 4,6 juta wisatawan," terang Faisal dalam keterangan tertulis, Rabu, 7 Oktober 2020.
Faisal beserta Saddam berusaha memberikan skema dan paradigma baru dalam mengelola sektor wisata Candi Borobudur di tengah pandemi. Beberapa skema yang ditawarkan adalah penerapan kebijakan pembatasan kuota dan perubahan harga tiket masuk, pengembangan zona wisata, dan pengembangan wisata virtual (Borobudur Virtual Tourism). Selain itu, kebijakan Tourism Pledge, pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) melalui online market, serta pengembangan objek wisata penyangga.
Baca: Berbisnis Yogurt, Alumnus IPB Hasilkan Omzet Rp100 Juta per Bulan
"Penerapan kebijakan kuota akan menurunkan jumlah kunjungan, sehingga memerlukan kebijakan harga untuk mempertahankan penerimaan wisata. Kebijakan harga dapat mengacu pada integrated tourism master plan Borobudur-Yogyakarta-Prambanan (ITMP-BYP)," jelas Faisal.
Guna menjaga minat konsumen, lanjut Faisal, kenaikan harga tiket wisatawan domestik harus diselaraskan dengan pengembangan pariwisata Candi Borobudur. Pengembangan yang dapat diterapkan yaitu pengembangan sarana dan prasarana kesenaian, pusat dan studi informasi, program Cleanliness, Health, and Safety (CHS), dan program penghijauan.
Sementara, pengembangan Borobudur Virtual Tourism adalah penambahan beberapa fitur pada website borobudurvirtual.id, seperti sistem pemesanan tiket melalui website, informasi kuota pengunjung, pertunjukan seni, percakapan langsung dengan masyarakat lokal, video drivetour, dan kontes kreatif untuk umum. Pengembangan tersebut diharapkan selaras dengan konsep restrukturisasi ekonomi wisata pada Candi Borobudur.
Terkait penerapan protokol pencegahan penularan covid-19, kebijakan Tourism Pledge dirancang untuk menjaga aspek lingkungan dan sosial budaya. Kebijakan ini berfungsi menegakkan protokol kesehatan dalam mengurangi penularan covid-19.
Upaya pengembangan UMKM berupa Borobudur online market berbentuk layanan online yang terdiri dari pendataan kredit usaha rakyat (KUR) secara daring dan pelatihan pemasaran produk secara daring melalui Borobudur Store. Selain itu, produk terkait pelatihan kesenian dan bahasa Jawa juga dihadirkan dalam program ini.
"Objek wisata penyangga juga perlu dikembangkan dalam menyukseskan skema pembatasan kuota pengunjung di Candi Borobudur agar kunjungan ke beberapa tempat wisata lain di sekitar Candi Borobudur dapat merata. Ini diharapkan dapat menciptakan pariwisata yang berbasis CHS, meningkatkan pertumbuhan ekonomi lokal, dan menjaga kelestarian wisata," tambah Faisal.
Ia juga menyebut, upaya pengembangan objek wisata penyangga juga dapat dilakukan dengan pengembangan desa wisata, pengembangan objek wisata penyangga, dan penyebaran pengunjung. Selain itu, pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengelola desa wisata juga merupakan aspek yang perlu dikembangkan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News