ilustrasi kuliah. Dok Medcom
ilustrasi kuliah. Dok Medcom

Aturan Baru Beasiswa PDDI 2026, Dosen Wajib Ikut Tes Bakat Skolastik

Ilham Pratama Putra • 19 Juni 2026 16:04
Ringkasnya gini..
  • Seleksi Beasiswa PDDI 2026 kini mewajibkan Tes Bakat Skolastik.
  • TBS digunakan untuk mengukur potensi akademik dan kemampuan kognitif.
  • Dosen penerima beasiswa tetap bisa menerima tunjangan sertifikasi dosen.
Jakarta: Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menambahkan Tes Bakat Skolastik (TBS) dalam tahapan seleksi Beasiswa Program Doktor untuk Dosen Indonesia (PDDI) 2026. Kebijakan tersebut merupakan aturan baru dalam proses seleksi PPDI. 
 
"Jadi adanya TBS ini menjadi pembeda dari pelaksanaan program pada tahun sebelumnya," kata Plt Kepala Pusat Pembiayaan dan Asesmen Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek, Sandro Mihradi dalam webinar di Youtube Kemendiktisaintek, Jumat 19 Juni 2026.
 
Sandro menjelaskan TBS digunakan untuk mengukur kemampuan akademik dasar calon penerima beasiswa. Karena itu tes tersebut menjadi salah satu kewajiban yang mesti dijalankan peserta. 

"Tes Bakat Skolastik dilaksanakan untuk lebih jelas mengukur potensi akademik, kognitif, dan kemampuan memecahkan masalah," kata Sandro.
 
Baca juga: 
 

Tes tersebut akan diikuti oleh pendaftar mahasiswa baru yang mengajukan beasiswa PDDI tahun 2026. Selain TBS, proses seleksi tetap mencakup tahapan wawancara yang wajib diikuti peserta.
 
Pemerintah menilai penguatan mekanisme seleksi penting untuk memastikan penerima beasiswa memiliki kapasitas akademik yang memadai. Sehingga mahasiswa yang meraih beasiswa nantinya dapat menyelesaikan studi doktor tepat waktu dan menghasilkan riset berkualitas.
 
Program PDDI 2026 sendiri terbuka bagi dosen PTN maupun PTS yang berada di bawah Kemendiktisaintek. Melalui skema ini, pemerintah berharap dapat meningkatkan jumlah doktor di lingkungan perguruan tinggi sekaligus memperkuat mutu pendidikan tinggi nasional.
 
Di samping itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, dosen yang mengambil program ini tetap dapat menerima tunjangan sertifikasi dosen. Dengan begitu  diharapkan dosen lebih banyak mengambil kesempatan studi lanjut tanpa khawatir kehilangan penghasilan.
 
"Dosen sambil berkuliah itu tetap bisa melaksanakan Tri Dharma, sehingga hal-hal yang sifatnya pendapatan dari Serdos dan dari lainnya itu tetap bisa diberikan," kata Brian dalam sosialisasi Beasiswa PDDI 2026, Jumat 19 Juni 2026.
 
Menurut dia, dosen merupakan aset utama pendidikan tinggi. Karena itu, pemerintah ingin memastikan para dosen dapat meningkatkan kualifikasi akademiknya tanpa harus meninggalkan peran sebagai pendidik.
 
Brian menilai saat ini fasilitas pendidikan doktor di berbagai perguruan tinggi dalam negeri semakin baik. Hal tersebut menjadi peluang bagi dosen untuk meningkatkan kompetensi dan kapasitas riset.
 
Ia mengakui salah satu tantangan terbesar dosen yang menempuh studi doktor adalah membagi waktu antara perkuliahan dan tugas mengajar. Karena itu, ia meminta para penerima beasiswa fokus menyelesaikan studi tepat waktu.
 
"Saya mendorong silakan mendaftarkan diri untuk mendapatkan beasiswa ini, ikuti kuliah dengan baik, lakukan penelitian dengan maksimal sehingga bisa meraih gelar doktor pada waktu yang cepat," ujar Brian.
 
Baca juga: Beasiswa Pra-Doktoral 2026 Dibuka, Jembatan Dosen di Daerah Tertinggal Raih Gelar Doktor S3

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA